RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Selama bulan Ramadan, umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa dianjurkan untuk melaksanakan sahur. Sahur menjadi momen penting sebagai persiapan sebelum menahan lapar dan haus dari waktu imsak hingga Magrib. Selain membantu menjaga energi dan hidrasi tubuh, sahur juga memiliki nilai ibadah tersendiri dalam Islam.
Namun dalam praktiknya, tidak sedikit orang yang sengaja melewatkan sahur. Jam yang terlalu dini sering menjadi alasan utama, terutama bagi mereka yang kesulitan bangun pagi. Lalu, bagaimana hukum puasa tanpa sahur menurut Islam?
Dalam Islam, sahur hukumnya sunah, bukan wajib. Artinya, puasa tetap sah meskipun seseorang tidak melaksanakan sahur, selama ia telah berniat sebelum waktu imsak dan memenuhi seluruh syarat serta rukun puasa.
Dengan demikian, seseorang yang tidak sahur karena ketiduran, lupa, atau sengaja melewatkannya tetap dianggap sah puasanya. Hanya saja, ia kehilangan keutamaan dan pahala sunah dari ibadah sahur tersebut.
Dari sisi kesehatan, sahur sangat dianjurkan karena membantu tubuh memiliki cadangan energi untuk beraktivitas sepanjang hari. Tanpa sahur, risiko lemas, dehidrasi, dan gangguan konsentrasi bisa lebih besar.
Meskipun hanya sunah, sahur memiliki banyak keutamaan yang istimewa di bulan Ramadan. Berikut beberapa di antaranya:
1. Mendatangkan Berkah
Sahur disebut sebagai makanan yang penuh keberkahan. Rasulullah SAW bersabda:
السَّحورُ أُكْلةُ بَرَكةٍ، فلا تَدَعوه، ولو أنْ يَجرَعَ أَحَدُكم جُرْعةً من ماءٍ؛ فإنَّ اللهَ وملائكتَه يُصلُّونَ على المُتَسَحِّرينَ.
Artinya:
“Dari Abu Sa’id Al-Khudri RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sahur sepenuhnya mengandung berkah. Maka jangan kalian meninggalkannya meskipun hanya dengan seteguk air, karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur.’” (HR Ahmad).
Baca Juga: Bau Mulut Saat Puasa? Lakukan 5 Tips Ini Agar Napas Tetap Fresh
Hadis ini menegaskan bahwa bahkan seteguk air saat sahur tetap bernilai ibadah dan mengandung keberkahan.
2. Tidak Dihisab
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa makanan sahur termasuk di antara hal yang tidak dihisab oleh Allah SWT di akhirat:
ثَلَاثَةٌ لَا يُحَاسَبُ عَلَيْهَا العَبْدُ أَكَلَةُ السَّحُوْرِ وَمَا أَفْطَرَ عَلَيْهِ وَالأَكْلُ مَعَ الإِخْوَانِ
Artinya:
“Ada tiga hal (makanan) yang tidak akan dihisab, yaitu makanan sahur, makanan saat berbuka, dan makanan yang dinikmati bersama saudara.” (HR Al-Azdra’i)
Ini menjadi salah satu keistimewaan besar dari sahur di bulan Ramadan.
3. Pembeda dengan Puasa Ahli Kitab
Sahur juga menjadi pembeda antara puasa umat Islam dan puasa Ahli Kitab. Rasulullah SAW bersabda:
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ، أَكْلَةُ السَّحَرِ
Artinya:
“Yang membedakan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.” (HR Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa sahur merupakan identitas khas ibadah puasa umat Islam.
4. Mendekatkan pada Waktu Ibadah
Sahur dilakukan di waktu dini hari, mendekati waktu Subuh. Waktu tersebut merupakan momen mustajab untuk berdoa dan beribadah. Setelah sahur, umat Muslim dapat melanjutkan dengan salat Subuh tanpa khawatir tertinggal.
Dengan demikian, sahur bukan hanya soal makan sebelum puasa, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Baca Juga: Larangan Puasa Ramadan Pernah Terjadi di 3 Negara Ini, Kenapa?
Puasa tanpa sahur tetap sah selama niat telah dibaca sebelum imsak dan seluruh syarat puasa terpenuhi. Namun, meninggalkan sahur berarti melewatkan keberkahan dan keutamaan besar yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
Karena itu, meskipun hanya dengan seteguk air, sahur sebaiknya tetap diusahakan agar ibadah puasa semakin sempurna dan penuh berkah. (ce2)











