Oleh: Dahlan Iskan
Pabrik hebat yang saya kunjungi ini dulunya hanya pembuat cangkul. Alat pertanian sederhana. Kini pabrik itu menjadi produsen alat berat terbesar di dunia: mengalahkan Caterpillar-nya Amerika maupun Komatsu-nya Jepang.
Lokasinya pun di satu kabupaten di pedalaman Tiongkong: Xuzhou.
Dari lima malam di Tiongkok, saya dua malam di Suzhou, satu malam di Huai An dan dua malam di Xuzhou. Sama-sama di provinsi Jiangshu. Dari bagian paling selatan ke kabupaten paling utara.
Pamitnya ke istri: saya ke Shanghai. Tapi acara di Shanghainya hanya setengah hari: ke perusahaan yang bisnisnya memeriksa semua produk yang dijual di pasar. Apakah kandungannya sesuai dengan ketentuan, mengandung gizi yang baik untuk kesehatan, dan apakah ada kandungan yang berbahaya bagi tubuh. Lalu ke Suzhou dan seterusnya itu.
Begitu saya sebut nama perusahaan pembuat alat berat terbesar di dunia itu Anda akan langsung tahu namanya: XCMG. Huruf X di depan itu kepanjangan nama kota Xuzhou. Tiga huruf di belakangnya singkatan Construction Machinery Group.
Saking besarnya pabrik ini, setiap empat menit menyelesaikan pembuatan satu ekskavator.
Pabrik ini sangat modern. Juga tertata rapi. Lingkungan pertamanannya terawat. Pakai robot di segala lininya. XCMG juga sudah mulai terkenal di Indonesia. Yakni di perusahaan-perusahaan tambang: nikel maupun batubara.
Untuk keliling pabrik disediakan mobil golf yang pakai kaca penutup. Udara di luar masih sangat dingin: delapan derajat. Beberapa stafnya menyapa saya dalam bahasa Indonesia. Mereka pernah bertugas di Jakarta. Pegawainya di Indonesia sudah 2.000 orang. Utamanya di perbaikan dan layanan pemeliharaan. Mereka memuji keterampilan pekerja Indonesia di bidang alat berat.
Setelah keliling di pabrik ekskavator, saya dibawa ke pabrik truk. Produksi truknya hanya dua macam: ukuran besar dan besar sekali. Yang disebut besar itu: ukuran 100, 200, sampai 300 ton. Bayangkan besarnya: truk besar yang sering Anda lihat termehek-mehek di jalan raya itu maksimal hanya: 40 ton. Sedang kategori besar di XCMG sampai 300 ton.
Berarti yang besar sekali memang super besar: 400 ton. Satu truk bisa angkut barang 400 ton. Anda lihat foto saya yang di dekat bannya: ban itu jauh lebih tinggi dari badan saya. Saya pun ingat ketika ke Freeport. Ke tambang tembaga dan emas di Papua itu. Truk-truknya sebesar itu.
Kendaraan kecil seperti yang saya tumpangi harus dipasangi semacam antena tinggi sekali. Di ujung antena itu dipasangi bendera kecil. Tujuannya: agar sopir truk super besar itu melihat ada mobil kecil di depannya. Tanpa tanda seperti antena itu mobil kecil tidak terlihat dari ruang kemudi. Lalu bisa tergilas seperti gajah bengkak menginjak banteng tua yang sudah ringkih.
Ada yang baru lagi. “XCMG sudah bisa memproduksi truk yang lebih besar dari yang super besar itu,” ujar manajer berbahasa Indonesia. Kapasitasnya 440 ton. “Baru XCMG yang bisa membuatnya. Berarti yang terbesar di dunia,” tambahnya.
Yang lebih baru lagi: ia memproduksi truk dan ekskavator warna hijau. Itu pertanda sudah tidak pakai BBM lagi. Sudah pakai listrik.
Saya pun ditawari naik ke ruang kemudi di truk terbaru itu. Sifatnya ditawari. Bukan diminta. Ruang kemudi itu sangat tinggi. Mereka tahu saya sudah berusia 75 tahun. Saya tersenyum kecil kepadanya: saya ingin naik.
Berarti saya harus naik dua tangga tinggi: tangga di samping truk dan tangga lanjutan di bagian lain truk itu. Lalu masuk ruang kemudi: luas sekali. Di sebelah kemudi bisa dihampar kasur ukuran king size. Saya pun ditawari duduk di atas kemudi. Tapi tidak ditawari menjalankannya.
Dari pabrik cangkul bisa berkembang seperti ini. Dari atas super truk itu saya ingat teman saya di Mlilir, kabupaten Ponorogo: Agus Imron. Ia memproduksi alat-alat pertanian. Waktu saya menjadi sesuatu, saya ke pabriknya. Saya curhat kepadanya: sulit cari alat pertanian produksi dalam negeri. Misalnya mesin panen padi. Lebih sulit lagi mesin tanam padi.
Akhirnya Agus Imron mampu membuatnya. Saya pun minta diuji coba di sawah. Saya berencana BUMN pupuk membelinya beberapa buah. Untuk diberikan ke kelompok tani. Sekalian mendukung pengembangan industri dalam negeri. Harapan saya begitu tinggi pada Agus: bisa jadi raksasa produsen alat pertanian.
Setelah saya expired, saya dengar Agus melakukan ekspansi besar-besaran. Ambil kredit bank. Menambah peralatan yang lebih baru dan besar.
“Saya dapat pesanan besar langsung dari bapak Presiden Jokowi,” katanya di media. Kalau tidak salah ingat: 200 mesin panen dan mesin tanam padi.
Berapa tahun kemudian saya baca berita: Agus marah-marah di media. Pesanan presiden itu tidak jadi. Agus telanjur ekspansi. Kreditnya macet. Perusahaannya pun bangkrut. Saya tidak sampai hati untuk menengoknya.
Beberapa tahun kemudian, ketika marahnya sudah reda, saya kirim WA kepadanya: harus bangkit lagi. “Bedanya pengusaha dan orang biasa adalah ini: pengusaha itu ketika jatuh selalu berusaha bangkit”.
Saya cemburu XCMG di Xuzhou. Fisik saya di sana, hati saya di Mlilir. (Dahlan Iskan)











