Oleh: Dahlan Iskan
Anda sudah tahu: Ayatollah Ali Khamenei tewas Sabtu pagi lalu. Kediamannya di Teheran dibombardir bom jarak jauh oleh Israel dan Amerika Serikat. Anak, menantu, dan cucu ikut tewas. Pun lebih 200 warga Iran di lebih 30 lokasi yang disasar bom dua negara itu secara serentak.
Tidak seperti di Baghdad dulu: rakyat langsung berbondong turun ke jalan menggulingkan pemerintahan Iraq. Setidaknya rakyat meruntuhkan dulu patung besar presiden Saddam Hussein –disiarkan secara live oleh TV di Amerika.
Tidak ada patung Khamenei di Teheran.
Bersamaan ketika mengumumkan kematian Khamenei itu Presiden Donald Trump menyerukan rakyat Iran agar bergerak menumbangkan pemerintah.
Ibaratnya Trump berseru: “pemimpin negara kalian sudah kami bunuh, maka bergeraklah menguasai istana. Ambil alihlah pemerintahan. Bukankah itu yang sudah lama kalian minta kepada Amerika. Dulu-dulu tidak ada presiden Amerika yang bisa memenuhi keinginan kalian. Baru sayalah presiden yang bisa melakukan apa yang kalian inginkan. Maka bergeraklah untuk menggantikan pemerintahan kalian yang kejam”.
Sampai tadi malam belum ada rakyat yang bergerak ke jalan-jalan –mungkin takut terkena bom Israel dan Amerika. Yang ada adalah histeria masal menangisi kematian Ayatollah mereka.
Pemerintah Iran sendiri mengumumkan masa berduka 40 hari. Selama masa duka itu negara dipimpin oleh satu komite yang diketuai Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Sampai proses pemilihan pengganti Ayatollah Khamenei dilakukan.
Di Iran presiden itu seperti ketua tanfidziyah di organisasi NU di Indonesia. Sedang pemimpin tertinggi berada di tangan ketua dewan syuriah.
Sekali lagi terbukti: perang zaman sekarang banyaknya jumlah tentara tidak penting lagi. Apa yang terjadi di Iran kian membuktikan bahwa yang terpenting adalah teknologi tinggi. Yang terpenting kedua: kecanggihan intelijen. Banyaknya batalion konvensional hampir tidak ada gunanya.
Kelebihan perang jenis ini adalah: yang jadi korban pertama adalah para pemimpin tertinggi. Lalu para pemimpin level di bawahnya. Prajurit justru lebih selamat. Maka istilah pion dikorbankan lebih dulu –seperti dalam permainan perang di catur– tidak berlaku lagi. Lawan sudah bisa melakukan skakmat ketika semua pion masih utuh berbaris di depan raja.
Di catur, ketika raja mati, permainan selesai. Di Iran, Ali Khamenei bukanlah raja catur. Khamenei-Khamenei berikutnya masih banyak sekali. Tidak akan habis-habisnya. Kecuali kota Qom –saya pernah sekali ke Qom– disapu bom jarak jauh sampai luluh lantak. Di kota itu banyak mahasiswa Indonesia –sekitar 200 orang.
Di Iran kematian itu dianggap mulia. Apalagi bagi orang yang sudah berumur 86 tahun seperti Ali Khamenei. Apalagi ia sudah 36 tahun menjabat ketua dewan syuriah Iran –sejak menggantikan Ayatollah Rukhullah Khomaini pada tahun 1989.
Sedekat-dekat negara seperti Arab Saudi, Qatar, UEA, Kuwait dengan Amerika Serikat terbukti kalah dekat dengan Israel. Sebenarnya Israel-lah yang ngotot menghancurkan pemerintah Iran: mengajak Amerika. Pun kalau Amerika tidak mau Israel akan melakukannya sendiri.
Tekanan negara-negara Arab pada Amerika kalah kuat oleh tekanan Israel.
Israel menganggap saat ini adalah waktu yang tepat untuk menghancurkan Iran. Yakni ketika satelit-satelit Iran di sekitar Israel sudah berhasil dilemahkan.
Hisbullah yang di Lebanon sudah dihancurkan. Rumah pemimpin tertinggi Hisbullah di Beirut, Nasrullah, dibom jarak jauh oleh Israel. Satu rumah dibom dengan kekuatan bom 80 ton. Tentu beberapa rumah di sekitarnya ikut hancur. Getarannya pun sampai memecahkan kaca bangunan di jarak 5 km dari rumah Nasrullah.
Ketika ke Lebanon empat bulan lalu saya minta dilewatkan rumah yang hancur itu. Saya juga minta diantar ke makam Nasrullah, yang hari itu tepat haul pertama. Itu kali kedua saya ke basis Hisbullah. Lewat pemeriksaan ketat. Akhirnya saya diizinkan ke makam. Dengan pengawalan. Saya pun diminta bersujud mencium pinggiran nisannya.
Sejak bom 80 ton itu kekuataan Hisbullah redup. Apalagi sebelum itu pimpinan yang levelnya di bawah Nasrullah juga dimatikan dengan cara yang sama: dikirimi bom dari jarak jauh. Tewas semua. Ups, itu bukan bom jarak jauh. Lebanon adalah tetangga dekat Israel.
Yang diluncurkan ke Iran itu barulah bom jarak jauh.
Sebelum Hisbullah dilumpuhkan, Houti di Yaman juga sudah tidak terlalu kuat lagi. Terakhir yang dilemahkan adalah Hamas. Pimpinannya diledakkan jarak dekat. Basisnya di Gaza dihancurkan total.
Maka Iran sudah seperti pohon yang cabang dan rantingnya dikepras semua. Memang ada ranting baru yang akan besar yang sedang tumbuh: di Iraq. Maka sebelum ranting baru itu besar pohonnya harus ditebang dulu: Iran.
Pohonnya pun sudah dibuang sebagian akarnya. Bom kiriman Amerika menjelang subuh tahun lalu menghancurkan fasilitas nuklir Iran.
Itulah sebabnya Israel tidak mau lagi menunggu Amerika. Israel akan melakukannya sendiri. Kalau sukses, Amerika rugi. Tidak dapat nama. Khususnya Trump.
Trump sedang perlu-perlunya nama. Ia menghadapi pemilu legislatif yang kritis. Partai Republik diramalkan kalah. Kalau Partai Demokrat sampai menguasai mayoritas parlemen, Trump pasti di-impeach! Trump jatuh.
Yang kedua, komite di parlemen sedang menyiapkan pemanggilan untuk Trump. Ia harus datang bersaksi di parlemen: soal skandal seks dengan perdagangan anak. Trump ada di daftar itu.
Israel sangat yakin tibalah waktunya menghancurkan Iran. Apalagi di Sabtu pagi lalu didapat info A-1 bahwa posisi Khamenei sedang di kediamannya.
Mungkin Khamenei dan penasihatnya yakin Israel tidak menyerang di hari Sabtu: hari suci. Apalagi biasanya serangan dilakukan menjelang subuh. Bukan jam 10 pagi seperti itu.
Israel tidak peduli lagi hari suci. Mungkin tidak ada lagi waktu terbaik selain Sabtu jam 10 pagi itu: buuuuummm! Teheran berasap besar yang membumbung tinggi. Khamenei tewas. Iran tidak ikut Tewas. (Dahlan Iskan)











