RADARBEKASI.ID, BEKASI – Berbagai asumsi muncul usai Kongres Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) ke-VII yang berlangsung di Jakarta pada 8–10 Februari 2026. Dinamika kongres itu bahkan dikaitkan dengan kemungkinan berdampak pada basis massa Partai Buruh.
Kegiatan kongres yang sempat diwarnai ketegangan antara dua kubu disebut-sebut berpotensi memicu perpecahan di Partai Buruh.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Exco Partai Buruh Jawa Barat, Suparno, memastikan tudingan itu tidak benar. Ia menilai apa yang terjadi di kongres hanyalah emosi sesaat dan tidak sampai berimplikasi pada partai.
“Saya rasa enggak, semua sudah dewasa. Tapi dalam hal orang berpikir, pasti lama-lama berpikir tentang tujuan utama kesejahteraan kaum buruh. Biasa kalau orang emosi sesaat enggak masalah toh. Kenapa saya katakan begitu, karena dari kongres ke kongres situasinya begitu, kecuali di 2021 (Covid-19). Ya, kita lihat saja nanti,” ungkapnya.
Ia menegaskan, dirinya akan tetap menahkodai Partai Buruh Jawa Barat sampai partai dipastikan lolos sebagai peserta Pemilu 2029.
“Saya masih Ketua Exco Jawa Barat, sampai nanti kelolosan partai. Kalau partai sudah lolos, bisa ikut pemilu lagi 2029, baru saya lakukan regenerasi. Artinya saya meninggalkan Jawa Barat itu dalam kondisi tidak kusut,” tuturnya.
Diketahui, dalam Kongres FSPMI 2026 terdapat dua nama yang memperebutkan kursi Ketua Umum FSPMI, yakni Suparno, Ketua DPD FSPMI Jawa Barat, dan Abdul Bais, Ketua Umum PUK PT Epson.
Suparno akhirnya terpilih sebagai Presiden FSPMI periode 2026–2031 setelah memperoleh dukungan suara terbanyak dari enam Serikat Pekerja Anggota (SPA), yakni SPAMK, SPDT, SPAI, SPPK, SPJM, dan SPL.
Perbedaan dukungan, termasuk dugaan intervensi pengurus Partai Buruh, ditengarai menjadi pemicu polemik yang memunculkan isu dualisme kepemimpinan. (pra)











