Oleh: Dahlan Iskan
Fir’aun yang ke 18 lah yang mumminya paling banyak dilihat pengunjung. Itu saya saksikan ketika saya ke Museum Peradaban dan Mummi Mesir bulan lalu. Saya pun lebih lama berhenti di ruang Mummi Fir’aun ke-18 itu.
Itulah Fir’aun (artinya: raja) yang sezaman dengan Nabi Musa. Yakni sekitar 3.000 tahun sebelum Masehi –kalau Anda tidak percaya hitung sendiri.
Anda sudah tahu: lebih 180 Fir’aun yang pernah jadi raja selama 3.000 tahun dinasti Fir’aun. Mummi Fir’aun ke-18 tidak banyak beda dengan mummi Fir’aun sebelum dan sesudahnya. Misalnya dengan Fir’aun ke-15; yang sezaman dengan Nabi Yusuf. Yakni yang mengangkat Nabi Yusuf sebagai menteri bidang pangan.
Itu terjadi setelah Yusuf mengatakan melimpahnya panen tujuh tahun pertama masa itu akan diikuti tujuh tahun musim paceklik yang berat. Jelaslah tidak semua Fir’aun jahat. Kasihan Fir’aun yang baik. Namanya ikut tercemar akibat ulah Fir’aun ke-18.
Sosok mummi banyak Fir’aun itu mirip-mirip semua. Tubuh mereka sudah kering. Termasuk wajah mereka. Semua berwarna hitam.
Fir’aun memang kulit hitam –disamping pengaruh balsem dan ribuan tahun diawetkan. Sebenarnya saya agak heran mengapa di museum itu ada mummi Fir’aun ke-18.
Bukankah Fir’aun ke -18 sudah mati tenggelam di Laut Merah. Yakni saat mengejar Musa yang melewati laut yang dibelah dengan tongkatnya.
Setelah Musa berhasil melewatinya, Fir’aun ke-18 masih di tengah laut. Lalu air laut menyatu kembali. Fir’aun tenggelam. Kok ini ada mumminya.
“Di Quran kan disebutkan Fir’aun itu diselamatkan,” ujar Ustadz Fauzi Syam al Bandungi.
Saya percaya saja. Takut mendebatnya. Bisa celaka: tidak diantar ke mana-mana. Tentu saya juga takut bercerita kepadanya tentang begitu banyak ahli sejarah yang meragukan peristiwa pembelahan Laut Merah itu.
Mereka sudah meneliti dengan amat mendalam. Tidak ditemukan bukti sejarahnya secuil pun. Apa lagi kini dipamerkan ada mumminya –yang berarti Fir’aun ke-18 tidak tenggelam di Laut Merah.
Ahli arkeologi sendiri terus menemukan mummi baru para Fir’aun dari penggalian situs-situs bersejarah di Mesir. Sudah 26 Fir’aun yang ditemukan. Ukuran tubuhnya tidak banyak beda. Seperti ukuran tubuh kita-kita.
Menurut cerita kuno, waktu memummikan jenazah para Fir’aun itu seluruh isi perut dikeluarkan. Isi perut hanya membuat mayat cepat membusuk. Kornea mata juga dikeluarkan. Bagian perut itu lantas diisi rempah-rempah. Agar tidak busuk. Setelah itu dibalsem. Lalu bagian badan sampai kaki dibalut sejenis kain. Tersisa kepala dan telapak kaki. Wajah hitam. Telapak kaki hitam.
Memang Fir’aun orang hitam. Dari suku Afrika Timur. Kalau saja reformasi Mesir di tahun 2012 berhasil belum tentu museum semegah ini mampu dibangun. Di pusat kota Kairo pula. Di tanah yang begitu luas. Sekalian membenahi danau alam yang dulunya kumuh.
Kini kawasan Museum Peradaban dan Mummi Mesir ini jadi tujuan wisata yang elite dan indah. Sepuluh tahun berkuasa presiden Mesir mampu membangun dua museum raksasa –satunya di dekat Piramid yang baru selesai akhir tahun lalu. Mesir akhirnya terselamatkan dari reformasi –aneh, kegagalan reformasi dianggap berkah.
Kalau saja hasil reformasi di Mesir tidak segera dikoreksi bisa-bisa Mesir seperti Yaman sekarang.
