RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Warga Kampung Lebak RT 07 RW 02, Kelurahan Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, mulai membersihkan sisa lumpur setelah rumah mereka terendam banjir setinggi sekitar 1,5 meter pada Kamis (12/2). Banjir terjadi menyusul naiknya Tinggi Muka Air (TMA) di sejumlah titik pantau sungai di wilayah Kota Bekasi pada Rabu (11/2) malam dan mulai surut sekitar pukul 09.00 WIB pagi.
Seorang warga, Pandu (29), menuturkan bahwa air mulai memasuki kawasan permukiman sekitar pukul 23.00 WIB.
“Semalam banjirnya sejak pukul 23.00 WIB. Ketinggian 1,5 meter. Tapi Alhamdulillah jam 9 pagi tadi udah surut airnya. Ini sisa lumpurnya aja,” ujar Pandu.
Ia menjelaskan, wilayah tempat tinggalnya memang kerap dilanda banjir saat Sungai Cikeas meluap. Bahkan, pada 2020 lalu, tinggi genangan air disebut-sebut mencapai tiga meter.
“Dulu pernah banjir sampai 3 meter tahun 2020,” katanya.
Pandu menambahkan, banjir yang terjadi semalam datang dengan arus cukup deras dan tidak berlangsung secara perlahan. Beruntung, sistem peringatan dini yang terpasang membantu warga melakukan langkah antisipasi lebih cepat.
“Semalam banjirnya langsung besar. Untungnya udah ada alarm di belakang yang bunyi. Jadi ya udah antisipasi kan sebelum itu. Udah bersiap duluan sebelum datangnya air. Udah masukin barang-barang ke lantai 2,” ucapnya.
Menurutnya, banjir rutin terjadi karena belum tersedia tanggul permanen di sekitar kawasan tersebut. Selain itu, posisi kampung yang berada di jalur limpasan Sungai Cikeas membuat wilayah itu rawan terdampak saat debit air meningkat.
“Karena kalau bendungan Cikeas terlalu tinggi, jadi tumpahnya kan ke sini, buangnya lewat sini. Tanggul permanen juga belum ada,” jelasnya.
Lebih jauh ia berharap pemerintah dapat segera menghadirkan solusi nyata agar warga tidak terus menghadapi ancaman banjir setiap tahun.
“Kalau bisa bendungannya diperluas, biar enggak terlalu banjir. Tanggalnya dibangun permanen juga,” tukasnya. (cr1)











