RADARBEKASI.ID, BEKASI — Pertumbuhan kota yang pesat membuat mobilitas masyarakat di Kota Bekasi semakin tinggi dari waktu ke waktu. Arus kendaraan yang padat hampir setiap hari menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam menjaga kelancaran lalu lintas.
Untuk mengantisipasi kemacetan sekaligus meningkatkan layanan transportasi bagi warga, Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Perhubungan (Dishub) menerapkan berbagai strategi, mulai dari rekayasa lalu lintas hingga penyediaan transportasi massal.
Di sejumlah ruas jalan, rekayasa lalu lintas berupa sistem satu arah hingga pembatasan operasional kendaraan berat mulai diberlakukan sejak tahun lalu. Kebijakan ini diterapkan terutama pada jam-jam sibuk ketika pergerakan kendaraan meningkat tajam pada pagi dan sore hari.
Di sisi lain, pemerintah kota juga menghadirkan moda transportasi massal untuk memberikan alternatif perjalanan yang lebih aman dan nyaman bagi masyarakat. Saat ini, dua rute bus massal telah beroperasi, yakni Bus Trans Bekasi Patriot dan Trans Bekasi Keren (Beken).

Meski pada awal peluncurannya sempat menuai protes dari sebagian masyarakat, keberadaan bus massal tersebut kini mulai menunjukkan perkembangan yang positif. Tingkat penggunaan layanan oleh masyarakat terus meningkat seiring waktu.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Bekasi, Zeno Bachtiar, menyebut perkembangan angkutan umum massal di Kota Bekasi cukup signifikan. Salah satu indikatornya terlihat dari tingginya tingkat keterisian penumpang pada beberapa rute yang telah beroperasi.
“Salah satu contoh yang bisa kita ambil adalah angkutan umum massal, perkembangannya sangat signifikan. Sekarang untuk rute Summarecon–Vida pulang pergi load factor-nya sudah sampai 137 persen,” ujarnya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap transportasi massal semakin tinggi. Bahkan jumlah penumpang yang menggunakan layanan tersebut telah melampaui kapasitas tempat duduk yang tersedia.
Sementara itu, untuk rute Terminal Induk Bekasi menuju Harapan Indah yang baru diluncurkan sekitar satu bulan lalu, tingkat keterisian tempat duduk bus sudah mencapai 60 persen. Menurut Zeno, capaian tersebut menunjukkan bahwa sistem angkutan massal berbasis Buy The Service memang dibutuhkan masyarakat sebagai alternatif transportasi di perkotaan.
Selain penguatan transportasi massal, Dishub Kota Bekasi juga terus melakukan manajemen rekayasa lalu lintas di sejumlah titik yang kerap mengalami kepadatan kendaraan. Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah sistem satu arah di Jalan Perjuangan serta beberapa ruas jalan di kawasan Jatiasih.
“Kemudian berbagai upaya antara lain manajemen rekayasa lalu lintas sistem satu arah di Jalan Perjuangan, kemudian kita juga melakukan beberapa rekayasa lalu lintas antara lain di Jatiasih dengan sistem satu arah,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Dishub juga memberlakukan pembatasan jam operasional bagi kendaraan berat seperti truk tanah dan kendaraan berdimensi besar. Kebijakan ini diterapkan untuk mengurangi potensi kecelakaan sekaligus menjaga kondisi jalan agar tidak cepat rusak akibat beban kendaraan berat.
Dengan jumlah kendaraan yang terus bertambah seiring pertumbuhan kota, Dishub Kota Bekasi dituntut terus berinovasi dalam mengelola sistem transportasi. Zeno menegaskan pihaknya akan terus memastikan pengawasan lalu lintas, pengelolaan angkutan jalan dan terminal, hingga penyediaan sarana dan prasarana transportasi berjalan optimal.
“Hari ini kota kita sudah semakin keren. Artinya dari sisi lalu lintas dan angkutan jalan, kami harus memastikan layanan operasional, pengawasan pengendalian lalu lintas, angkutan jalan dan terminal, sarana prasarana, PJU, serta manajemen rekayasa lalu lintas benar-benar berjalan dengan baik,” tandasnya. (sur/*)











