RADARBEKASI.ID, BEKASI – Suara deru mesin alat berat di proyek Tol Jakarta-Cikampek (Japek) II Selatan mungkin terdengar sebagai tanda kemajuan bagi sebagian orang. Namun, bagi Yuli (39) dan ratusan wali murid SDN 03 Ciledug, suara itu justru menjadi awal dari perjalanan panjang nan melelahkan yang harus mereka tempuh setiap hari.
Sejak gedung SDN 03 Ciledug ditutup total akibat pembangunan jalan tol, aktivitas belajar mengajar dipindahkan sementara ke SMPN 5 Setu. Perpindahan ini menyisakan beban berat, terutama bagi wali murid yang tak memiliki kendaraan pribadi.
Setiap Senin hingga Sabtu sejak pukul 11.15 WIB, Yuli sudah bersiap di rumahnya yang dekat Alun-alun Eduforest Setu, Desa Tamansari. Dengan payung di tangan dan langkah kaki yang dipaksakan cepat, ia memulai perjalanan sejauh 2,8 kilometer (km) demi mengantar buah hatinya yang duduk di kelas 1 SD.
“Saya jalan kaki dari rumah jam 11 lewat, sampai sekolah jam 12-an. Supaya cepat, saya lewat makam untuk memotong jalan,” ucap Yuli.
Pilihan untuk pulang setelah mengantar menjadi kemewahan yang tak mampu ia beli. Jarak yang jauh dan waktu tempuh hampir 45 menit membuat ia memilih tetap menunggu di sekolah hingga bel pulang berbunyi.
“Kalau pulang lagi nanti bolak-balik capek. Sekali jalan saja sudah 30 menit lebih. Jadi ya saya nunggu di sekolah sampai anak pulang jam setengah 3 sore,” tambahnya.
Kondisi cuaca menjadi musuh utama Yuli. Tanpa motor atau uang lebih untuk memesan ojek, hujan berarti anaknya harus absen. Menurut Yuli, bagi sebagian wali murid yang mampu, ojek menjadi solusi, meski harus merogoh kocek Rp15 ribu per perjalanan atau Rp350 ribu jika berlangganan bulanan.
“Kalau hujan, anak saya nggak masuk sekolah, terpaksa izin ke gurunya. Karena nggak ada kendaraan, cuma punya payung satu-satunya,” terang Yuli.
Sementara itu, Ika (34), wali murid kelas 1 lainnya, menceritakan sesaknya ruang belajar anak-anak mereka. Di SMPN 5, tiga ruang kelas harus disekat-sekat untuk menampung murid SD yang membeludak. Kondisi di sekolah tumpangan disebut jauh dari kata ideal
“Satu kelas itu ada 27 anak, tapi karena digabung pakai sekat, satu ruangan besar bisa sampai 50 anak lebih. Satu meja harus dipakai buat tiga orang anak,” ungkap Ika.
Ika yang beruntung masih memiliki sepeda motor, tetap memilih menunggu di sekolah karena enggan menempuh jarak jauh jika harus pulang-pergi.
“Kita sebagai orangtua nggak mau lama-lama di SMPN 5 ini karena jauh. Dulu waktu masih di gedung lama SDN 03 Ciledug, jalan kaki cuma lima menit sudah sampai,” kenang Ika
Di sisi lain, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asda I) Sekretariat Daerah Kabupaten Bekasi, Hudaya, mengklaim proses belajar mengajar para siswa berjalan normal. Ia menyebut penetapan lokasi pengganti SDN 03 Ciledug masih dalam tahap penilaian, meski gedung lama sudah ditutup resmi.
“Saat ini kegiatan belajar mengajar berjalan normal. Pagi hari dipakai SMP, siangnya sampai sore dipakai SD. Jadi tidak ada penumpukan siswa, dan jumlah peserta didik per kelas tetap sesuai ketentuan katanya,” tandasnya. (ris)











