Berita Bekasi Nomor Satu

Tarim Tanah

 

Oleh: Dahlan Iskan

“Dari mana Anda tahu saya sedang di Tarim?”

“Hari itu Bapak sarapan di warung Indonesia di depan kampus kami. Dua orang mahasiswa melihat Bapak,” ujar Fikri Syafi’i, ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tarim.

“Saya memang bertemu dua orang mahasiswa Indonesia. Yang satu berambut agak panjang”.

“Yang satunya yang bintang film,” ujar Fikri. “Pemeran utama di film Kiansantang,” tambahnya.

“Ngerti gitu saya minta untuk  foto bareng,” kata saya.

Saya memang sempat berkenalan dengan si bintang film. Tapi hanya menyebut nama dan asalnya. Ia mengenakan topi haji, surban, dan sarung. Penampilannya sangat sopan, wajah menunduk, dan tangan menyatu di depan burungnya. Khas santri tawaduk.

Saya duduk makan di sebelahnya. Ia asyik dengan pesanannya: roti tipis lebar yang bundar itu. Saya pesan telur dadar, nasi putih, tempe goreng, dan sambal.

Saya sempat minta izin mencuil rotinya dan merasakannya. Ia menawarkan untuk saya ambil semua. “Saya hanya ingin merasakan. Siapa tahu lain kali ingin pesan ini,” kata saya.

Ternyata itu tadi Alwi Assegaf, si bintang film Kiansantang.

Kami pun berlalu. Ia pamit dulu meninggalkan warung. Saya lihat ia naik sepeda motor gaya lama, model mirip CB-125 tapi mereknya tidak saya kenal. Bukan Honda. Di Tarim motor model lama seperti itu yang menguasai pasar. Tidak ada yang kinclong. Semuanya berselimut debu.

Saya juga segera masuk mobil berlapis debu. Tidak akan ada bisnis cuci mobil di Tarim. Debu dianggap bagian dari kehidupan.

Di hari kedua di Tarim ini pun saya berpikir: entah sudah berapa banyak debu di tenggorokan dan paru-paru saya.

Setelah sarapan itu saya langsung ziarah. Ziarah pertama saya: ke tempat pembuatan bata tanah. Saya terkesan dengan bangunan rumah dan gedung di Tarim: tembok dan atapnya umumnya dari tanah. Tidak perlu ada program gentengisasi di Tarim. Tidak ada rumah beratap seng.

Sumber daya alam terbanyak di Tarim memang tanah. Gunung-gunungnya gunung tanah. Batunya pun bercampur tanah. Jalan-jalan dalam kotanya sebagian besarnya masih tanah. Ada memang sisa-sisa aspalnya tapi sudah banyak yang hancur tertutup debu.

Debu kering.

Setiap ada mobil dan motor lewat debu beterbangan seperti sarung yang dikebaskan. Debu itu selalu kering dan lembut. Hujan hanya turun lima enam kali setahun.

Ups… ke tempat pembuatan bata tanah itu ziarah kedua saya. Di hari pertama saya sudah ke pondok Darul Mustofa. Pondok paling terkenal di Tarim. Sebenarnya bukan ziarah ke sana. Apartemen yang saya tempati memang di sebelahnya. Hanya dipisahkan perempatan berdebu.

Saya tiba di Tarim hari Jumat. Pesawat Yemeni jurusan Jeddah-Aden itu ternyata tidak mendarat di kota Aden. Mendaratnya di kota Saiyun –kota kecil yang jaraknya hampir 1000 km dari Aden. Bandara Aden memang tutup untuk penerbangan internasional. Yakni sejak terjadinya perang di Yaman.

Padahal di tiket tertulis jurusan Aden. Di layar keberangkatan di bandara Jeddah juga tertulis penerbangan ke Aden. Ternyata mendarat di Saiyun.

Berarti, dari bandara Saiyun tinggal 40 menit ke kota santri Tarim. Saya tidak peduli pesawat itu mendarat di mana. Pokoknya mendarat di Yaman. Saya belum pernah ke Yaman. Ingin ke Yaman. Mumpung sedang di Makkah bersama istri dan rombongan.

