RADARBEKASI.ID, BEKASI – Asap kayu bakar mengepul dari dapur sederhana di Kampung Ceger, Desa Sukajaya, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi. Sejak awal Ramadan 1447 Hijriah, kuali-kuali besar di lapak dodol Betawi Mak Hj Dobleh tak pernah benar-benar dingin.
Produksi melonjak tajam hingga 1.000 persen dibanding hari biasa. Dalam sehari, lapak ini mampu mengolah lima kuali sekaligus. Setiap kuali menghasilkan sekitar 90 kilogram dodol berbahan beras ketan, gula, dan kelapa. Artinya, total produksi harian menyentuh 450 kilogram. Pada hari biasa, mereka hanya memasak satu kuali.
“Ramadan 2026 ini produksi naik sampai 1.000 persen. Sehari produksi lima kuali, satu kuali sekitar 90 kg. Kalau hari biasa paling satu kuali,” ujar Wulan, pengelola Dodol Betawi Mak Hj Dobleh, Selasa (3/3).
Selama sebulan Ramadan, total produksi diperkirakan menembus 12 ton. Permintaan datang bertubi-tubi, terutama untuk kebutuhan Lebaran. Dodol menjadi suguhan sekaligus buah tangan yang nyaris wajib hadir saat Idulfitri.
Namun lonjakan pesanan tak lepas dari tantangan. Harga gula putih mengalami kenaikan signifikan, meski stok kelapa relatif aman.
“Bahan baku alhamdulillah untuk kelapa masih aman dibanding tahun lalu. Cuma untuk gula putih harganya meningkat. Bahan baku lain masih normal,” ujarnya.
Kenaikan produksi berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. Dari semula lima hingga tujuh orang, kini 30 warga sekitar berpengalaman dilibatkan.
Proses pengolahan pun tetap dipertahankan secara tradisional menggunakan kayu bakar dan diaduk dengan tenaga manusia untuk menjaga tekstur kenyal yang khas.
“Ciri khas dodol betawi itu kenyal manis. Tradisinya dibuat menjelang lebaran,” kata Wulan.
Ia memprediksi pesanan akan terus meningkat hingga sepuluh hari menjelang Idulfitri. Varian yang disiapkan meliputi original, ketan hitam, dan cokelat, dengan harga berkisar Rp40 ribu hingga Rp70 ribu. Pembelinya tidak hanya warga lokal, tetapi juga datang dari Bogor, Bekasi Kota, hingga Karawang.
Sementara itu, seorang pekerja, Cacah Cahyo, mengaku telah tiga tahun bergelut dengan adonan dodol. Menurutnya, proses pengadukan membutuhkan stamina ekstra. Satu kuali diaduk dua orang secara bergantian selama hampir 10 jam.
“Satu kuali yang ngaduk dua orang. Ngaduknya delapan jam, mulai dari jam 7 sampai jam 5 sore,” ungkapnya. Ia menambahkan, penghasilan dari mengaduk dodol cukup membantu perekonomian keluarganya, terutama menjelang Ramadan. (ris)











