Berita Bekasi Nomor Satu

Menu “Mini” MBG Siswa PAUD di Bekasi Timur Diprotes

SOROTAN: Menu MBG di PAUD, Kawasan Wismajaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi, yang mendapat sorotan masyarakat. FOTO: ISTIMEWA

 

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada siswa PAUD di Kawasan Wismajaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi menuai keluhan dari orang tua murid.

Paket makanan yang diterima para siswa PAUD pada Selasa (24/2) disebut terlalu mini. Dimana hanya berupa tiga kotak susu ukuran kecil, tiga buah jeruk, serta satu roti kemasan yang disebut untuk kebutuhan tiga hari ke depan.

Salah satu orang tua murid berinisial NFS (36) mengaku kecewa dengan isi paket yang dinilai tidak mencerminkan menu makan bergizi sebagaimana yang dijanjikan dalam program tersebut.

Menurut dia, pembagian makanan kali ini berbeda dibandingkan sebelumnya yang biasanya diberikan dalam bentuk makanan siap santap.

“Biasanya tidak seperti ini. Anak-anak dapat makanan yang lebih layak. Tapi sekarang hanya susu tiga kotak, jeruk tiga buah, sama satu roti, itu katanya untuk tiga hari,” kata NFS kepada Radar Bekasi, Selasa (24/2).

NFS menilai jumlah makanan yang dibagikan tidak sebanding dengan kebutuhan gizi anak-anak usia sekolah. Ia khawatir program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi siswa justru tidak optimal jika pembagian dilakukan dengan porsi terbatas seperti itu.

Menurutnya, jika paket tersebut memang diperuntukkan selama tiga hari, maka jumlah dan jenis makanan yang diberikan seharusnya lebih beragam dan mencukupi kebutuhan gizi harian anak.

“Kalau untuk satu hari mungkin masih bisa dibilang cukup tambahan. Tapi kalau ini untuk tiga hari jelas kurang. Namanya makan bergizi gratis harusnya benar-benar memenuhi kebutuhan anak,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan sistem pembagian yang dilakukan sekaligus untuk beberapa hari ke depan. Pasalnya, tidak semua makanan dapat bertahan lama dalam kondisi baik apabila disimpan di rumah.

“Kalau dibagi sekaligus begini, takutnya makanan tidak tahan lama. Apalagi roti kan ada masa simpannya. Kalau lewat bisa basi,” katanya.

Selain itu, NFS berharap pihak sekolah maupun penyelenggara program dapat memberikan penjelasan terbuka kepada orang tua murid mengenai perubahan mekanisme pembagian makanan tersebut.

Menurut dia, orang tua berhak mengetahui alasan pembagian dilakukan sekaligus untuk beberapa hari karena sebelumnya program berjalan dengan pola yang berbeda.

“Kami cuma ingin ada kejelasan. Kenapa sekarang dibagi untuk tiga hari dan kenapa menunya seperti ini,” ucapnya.

Ia menegaskan para orang tua pada dasarnya mendukung program Makan Bergizi Gratis karena dinilai membantu pemenuhan gizi anak-anak sekolah. Namun pelaksanaannya diharapkan tetap memperhatikan kualitas dan kecukupan makanan yang diberikan.

“Programnya bagus, kami mendukung. Tapi pelaksanaannya jangan sampai seadanya. Kasihan anak-anak kalau gizinya tidak terpenuhi,” tuturnya. (rez)