Berita Bekasi Nomor Satu

Nama Arya Iwantoro Meledak di Medsos, Ini Fakta di Balik Kontroversi Paspor Inggris Anaknya

Profil Arya Iwantoro. Foto: Instagram

RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Nama Arya Iwantoro mendadak menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Sosok akademisi muda ini ikut terseret dalam polemik setelah unggahan sang istri, Dwi Sasetyaningtyas (Tyas), memamerkan paspor Inggris anak mereka. 

Unggahan tersebut memicu perdebatan panjang tentang nasionalisme, status kewarganegaraan, serta kewajiban pengabdian bagi penerima beasiswa negara, khususnya Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Sorotan publik kian tajam karena Arya bukan figur biasa. Ia dikenal sebagai akademisi cemerlang, penerima beasiswa LPDP untuk jenjang magister dan doktoral, yang kini berkarier di Inggris. Latar belakang pendidikan kelas dunia dan posisi strategis yang ia emban membuat polemik ini semakin kompleks.

Profil

Arya Iwantoro merupakan alumnus Teknik Kelautan Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2013. Sejak masa kuliah, ia dikenal memiliki minat kuat pada dinamika pesisir dan sistem kelautan.

Hasratnya terhadap ilmu pengetahuan membawanya melanjutkan studi ke Belanda. Pada 2016, ia meraih gelar Master of Science (M.Sc.) dari Utrecht University. Tidak berhenti di sana, Arya melanjutkan pendidikan doktoralnya (PhD) di universitas yang sama dan berhasil lulus pada 2022.

Disertasinya yang berjudul “Morphodynamics of Channel Networks in Tide-Influenced Deltas” menunjukkan keahliannya dalam bidang morfodinamika jaringan saluran di delta yang dipengaruhi pasang surut, sebuah bidang yang sangat spesifik dan krusial dalam kajian perubahan garis pantai, sedimentasi, serta ketahanan wilayah pesisir terhadap perubahan iklim.

Sejak Januari 2025, Arya menjabat sebagai Senior Research Consultant di School of Biological and Marine Sciences, University of Plymouth, Inggris. 

Ia tergabung dalam tim Coastal Marine Applied Research (CMAR), yang menangani proyek-proyek pemodelan numerik canggih untuk memahami dinamika pesisir dan laut. Sebelumnya, ia juga berkiprah sebagai peneliti postdoktoral di University of Exeter pada periode 2022–2024.

Baca Juga: Penjelasan Ammar Zoni Soal Foto Dipaksa Pegang Tas Berisi Sabu: Itu Baru Selesai Dianiaya Oknum

Meski berkarier di kancah global, Arya tetap memiliki keterkaitan dengan Indonesia. Sejak 2020, ia tercatat sebagai co-founder Lingkari Institute, lembaga yang berfokus pada edukasi dan konservasi laut di Indonesia. 

Keterlibatan ini menunjukkan bahwa ia masih memiliki perhatian terhadap isu-isu kelautan di tanah air.

Latar Belakang Keluarga

Perhatian publik juga tertuju pada sosok ayah Arya, Syukur Iwantoro. Ia merupakan figur senior di birokrasi Indonesia. Dalam rekam jejaknya, Syukur pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian RI pada 2019 serta Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Saat ini, Syukur Iwantoro diketahui menjabat sebagai Vice President Director di PT RMI-Mitr Phol Group dan Ketua Umum Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo). Latar belakang keluarga yang mapan dan berpengaruh ini turut menambah sorotan terhadap polemik yang berkembang.

Awal Mula Polemik

Kontroversi bermula ketika Dwi Sasetyaningtyas mengunggah paspor Inggris anak mereka ke media sosial. Unggahan tersebut memicu diskusi luas mengenai kewarganegaraan, nasionalisme, dan kewajiban moral penerima beasiswa negara.

Netizen mempertanyakan komitmen Arya sebagai alumni LPDP. Beasiswa LPDP dikenal memiliki aturan ketat terkait kewajiban kembali dan mengabdi di Indonesia. Dalam regulasinya, terdapat ketentuan 2N+1, yakni dua kali masa studi ditambah satu tahun wajib kembali dan berkontribusi di tanah air.

Baca Juga: Thariq Tepis Tuduhan Gen Halilintar Kucilkan Aurel, Sebut Ada yang Sengaja Adu Domba Keluarga

Muncul dugaan bahwa Arya telah menetap di Inggris selama lima tahun berturut-turut, sehingga dianggap tidak memenuhi kewajiban pengabdian. Isu inilah yang kemudian berkembang menjadi perdebatan publik. Banyak warganet menyayangkan jika talenta hebat yang dibiayai negara justru memilih menetap di luar negeri secara permanen.

Dwi Sasetyaningtyas telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui pernyataan tertulis. Namun, hingga kini publik masih menantikan klarifikasi resmi mengenai status administratif dan kewajiban kontraktual Arya sebagai penerima beasiswa LPDP. (ce2)