Berita Bekasi Nomor Satu

Anak Usia Satu Tahun di Bekasi Barat Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Tetangga, Ibu Lapor Polisi

LAPORAN POLISI : Ibu korban FS (36) menunjukan bukti laporan saat ditemui di kediamanya di wilayah Bintara, Bekasi Barat, Rabu (4/3). RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Niat seorang ibu mencari nafkah justru berujung duka. Seorang anak perempuan usia satu tahun berinisial A di Bekasi Barat, Kota Bekasi, diduga menjadi korban kekerasan seksual oleh tetangganya sendiri berinisial R (48).

Korban diduga mengalami peristiwa itu saat dititipkan oleh ibunya, FS (36), yang bekerja sebagai biduan keliling. Selama ini, FS mengaku mempercayakan anaknya kepada R ketika harus pergi bekerja.

Peristiwa dugaan pelecehan itu terjadi di sebuah kontrakan di wilayah Kecamatan Bekasi Barat. FS mengungkapkan, awalnya ia tidak menaruh curiga ketika anaknya terus menangis. Ia mengira tangisan tersebut disebabkan hal sepele seperti popok penuh atau ukuran pampers yang tidak nyaman.

“Awalnya saya kira anak saya nangis terus karena pampersnya penuh. Saya ganti, tapi masih nangis juga. Saya pikir mungkin ukurannya kekecilan, akhirnya saya ganti dari ukuran L ke XL, tapi tetap nangis,” kata FS, Rabu (4/3).

Namun kecurigaan muncul ketika anaknya terlihat kesakitan setiap kali buang air kecil. Saat dimandikan pun, korban menangis keras ketika bagian alat vitalnya tersentuh.

“Kalau pipis dia seperti kesakitan. Kalau dimandikan dan tersentuh di bagian kelaminnya, dia nangis. Malam itu juga sempat demam dan meringis terus,” jelasnya.

Peristiwa yang terjadi pada 20 Desember 2025 itu membuat FS membawa anaknya ke Puskesmas.

Dari hasil pemeriksaan awal, bidan menyebut kondisi alat vital korban tidak wajar dan menyarankan agar segera dilakukan visum serta melapor ke polisi.

Kasus tersebut kemudian dilaporkan dengan Laporan Polisi Nomor: LP/B/3287/XII/2025/SPKT/PolresMetroBekasiKota/PoldaMetroJaya tertanggal 24 Desember 2025.

FS mengatakan, visum langsung dilakukan pada hari yang sama. Namun hasilnya baru diterima sekitar tiga bulan kemudian.

“Pada hari yang sama, visum langsung dilakukan ke anak saya, hasil visum baru diterima sekitar tiga bulan kemudian, hasilnya katanya ada benda tumpul masuk ke kemaluannya anak saya,” ujar FS dengan suara bergetar.

FS menduga kuat R sebagai pelaku. Ia menyebut setiap kali A melihat R, anaknya menunjukkan reaksi tertentu.

“Kalau lihat dia (R), anak saya ngomong ‘Atut, atut, a au’ terus kalau ditanya sakit di mana, dia nunjuk ke bagian kelaminnya,” ucapnya.

Selain itu, korban memang kerap dititipkan kepada R selama ibunya bekerja. FS juga mengaku memiliki dua saksi yang mengetahui kejadian tersebut, namun keduanya enggan memberikan keterangan karena takut berurusan dengan polisi.

“Saya ada saksi, tapi saksi tidak mau kasih keterangan karena takut berurusan dengan polisi,” imbuhnya.

Saat ini, menurut informasi yang diterimanya dari penyidik, proses perkara masih berjalan dan berkas tengah dipersiapkan untuk langkah lanjutan, termasuk pemanggilan saksi-saksi.

FS berharap kasus ini segera menemui titik terang dan pelaku dapat diproses sesuai hukum yang berlaku.

“Saya cuma berharap pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku,” pungkasnya. (rez)