Gerakan reformasi di negara-negara Arab (Arab Springs) gagal semua. Di Tunisia pun sekarang sudah kembali otoriter. Libya menjadi sangat kacau. Apalagi Yaman. Untung gerakan itu bisa dicegah di Bahrain –padahal hampir saja meletus.
Reformasi tidak sampai berkembang di Arab Saudi. Dan segera dikoreksi drastis di Mesir. Sejak melakukan koreksi terhadap reformasi itu ekonomi Mesir tumbuh kian cepat. Puncaknya mencapai 6,6 persen di tahun-tahun sebelum Covid. Lalu terkena pandemi.
Setelah itu melejit lagi. Para ahli meramal tahun ini akan kembali 6,6 persen. Memang pendapatan per kapita rakyat Mesir masih kalah dari kita. Di sana USD4.500. Indonesia USD4.800. Tapi daya beli rakyat lebih kuat di Mesir. Indeks PPP-nya mencapai USD17.000 per kapita. Kita USD14.000 per kapita. Artinya, tiap pakai satu dolar di Mesir bisa belanja barang lebih banyak dari pada belanja satu dolar di Indonesia.
Saya termasuk yang menyesali hasil reformasi di Indonesia di tahun 1999-2000. Reformasi hanya menghasilkan hukum, korupsi dan demokrasi yang kian buruk: belum ada yang berhasil mengoreksi hasil reformasi itu. Kita pun tersandera oleh partai dan para elite politiknya. Saya bersyukur akhirnya bisa ke Yaman dan Mesir. Masih bisa terus belajar dan membanding-bandingkannya.
Memang Fir’aun orang hitam. Dari suku Afrika Timur. Kalau saja reformasi Mesir di tahun 2012 berhasil belum tentu museum semegah ini mampu dibangun. Di pusat kota Kairo pula. Di tanah yang begitu luas. Sekalian membenahi danau alam yang dulunya kumuh.
Kini kawasan Museum Peradaban dan Mummi Mesir ini jadi tujuan wisata yang elite dan indah. Sepuluh tahun berkuasa presiden Mesir mampu membangun dua museum raksasa –satunya di dekat Piramid yang baru selesai akhir tahun lalu. Mesir akhirnya terselamatkan dari reformasi –aneh, kegagalan reformasi dianggap berkah.
Kalau saja hasil reformasi di Mesir tidak segera dikoreksi bisa-bisa Mesir seperti Yaman sekarang.
Gerakan reformasi di negara-negara Arab (Arab Springs) gagal semua. Di Tunisia pun sekarang sudah kembali otoriter. Libya menjadi sangat kacau. Apalagi Yaman. Untung gerakan itu bisa dicegah di Bahrain –padahal hampir saja meletus.
Reformasi tidak sampai berkembang di Arab Saudi. Dan segera dikoreksi drastis di Mesir. Sejak melakukan koreksi terhadap reformasi itu ekonomi Mesir tumbuh kian cepat. Puncaknya mencapai 6,6 persen di tahun-tahun sebelum Covid. Lalu terkena pandemi.
Setelah itu melejit lagi. Para ahli meramal tahun ini akan kembali 6,6 persen. Memang pendapatan per kapita rakyat Mesir masih kalah dari kita. Di sana USD4.500. Indonesia USD4.800. Tapi daya beli rakyat lebih kuat di Mesir. Indeks PPP-nya mencapai USD17.000 per kapita. Kita USD14.000 per kapita. Artinya, tiap pakai satu dolar di Mesir bisa belanja barang lebih banyak dari pada belanja satu dolar di Indonesia.
Saya termasuk yang menyesali hasil reformasi di Indonesia di tahun 1999-2000. Reformasi hanya menghasilkan hukum, korupsi dan demokrasi yang kian buruk: belum ada yang berhasil mengoreksi hasil reformasi itu. Kita pun tersandera oleh partai dan para elite politiknya. Saya bersyukur akhirnya bisa ke Yaman dan Mesir. Masih bisa terus belajar dan membanding-bandingkannya.
Saya juga bersyukur bisa bertemu Fir’aun ke-18 meski pertemuan itu sangat telat. Selama 75 tahun saya telanjur percaya Fir’aun mati tenggelam di Laut Merah. (Dahlan Iskan)











