RADARBEKASI.ID, BEKASI – (Dan Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Ali ‘Imran : 133)
Ramadan datang bukan sekadar pergantian bulan dalam penanggalan hijriah, bukan pula hanya rutinitas tahunan yang datang lalu berlalu tanpa bekas. Ramadan adalah momentum agung, sebuah kesempatan emas yang Allah berikan untuk membersihkan jiwa, memperbaiki diri, dan memperbarui komitmen keimanan. Ramadan ibarat oase di tengah padang pasir kehidupan, tempat manusia meneguk kesegaran spiritual setelah sebelas bulan bergumul dengan kesibukan dunia yang sering melalaikan. Ramadan adalah panggilan Ilahi untuk kembali, untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan merenungi hakikat keberadaan diri sebagai hamba.
Kita sekarang sudah berada di hari-hari terakhir Ramadhan 1447 H. Ramadan sebagai madrasah mutamayyizah lembaga pendidikan favorit yang dibuka oleh Islam setiap tahunnya untuk menerima pendaftaran peserta baru, berkadar kurikulum Ilahi. Oleh karena itu siapa saja yang mendaftarkan dirinya ke madrasah mutamayyizah ini, yaitu berpuasa dengan baik sebagaimana telah digariskan Allah, kemudian mengamalkan ibadah-ibadah sunnah sebagaimana disyariatkan Rasulullah, dia telah sukses dan berhasil dalam menempuh ujian dan meninggalkan bulan mulia ini dengan memperoleh keuntungan yang besar yaitu magfirah dan diselamatkan dari siksa neraka.
Ramadan disebut sebagai madrasah mutamayyizah karena menjadi sarana pendidikan spiritual, moral, dan sosial bagi umat Islam. Melalui ibadah puasa, shalat, tilawah, dan iktikaf, seorang muslim dilatih untuk meningkatkan kedisiplinan, kesabaran, serta ketakwaan. Ramadan adalah madrasah ketakwaan kita, di dalamnya ada perintah, ada larangan, seperti makan itu bolehnya jam sekian, puasanya itu di jam sekian, proses ini bertujuan membangun kesadaran internal, bukan sekadar kepatuhan eksternal. Pada bulan Ramadan Allah menyiapkan diri kita menjadi diri yang sadar. Sebagai madrasah mutamayyizah, bulan Ramadhan dijadikan latihan untuk menempa berbagai sifat terpuji, melawan nafsu, menangkal godaan dan rayuan syaitan.
Puasa Ramadan membiasakan seseorang bersikap sabar, mendidik jujur dan disiplin menumbuhkan sifat kasih sayang dan tolong menolong yang menjalin rasa persaudaraan sesama umat Islam. Rasa persaudaraan tersebut tercermin dari nilai silaturrahmi saat berbuka bersama, tarawih, sahur dan lain lain, yang pada gilirannya menimbulkan rasa kepedulian sesama kaum muslimin.
Madrasah Ramadan mutamayyizah tentunya memiliki pedoman atau kurikulum sebagai manifestasi ketakwaan. Tujuan madrasah Ramadan mutamayyizah, yaitu terjadinya revolusi akhlak dan perubahan perilaku. Allah SWT., menyiapkan Ramadan sebagai madrasah bagi insan beriman untuk belajar, menuntut ilmu dan mengisi ulang (recharge) keimanan sebagai media untuk membangun karakter dan peningkatan ketakwaan kita sebagai hamba Allah. Di madrasah Ramadan ini setiap insan belajar banyak hal berhubungan dengan Allah (hablum minallah) dan dengan manusia (hablum minannas).
Madrasah Ramadan mutamayyizah menyentuh dua garis sekaligus; garis vertikal hubungan seorang hamba dengan Allah; dan garis horizontal hubungan sesama manusia. Sebagai contoh, di dalam madrasah Ramadan terdapat materi puasa Ramadan, mengajarkan kita dua hal sekaligus. Secara vertikal ia menempa diri seorang hamba untuk menjadikan dirinya tulus dan ikhlas. Karena puasa adalah ibadah yang penuh dengan kerahasiaan. Tidak terlihat orang lain, maka saat itulah keikhlasan mulai meluruh dalam hati orang-orang beriman. Secara horizontal dalam hubungan antar sesama hamba, puasa Ramadan adalah tarbiyah sosial. Sebuah proses belajar simpati sekaligus empati dengan keadaan orang-orang di sekelilingnya; para jelata, fakir miskin, dan kaum dhuafa.
