Berita Bekasi Nomor Satu
Hukum  

Anggota DPR RI Ini Minta Polisi Usut Dalang di Balik Kejanggalan Pembunuhan Ermanto Usman, Jatibening

Anggota Komisi XIII DPR RI, sekaligus Ketua Umum Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia (KRPI), Rieke Diah Pitaloka saat menyambangi rumah duka Ermanto Usman (65) yang tewas dalam kasus pembunuhan di Jatibening, Pondokgede, Kota Bekasi, Senin (2/3/2026) 2026. Foto: Zakky Mubarok/radarbekasi.id.

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitalok, sekaligus Ketua Umum Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia (KRPI), meminta aparat penegak hukum tidak terburu-buru dalam menyimpulkan motif kematian Ermanto Usman (65) yang tewas dalam kasus pembunuhan di Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi pada Senin (2/3/2026).

Rieke menegaskan bahwa tragedi berdarah ini bukan sekadar aksi pembunuhan biasa. Ia mensinyalir peristiwa tersebut merupakan bentuk eksekusi terhadap mantan anggota serikat pekerja di PT Jakarta International Container Terminal (JICT) dan aktivis antikorupsi yang gigih berjuang mengungkap praktik korupsi di sektor pelabuhan.

“Indikasi kuat ini bukan pencurian tidak ada barang yang hilang jangan ada yang memframing ini perampokan ini bukan perampokan karena tidak ada barang yang hilang kecuali kunci mobil dompet dan handphone,” ujar Rieke usai menyambangi kediaman almarhum, Rabu (4/3/2026) siang.

Rieke juga berharap aparat kepolisian untuk melakukan pendalaman investigasi secara komprehensif dan mendalam, sehingga pihak yang diduga menjadi otak di balik indikasi pembunuhan tersebut dapat terungkap.

BACA JUGA: Jelang Sahur, Perampok Sasar Pasutri Lansia di Jatibening, Satu Tewas dan Satu Kritis

“Jadi saya kira perlu ada kajian dan investigasi yang lebih luas lebih tajam dari pihak kepolisian dan kami berharap ada penegakan hukum segera diambil begitu tentu saja bukan hanya eksekutor lapangan tapi otak di balik indikasi pembunuhan ini,” tegasnya.

Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Andi Muhammad Iqbal, mengatakan Ermanto dan istrinya Pasmilawati (60) menjadi korban terkait tragedi berdarah tersebut.

Peristiwa itu terungkap setelah anak korban melaporkan kejadian yang dialami orang tuanya di rumah mereka. Anak perempuan korban yang biasanya dibangunkan untuk menyiapkan sahur merasa curiga karena hingga pukul 04.00 WIB alarm berbunyi, ia tak juga dipanggil.

“Yang temukan terlebih dahulu itu adalah anak perempuannya yang tinggal di situ. Jadi bertiga,” kata Andi.

“Anak korban akhirnya turun untuk sahur, tapi dia kaget karena rumahnya masih gelap dan tidak ada jawaban saat dirinya memanggil orang tuanya,” sambungnya.

Saat hendak membuka pintu kamar, anak korban mendapati pintu diduga telah dirusak sehingga tidak bisa dibuka. Ia lantas kemudian memanggil anggota keluarga lain dan membuka jendela kamar secara paksa.

“Kedua korban ditemukan dalam kondisi tergeletak. Ayahnya ditemukan tewas dan istrinya kritis,” tutur Andi. (cr1)