RADARBEKASI.ID, BEKASI – Dinas Kesehatan Kota Bekasi memastikan layanan kesehatan tetap siaga selama masa arus mudik dan libur Hari Raya Idulfitri.
Sebanyak 16 puskesmas disiapkan untuk beroperasi selama 24 jam guna mengantisipasi kebutuhan medis masyarakat dan para pemudik.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti Anggraeni, mengatakan pihaknya berkomitmen menjaga pelayanan kesehatan tetap berjalan meski memasuki masa libur Lebaran.
Hal tersebut disampaikan Satia dalam program bincang-bincang Ridho Berpeci yang ditayangkan melalui kanal YouTube Pemerintah Kota Bekasi.
“Menjaga kesehatan merupakan hal yang mutlak kita lakukan. Karena itu Dinas Kesehatan berkomitmen memberikan pelayanan penuh kepada masyarakat,” ujar Satia, dikutip Senin (16/3).
Ia menjelaskan, saat ini Kota Bekasi memiliki 55 puskesmas, lima Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), serta 44 rumah sakit swasta yang tetap memberikan pelayanan kesehatan selama periode libur Lebaran.
Untuk mengantisipasi kondisi darurat kesehatan, sebanyak 16 puskesmas disiapkan beroperasi selama 24 jam, terutama untuk menangani kasus kegawatdaruratan.
Menurut Satia, selama masa cuti bersama Lebaran, puskesmas tetap melayani masyarakat dan hanya tutup pada hari pertama Idulfitri. Setelah itu, pelayanan kembali berjalan seperti biasa.
“Untuk layanan kegawatdaruratan, khususnya pelayanan obstetri neonatal emergensi dasar, 16 puskesmas tetap buka 24 jam. Begitu juga dengan rumah sakit yang tetap memberikan pelayanan,” jelasnya.
Selain memastikan layanan kesehatan di fasilitas medis, Dinas Kesehatan Kota Bekasi juga menyiapkan tenaga kesehatan di sejumlah posko mudik yang tersebar di beberapa titik.
Di empat jalur utama mudik, petugas kesehatan disiagakan selama 24 jam dengan dukungan ambulans dan tenaga medis.
“Di setiap titik kami menyiapkan satu dokter, satu paramedis, serta satu pengemudi ambulans yang berjaga selama 24 jam,” kata Satia.
Tak hanya itu, Dinas Kesehatan juga meningkatkan pengawasan keamanan pangan menjelang Lebaran. Petugas melakukan inspeksi ke pasar tradisional hingga supermarket untuk memastikan makanan yang beredar aman dikonsumsi masyarakat.
Selain pengawasan pangan, Dinkes juga mengantisipasi potensi penyakit menular, termasuk malaria, mengingat sebagian pemudik datang dari daerah endemis seperti wilayah Nusa Tenggara, Lampung, dan Maluku.
“Kota Bekasi merupakan daerah bebas malaria. Karena itu kami melakukan surveilans di titik kedatangan untuk memastikan status tersebut tetap terjaga,” pungkasnya. (rez)