Saat ini insan beriman memasuki fase terakhir mendapatkan gemblengan melalui sebuah madrasah bernama Ramadan. Sebagaimana dimaklumi bahwa tatkala seorang insan beriman memasuki bulan ramadhan, sesungguhnya dia telah mempersiapkan dirinya menjadi the student of ramadhan (peserta didik madrasah Ramadan). Di bulan Ramadan ini, insan beriman mendapatkan pelajaran berharga dari apa yang kita sebut shaum, betapa tidak. Karena tatkala kita berpuasa, kita merasakan bagaimana rasanya lapar, bagaimana rasanya haus, bagaimana rasanya lemah, letih, lesu, menahan nafsu syahwat dan lain sebagainya.
Berpuasa selama sebulan penuh, merupakan latihan bagi kaum muslimin untuk rajin shalat berjamaah di masjid, berlatih untuk rajin kemajelis ta’lim, latihan membaca dan mentadabbur Al-Qur’an, yang kesemua latihan tersebut selanjutnya dibawa ke bulan-bulan lainnya. Puasa juga mendidik dan melatih agar dapat mengontrol diri dari perbuatan jahat. Karena itu orang yang berpuasa harus menjaga mulut dari perkataan kotor, seperti mencela, menggunjing, memfitnah, berdusta dan perbuatan lain yang menimbulkan dosa. Mulut harus dijaga dari ucapan yang menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain, tidak ngobrol dengan obrolan yang sia-sia. Puasa dapat dikatakan berfungsi sebagai benteng (perisai), karena rasulullah pernah mengingatkan orang yang berpuasa agar jangan berkata kotor dan kasar, jika ada orang yang menyerang dan mencacimu maka katakan aku sedang berpuasa. Itu semua merupakan cara untuk melatih mulut agar digunakan dalam hal yang bermanfaat dan menjauhi mafsadah.
Apabila diperhatikan lebih dalam, banyak pelajaran penting dalam madrasah Ramadan mutamayyizah yang kita laksanakan. Pertama, pelajaran syukur. Tidak semua orang dapat menginjakkan kakinya pada Ramadan tahun ini. Maka berbahagialah insan beriman berkesempatan kembali bertemu dengan Ramadan 1447 H. Maksimalkan sebaik mungkin ibadah sebagai bentuk rasa syukur. Sebab, tak ada yang tahu, apakah Ramadhan berikutnya bisa berjumpa kembali atau tidak. Kedua, Pelajaran ikhlas dan sabar. Keikhlasan menjadi modal melaksanakan berbagai aktivitas ibadah Ramadan. Semua dilakukan semata-mata mengharap keridhaan-Nya.
Dengan ikhlas, hati menjadi riang dan ringan menjalankan ibadah. Sementara untuk membentengi keikhlasan itu diperlukan kesabaran. Bayangkan, bagaimana seorang muslim harus berjibaku dengan nafsunya tatkala ia sedang menjalani puasa. Bersabar menahan lapar dan dahaga, diam dalam ucapan sia-sia bahkan dosa, tunduk dari pandangan yang tak membawa berkah dan berusaha tidak melakukan hal-hal yang tak disenangi. Ketiga, Pelajaran amanah dan jujur. Ramadhan menjadi madrasah untuk menumbuhkan kedua sifat tersebut. Bayangkan, yang mengetahui seseorang sedang puasa hanya Allah dan dirinya sendiri. Walaupun seseorang berada dalam kesempatan untuk mencicipi makanan, ketika sadar bahwa ia sedang shaum maka insan beriman tidak akan memakannya. Mengapa? Karena dilihat orang ataupun tidak, ia akan tunduk karena Allah semata.
Tentu menjadi sebuah hadiah dalam perjalanan madrasah Ramadan mutamayyizah yang digembleng selama satu bulan penuh dengan berbagai cara dan metode yang mungkin tidak dilakukan di hari-hari biasanya, seperti puasa, shalat tarawih, qiyamul lail, tadarus al-qur’an, muhasabah, itikaf, infaq, zakat fitrah dan amal baik lainnya. Karena itulah maka, madrasah Ramadan mutamayyizah ini harus bisa memberikan multiplier efek kepada setiap muslim dan muslimah, minimal menjadi insan beriman yang mampu untuk peka secara sosial, memiliki empati yang tinggi atau lebih dalamnya mampu merasakan denyut hati penderitaan terhadap sesama.
