RADARBEKASI.ID, BEKASI – Seorang remaja berdiri memimpin salat tarawih. Bacaannya teratur, nadanya stabil, membuat jamaah larut dalam kekhusyukan. Tak banyak yang menyangka, imam tersebut masih duduk di bangku kelas 3 SMA dan baru berusia 18 tahun.
Suara itu terdengar lantang namun teduh dari shaf paling depan Musala Al Arsyad, kawasan Komsen, Jatiasih, Kota Bekasi.
Lantunan ayat suci Alquran itu ternyata dari sosok imam muda bernama Muhamad Whira Aditya Pratama. Ia merupakan warga RT 02 RW 06 Jatiasih, Kota Bekasi.
Usianya masih muda dan berstatus sebagai pelajar di Madrasah Nuurul Qur’an, Ciangsana, Kabupaten Bogor. Di balik ketenangannya memimpin salat, tersimpan kisah kehilangan yang membentuk keteguhannya.
Whira ditinggal sang ibu saat usianya baru 1,5 tahun. Ketika beranjak delapan tahun, ayahnya pun menyusul berpulang karena sakit.
Sejak kecil, ia tumbuh bersama tantenya dan tanpa kehadiran kedua orangtua. Namun justru dari situlah tekadnya tumbuh kuat.
“Saya sangat ingin menjadi hafiz karena saya ingin memberi mahkota kepada kedua orangtua saya di akhirat kelak,” ujar Whira saat ditemui di kediaman, Senin (23/2).
Keinginan itu bukan sekadar harapan. Ia menjadikannya bahan bakar untuk terus menjaga hafalan dan memperbaiki diri.
Perjalanan Whira menjadi imam dimulai sejak kelas 1 SMA. Sebelumnya, saat SMP, ia mondok di Pesantren Ibnu Taimiyah. Bekal itulah yang membuat warga sekitar mengetahui kemampuannya membaca Al-Qur’an.
Karena besar di lingkungan Mushala Al Arsyad, ia ditawari oleh Ketua DKM dan sejumlah jamaah untuk mencoba menjadi imam. Tawaran itu ia terima meski sadar masih harus banyak belajar.
Kini, ia lebih sering menjadi imam di musala tersebut. Sesekali, ia juga diajak ustaz dari sekolahnya untuk mendampingi mengisi kajian di sejumlah masjid dan dipercaya menjadi imam salat Magrib serta Isya.
Saat ini Whira telah menghafal tujuh juz Al-Qur’an, dengan lima juz yang sudah mutqin atau kuat. Namun baginya, jumlah bukan yang utama.
“Menghafal itu mudah, yang sulit adalah menjaganya agar tidak lupa,” katanya.
Setiap hari ia menyempatkan murojaah selepas Subuh sebelum berangkat sekolah. Di sekolah, ia memanfaatkan waktu khusus pukul 06.30 – 07.00 untuk mengulang hafalan atau menyiapkan bacaan.
Sepulang sekolah, ia kembali mengulang hafalan selepas Asar dan di sela waktu Magrib hingga Isya.
Untuk sementara, ia memilih memutqinkan hafalan yang ada sebelum menambah juz baru. Ia ingin melanjutkan kuliah lebih dulu, lalu menargetkan menjadi hafiz saat atau sebelum wisuda.
Menjadi imam di usia muda bukan tanpa tantangan. Ia harus menyesuaikan panjang bacaan dengan kondisi jamaah.
“Terkadang orang jadi malas tarawih kalau terlalu lama. Jadi saya melihat jamaahnya. Kalau banyak orang tua, saya pendekkan bacaannya,” jelasnya.
Grogi dan salah bacaan pun pernah ia alami. Cara menenangkannya sederhana, membaca istighfar tiga kali dan menarik napas panjang.
Baginya, menjadi imam bukan hanya soal bacaan. Posisi itu membuatnya lebih menjaga sikap.
“Kalau mau berbuat yang tidak baik, kita jadi malu karena kita seorang imam,” tuturnya.
Ramadan tahun ini ia jadikan momentum memperbaiki diri dan memperbanyak amalan. Ia berharap, ketaatan itu tidak berhenti setelah bulan suci berakhir.
Dari Musala kecil di Jatiasih, Whira tak hanya memimpin do’a para jamaah. Ia juga memanjatkan do’a pribadi yang tak pernah putus agar kelak, hafalannya menjadi jalan menghadiahkan mahkota kemuliaan bagi kedua orangtuanya di akhirat. (rez)











