Berita Bekasi Nomor Satu
Bisnis  

Sebulan Pertama 2026, APBN Regional Jawa Barat Tetap Solid dan Adaptif

Konferensi pers kinerja APBN Regional Jawa Barat pada bulan pertama 2026. FOTO: ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID,BEKASI Kinerja APBN Regional Jawa Barat pada bulan pertama 2026 menunjukkan fondasi fiskal yang tetap solid. Hingga 31 Januari 2026, pendapatan negara terealisasi Rp11,09 triliun atau 5,88 persen dari target, sementara belanja mencapai Rp13,05 triliun atau 12,75 persen dari pagu. Dengan posisi tersebut, APBN regional mencatat defisit Rp1,96 triliun.

Penerimaan perpajakan tercatat Rp7,93 triliun atau 5,26 persen dari target, terkontraksi tipis 2,41 persen dibandingkan tahun lalu. Koreksi ini terutama dipengaruhi penyesuaian pada komponen Pajak Lainnya, khususnya Deposit Pajak, yang tidak berulang karena setoran telah dilaporkan pada jenis pajak yang semestinya. Di luar faktor tersebut, mayoritas jenis pajak utama tetap tumbuh, mencerminkan aktivitas ekonomi yang relatif terjaga.

Dalam capaian tersebut, Kontribusi Kanwil DJP Jawa Barat III tercermin dari realisasi penerimaan pajak neto Rp1,96 triliun atau 5,4 persen dari target. Kinerja ini didorong pertumbuhan PPN

Dalam Negeri 4,6 persen, PPh Pasal 21 melonjak 43,7 persen (yoy), serta PPN Impor tumbuh 4,3 persen (yoy). Secara sektoral, Industri Pengolahan tumbuh 9,1 persen, Jasa Perusahaan 5,5 persen, dan Transportasi serta Pergudangan menguat 25,1 persen (yoy).

Di sisi kepabeanan dan cukai, penerimaan mencapai Rp2,64 triliun atau 8,53 persen dari target, melambat 18,92 persen (yoy). Bea Masuk tercatat minus Rp37,09 miliar akibat restitusi  berdasarkan putusan Pengadilan Pajak. Sementara itu, penerimaan cukai sebesar Rp2,67 triliun atau 8,75 persen dari target terkontraksi 16,76 persen, terutama dipicu penurunan Cukai Hasil Tembakau.

Berbeda dengan pajak dan kepabeanan, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) justru  menguat. Hingga akhir Januari, PNBP mencapai Rp525,69 miliar atau 7,69 persen dari target  dan tumbuh 28,42 persen (yoy), ditopang lonjakan kinerja BLU.

Dari sisi belanja, realisasi Rp13,05 triliun menunjukkan akselerasi yang mendukung stabilitas  ekonomi daerah. Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) terealisasi Rp11,42 triliun atau 19,28 persen dari pagu, dengan porsi terbesar pada DAK Non Fisik. Percepatan transfer ini  memperkuat kapasitas fiskal daerah dan menjaga kesinambungan layanan publik.

Realisasi Tunjangan Profesi Guru mencapai Rp549,99 miliar atau 2,24 persen dari pagu. Pemerintah menjelaskan masih terdapat 97,76 persen guru yang belum menerima pembayaran pada Januari karena proses validasi data. Skema pencairan bulanan diharapkan mempercepat penyaluran pada periode berikutnya.

Dari sisi makroekonomi, kondisi Jawa Barat menunjukkan tren yang tetap kondusif. Pada triwulan IV 2025, ekonomi Jawa Barat tumbuh 5,85 persen secara tahunan dan 2,68 persen secara kuartalan.

Inflasi Januari 2026 tercatat 3,24 persen secara tahunan, dengan sejumlah komoditas seperti tarif listrik dan bahan pangan menjadi penyumbang utama. Kinerja perdagangan luar negeri juga memberikan sinyal positif. Neraca perdagangan Desember 2025 mencatat surplus USD 2,19 miliar, dengan total ekspor USD 3,28 miliar dan impor USD 1,08 miliar.

APBN beserta berbagai mesin pertumbuhan lainnya akan terus dioptimalkan perannya dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi. Berbagai langkah reformasi dilakukan untuk meningkatkan kualitas APBN, baik dari sisi pendapatan, maupun belanja.

Reformasi APBN akan terus diperkuat (collecting more, spending better, efficient and sustainable financing) guna memastikan program prioritas berjalan efektif, ruang fiskal tetap terjaga, dan kualitas pengelolaan fiskal semakin optimal. (*)