Madrasah Ramadan mutamayyizah dapat dipahami pula sebagai sebuah sekolah spiritual tempat manusia dididik secara intensif untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ia juga merupakan musim panen pahala, saat setiap amal kebaikan dilipatgandakan nilainya. Jika di bulan-bulan lain kebaikan bernilai satu, maka di bulan Ramadhan ia dapat berlipat menjadi puluhan, ratusan, bahkan lebih sesuai dengan keikhlasan dan kesungguhan pelakunya. Oleh karena itu, orang-orang saleh di masa lalu menyambut Ramadhan dengan penuh sukacita, bahkan mereka berdoa selama berbulan-bulan agar dipertemukan dengan bulan mulia ini.
Dr. Muhammad Bakr Ismail, dosen Tafsir dan Ulumul Qur’an di Universitas Al-Azhar Kairo menjelaskan : Kalau saja takwa menjadi lifestyle, niscaya mukmin itu tidak akan pernah “bangkrut”, karena setiap kebaikan yang dia kerjakan atas dasar takwa mendapatkan pahala dari sisi Allah, pahala tersebut akan menghapus jejak keburukan yang pernah dikerjakannya. Ulama besar dunia, Yusuf al-Qaradhawi, dalam bukunya Fiqh al-Shiyam menegaskan bahwa pelaksanaan puasa Ramadan merupakan institusi pendidikan moral par excellence atau lembaga pendidikan favorit yang dibuka oleh Allah setiap tahun menjadi lembaga training tahunan bagi umat Islam yang berkadar kurikulum Ilahi. Ramadan merupakan madrasah bagi orang beriman. Banyak pelajaran yang Allah berikan pada bulan penuh berkah ini. Kurikulumnya disusun agar setiap muslim mampu menaikan level kelas keimanannya, wahana untuk melatih diri, menggembleng jiwa, agar menjadi pribadi berkualitas, hamba yang taat, serta mencapai derajat taqwa.
Pengejewantahan seluruh “kurikulum” madrasah Ramadhan mutamayyizah apabila dilalui dengan baik sebagai tempat latihan untuk meraih gelar takwa menunjukkan sukses dan berhasil dalam menempuh ujian madrasah puasa Ramadan 1447 H. Oleh karena itu, kita patut memperoleh keuntungan yang besar, yaitu magfirah dan keselamatan siksa neraka. Kita pun siap diwisuda pada hari raya Idulfitri 1447 H sebagai wisudawan paling mulia. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” (QS Al-Hujuraat : 13).
Semoga kita bisa memanfaatkan momentum madrasah Ramadhan mutamayyizah ini untuk memperbanyak pengabdian dan mengambil pembelajaran karakter untuk menata hati dan meningkatkan kompetensi dalam melaksanakan pengabdian sesuai dengan kapasitas kita selaku hamba-Nya. Tujuan akhir dari seluruh rangkaian ibadah Ramadhan adalah tercapainya derajat takwa, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183: la’allakum tattaqun, agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. Takwa bukan sekadar rasa takut, melainkan kesadaran mendalam akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Ia tercermin dalam ketaatan, kejujuran, kepedulian, dan kemampuan menahan diri dari segala yang dilarang. Kita berharap keluar dari Ramadan sebagai insan yang bersih, kuat, dan bertakwa.
Sebagaimana bayi yang baru lahir, hati menjadi jernih dari dosa, jiwa menjadi ringan dari beban kesalahan, dan langkah kehidupan menjadi lebih terarah. Semoga Allah menerima puasa, shalat, sedekah, dan seluruh amal ibadah kita. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan ampunan, rahmat, dan pembebasan dari api neraka. Dan semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan di tahun-tahun mendatang dalam keadaan iman yang lebih kuat dan amal yang lebih baik, sehingga kita benar-benar menjadi bagian dari orang-orang yang kembali fitri, faidzin, kemenangan sejati bagi setiap hamba yang lulus dari madrasah Ramadhan mutamayyizah. (*)
Wallahu A’lam Bish Shawab
*Penulis sebagai Ketua MUI Cikarang Barat, Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Guru di SIT Nurul Fajri Cikarang Barat.