Bahwa mendarat di Saiyun tetap saja alhamdulillah. Baru pertama ini saya mendengar nama Saiyun. Saat mendarat itu. Berarti saya bisa ke Tarim. Kalau saja pesawat itu mendarat di Aden beneran mungkin saya tidak akan sampai Tarim. Terlalu jauh dari Aden.

Nama Tarim sudah sering Anda dengar. Terlalu banyak mahasiswa Indonesia –dari kalangan Islam tradisional– yang sekolah di Tarim.

Nama Tarim kian melambung dua tahun terakhir. Yakni sejak terjadi perdabatan seru soal ”habib itu keturunan Nabi Muhammad atau bukan”.

Tarim adalah pusatnya habib sedunia. Istilah habib sendiri lahir di kota Tarim. Di Arab Saudi tidak dikenal gelar habib. Pun di negara Arab lainnya.

Di Arab Saudi keturunan Nabi biasa dipanggil dengan sebutan sayyid.

Pukul 08.00 saya sudah mendarat di bandara Saiyun. Hanya dua jam penerbangan dari Jeddah. Langsung ke Tarim. Hanya 35 menit perjalanan.

Sebelum pesawat mendarat saya melongok dari kaca jendela: indah sekali. Pemandangan di bawah sana spektakuler. Seperti hamparan tanah rata yang luas. Tanpa tanaman maupun gundukan. Tapi hamparan itu seperti diiris-iris tidak lurus. Seperti banyak retakannya. Retakan yang dalam.

Retakannya itu ada yang sempit ada yang lebar. Kian pesawat turun kian jelas: di dalam retakan itu ada pohon-pohon hijaunya. Lalu ada seperti sungainya tapi tanpa air.

Setelah beberapa hari di Tarim saya tahu: semua kota kecil di kawasan Hadramaut lokasinya di dasar retakan-retakan gunung tanah itu.

Maka retakan-retakan itu pada awalnya adalah tanah gunung yang tergerus oleh air hujan, lalu membentuk sungai yang dalam. Di kanan-kiri sungai yang tak berair itulah orang-orang Hadramaut membangun kehidupan.

Meski sungainya tidak berair tapi karena letaknya jauh di bawah tebing gunung sehingga tanahnya mengandung banyak air. Air melimpah. Di mana ada air di situ ada kehidupan.

Maka kehidupan terbanyak di Hadramaut adalah di celah-celah gunung tanah itu. Disebut ”wadi”.

Di Saudi Arabia ”wadi” biasanya di cekungan gunung. Di Hadramaut ”wadi” berada di sepanjang celah gunung.

Wadi itu bisa memanjang panjang sekali. Mengikuti aliran sungai di kala ada hujan.

Kelak, di hari keempat di Hadramaut saya berkesempatan memasuki celah-celah gunung yang dalam seperti itu. Tidak hanya memasuki tapi juga menyusurinya. Berpuluh kilometer. Melewati kampung-kampung di sepanjang sungai di celah gunung yang dalam.

Dalam menyelusuran itu saya sering mendongak ke atas, ke daratan yang di atas sana. Lalu  menyadari bahwa saat itu saya sedang di dalam celah rekahan gunung tanah.

Tiba di Tarim sebenarnya saya sudah lapar. Tapi itu hari Jumat. Sebentar lagi saatnya tiba: harus salat Jumat. Lalu akan ada makan gratis di rumah ulama terbesar di Tarim: di rumah Habib Umar.

Letak rumah Habib Umar hanya beberapa langkah dari pondok Darul Mustofa. Beliau yang mendirikan Darul Mustofa.

Berarti itulah ziarah pertama saya di Tarim: ke rumah Habib Umar. Tidak perlu ada anggaran makan siang hari itu.

Berarti ke tempat pembuatan bata tanah tadi adalah ziarah kedua saya di Tarim.(Dahlan Iskan)