RADARBEKASI.ID, BEKASI – Tepat setahun sejak dilantik pada 20 Februari 2025, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto bersama Wakil Wali Kota Abdul Harris Bobihoe merefleksikan perjalanan kepemimpinan mereka di Kota Bekasi.
Dalam keterangannya, Tri menyampaikan apresiasi sekaligus permohonan maaf kepada masyarakat atas berbagai dinamika pembangunan yang masih menyisakan pekerjaan rumah.
“Tentu kami juga memohon maaf apabila dalam prosesnya masih ada hal-hal yang belum menyenangkan atau belum membahagiakan. Harapannya, kami ingin terus berkeadilan agar setiap warga mendapatkan hak dan kewajibannya secara proporsional,” ujar Tri, Rabu (18/2).
Menurutnya, membangun Kota Bekasi bukan pekerjaan satu orang, melainkan kerja kolektif bersama jajaran ASN dan dukungan masyarakat.
“Hari ini kita sudah bersinergi dan memiliki mimpi yang sama, yaitu membangun Kota Bekasi menjadi kota yang keren, aman, dan sejahtera,” katanya.
Tri tak menampik, persoalan infrastruktur dan banjir masih menjadi keluhan utama warga. Sejumlah ruas jalan seperti Nonon Sonthanie, I Gusti Ngurah Rai, Cipendawa, dan wilayah utara telah diperbaiki, namun ia mengakui belum seluruhnya dalam kondisi ideal.
Untuk jalan nasional seperti Sultan Agung, Sudirman, Ahmad Yani, dan Juanda, Pemkot terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR. Sementara Jalan Perjuangan dan Siliwangi menjadi kewenangan provinsi.
“Sepanjang itu menjadi prioritas dan kewenangan kami, pasti akan dikerjakan. Tapi tentu ada batas fiskal dan kewenangan,” ujarnya.
Penanganan banjir juga menjadi perhatian serius. Curah hujan tinggi dan perubahan tata guna lahan di wilayah hulu berdampak pada Kota Bekasi.
Pemkot menyiapkan pembangunan tanggul, normalisasi sungai, pengurukan, serta program sumur resapan dengan koordinasi lintas wilayah.
Di sektor kesehatan, komitmen terhadap Universal Health Coverage (UHC) tetap dijaga. Warga yang mengalami kendala administrasi tetap bisa berobat menggunakan KTP di fasilitas kesehatan.
Sementara di bidang pendidikan, Tri menegaskan tidak boleh ada pungutan yang membebani siswa maupun orang tua. Program WC bersih di sekolah menjadi salah satu indikator pengelolaan dana BOS secara tepat sasaran.
“Sekolah yang maju harus melibatkan sekolah, guru, dan murid. Yang terpenting adalah keadilan,” tegasnya.
Dalam pengelolaan sampah, Pemkot menyiapkan langkah strategis melalui rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Kota Bekasi menjadi salah satu dari empat kota yang direncanakan untuk groundbreaking oleh Kementerian.
Selain itu, penataan taman dan ruang publik terus dilakukan, termasuk pembenahan kawasan PKL dan parkir. Kota Bekasi juga bersiap menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi Jawa Barat, sehingga wajah kota terus dipercantik.
Tri menyadari, di tengah keterbatasan fiskal akibat berkurangnya dana transfer dan bagi hasil, tantangan ke depan tidak ringan. Namun ia memastikan pembenahan kota akan terus dipercepat.
“Memang ada gesekan atau ketidakpuasan. Tapi semua ini demi kepentingan yang lebih besar agar kota menjadi nyaman dan membahagiakan,” tandasnya. (rez)











