Berita Bekasi Nomor Satu

Ramadan Madrasah Kepedulian

Oleh: Muhammad Jufri (Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Bekasi)

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Ramadan 1447 Hijriah sudah di pelupuk mata. Bulan yang penuh berkah ini hendaknya kita sambut dengan riang gembira, bukan dengan wajah muram dan hati yang berat.

Rasulullah SAW memberi kabar gembira kepada para sahabatnya ketika Ramadhan tiba. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad, beliau bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kepada kalian puasa di dalamnya…” Ini pertanda bahwa Ramadhan adalah anugerah, bukan beban.

Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Puasa bertujuan membentuk ketakwaan. Ketakwaan itu bukan hanya urusan ibadah ritual, tetapi juga tercermin dalam sikap hidup, termasuk dalam mengendalikan hawa nafsu duniawi. Ramadan adalah madrasah ruhaniyah untuk melatih kesederhanaan dan pengendalian diri.

Namun realitas yang sering terjadi justru sebaliknya. Ramadhan kerap diiringi dengan lonjakan konsumsi. Meja berbuka penuh berlebihan, belanja tak terkendali, makanan terbuang sia-sia. Padahal Allah telah mengingatkan:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Perilaku konsumtif dan boros tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga berdampak pada lingkungan. Setiap makanan yang terbuang menjadi sampah. Setiap kemasan yang dibuang menambah beban bumi. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)

Dalam konteks hari ini, pesan ayat tersebut terasa sangat relevan, terutama bagi masyarakat Kota Bekasi. Kita tidak bisa menutup mata bahwa Bekasi sedang menghadapi persoalan serius terkait sampah. Istilah “Bekasi darurat sampah” bukan sekadar slogan, tetapi cerminan kondisi nyata: produksi sampah rumah tangga yang terus meningkat, kapasitas pengelolaan yang terbatas, dan budaya konsumtif yang belum terkendali.

RamaDan seharusnya menjadi momentum perubahan. Jika selama ini kita kurang peduli terhadap dampak sampah, maka bulan suci ini adalah saat yang tepat untuk memulai gaya hidup yang lebih ramah lingkungan: membeli secukupnya, mengurangi makanan terbuang, membawa wadah sendiri, memilah sampah dari rumah, dan membiasakan pola hidup sederhana. Kesalehan ekologis adalah bagian dari tanggung jawab keimanan.

Di sisi lain, Ramadan juga melatih empati sosial. Ketika kita menahan lapar dan dahaga, kita diajak merasakan apa yang dirasakan saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Rasulullah ﷺ dikenal sebagai pribadi yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin meningkat pada bulan Ramadhan.

Allah SWT menegaskan:
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1-3)

Ayat ini menegaskan bahwa keberagamaan tidak berhenti pada ritual. Ia harus berbuah pada kepedulian sosial dan tanggung jawab kemanusiaan. Puasa yang benar akan melahirkan solidaritas, memperbanyak sedekah, dan memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.

Ramadan 1447 H hendaknya kita jadikan titik balik: dari boros menjadi hemat, dari abai menjadi peduli, dari individualis menjadi solidaritas, dari konsumtif menjadi bijak. Kita sambut dengan wajah cerah dan hati yang lapang, seraya berkomitmen menjadikan diri lebih baik dan lingkungan lebih terjaga.

Semoga Ramadhan kali ini tidak hanya memperbaiki hubungan kita dengan Allah, tetapi juga memperbaiki hubungan kita dengan sesama dan dengan alam sekitar. Dari Bekasi yang kita cintai, mari kita mulai perubahan itu dari diri sendiri.

Marhaban ya Ramadan. Semoga kita termasuk hamba yang mampu memaknai dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya.(*)