Berita Bekasi Nomor Satu

Kehadiran Cucu Bikin Ramadan Umi Pipik Lebih Istimewa, Tak Mau Lagi Buka Puasa di Luar Rumah

Potret Umi Pipik Menggendong Sang Cucu. Foto: Instagram

RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Ramadan tahun ini menghadirkan suasana yang berbeda bagi Umi Pipik. Untuk pertama kalinya, ia menyambut bulan suci dengan status baru sebagai nenek. 

Kehadiran cucu pertamanya, buah hati dari Adiba Khanza dan Egy Maulana Vikri, membuat Ramadan kali ini terasa semakin hangat dan penuh kebahagiaan.

Di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, belum lama ini, Umi Pipik mengungkapkan rasa syukurnya. Menurutnya, suasana keluarga kini semakin semarak. 

“Makin spesial, makin ramai,” ujarnya singkat namun penuh makna.

Meski anggota keluarga bertambah, persiapan Ramadan yang ia lakukan tak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bagi Umi Pipik, yang terpenting bukan sekadar kesiapan fisik, melainkan kesiapan hati dan mental dalam menyambut bulan penuh berkah.

Ia menekankan bahwa seorang muslim seharusnya menyambut Ramadan dengan perasaan bahagia. Jika tidak, menurutnya, ada yang perlu diperiksa dalam hati. Baginya, kebahagiaan adalah kunci agar ibadah puasa dapat dijalani dengan maksimal dan penuh keikhlasan.

“Alhamdulillah, persiapannya ya mungkin sama kayak yang lain-lain ya, nyiapin mentallah. Ya kan? Biar gimana nyambut Ramadan tuh kan harus bahagia. Seorang muslim kalau enggak bahagia nyambut Ramadan harus ditanyakan hatinya,” tuturnya.

Ramadan disebutnya sebagai momen istimewa yang selalu dinantikan. Bulan suci bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memperkuat spiritualitas, mempererat keluarga, serta menumbuhkan rasa syukur.

Baca Juga: Gender Reveal Digelar, Angga Yunanda Umumkan Shenina Hamil Anak Laki-Laki

Tahun ini, kehadiran cucu pertama memberikan warna baru dalam kehidupan keluarganya. Rumah terasa lebih hidup, lebih hangat, dan dipenuhi energi baru. Tawa dan kebersamaan menjadi pelengkap suasana Ramadan yang sebelumnya sudah akrab dengan tradisi keluarga.

Sebagai seorang pendakwah, jadwal ceramah Umi Pipik tetap padat selama bulan puasa. Undangan untuk mengisi kajian datang dari berbagai tempat. Meski demikian, ia berkomitmen untuk mengatur waktu sebaik mungkin agar tetap bisa hadir di rumah menjelang berbuka.

“Kerjaan tetap ada, tapi mungkin pagi ya. Kalau sore harus balik ke rumah, biasa buka sama anak-anak. Apalagi sekarang ada cucu, jadi harus (pulang),” ujarnya.

Ia mengaku biasanya mengambil jadwal ceramah di pagi atau siang hari. Sementara sore hari menjadi waktu yang tidak bisa diganggu gugat, harus dihabiskan bersama keluarga. Terlebih kini ada cucu yang menanti di rumah.

Tradisi berbuka puasa bersama anak-anak menjadi kebiasaan yang selalu ia jaga dari tahun ke tahun. Ia mengaku tak pernah tenang jika belum memastikan sendiri hidangan untuk keluarga. 

Kekhawatiran sederhana seperti apakah anak-anak sudah makan dengan baik atau siapa yang menyiapkan makanan selalu terlintas di benaknya.

Karena itu, sore hari di bulan Ramadan baginya adalah waktu sakral untuk pulang, memasak, dan berkumpul. Di tengah kesibukan berdakwah, Umi Pipik tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas utama.

Ramadan kali ini bukan hanya tentang ibadah yang lebih khusyuk, tetapi juga tentang kebahagiaan baru sebagai seorang nenek, peran yang melengkapi perjalanan hidupnya dan membuat bulan suci terasa semakin bermakna. (ce2)