Berita Bekasi Nomor Satu

Garam Listrik

Oleh: Dahlan Iskan

Dari pabrik alat berat terbesar di dunia, saya berkendara ke arah timur. Satu jam. Lewat jalan tol. Berarti ke arah perbatasan Xuzhou dengan Provinsi Shandong. Di zaman Jepang, Kabupaten Xuzhou sempat dimasukkan menjadi bagian Provinsi Shandong. Setelah itu dikembalikan ke Provinsi Jiangsu.

Di dekat perbatasan itu saya mengunjungi pabrik pembuatan panel tenaga surya. Besar sekali. Di Tiongkok ini kok seragam: serbabesar atau besar sekali. Usia perusahaan ini baru 10 tahun. Pemiliknya anak muda. Agresif. Dalam 10 tahun bisa jadi raksasa begini.

Perang IsAm-Iran akan lebih melambungkan lagi pabrik seperti ini. Penutupan selat Hormuz hanya akan lebih menyadarkan siapa saja: sudah waktunya pindah ke tenaga surya. Juga ke mobil listrik. Tiongkok sudah 10 tahun di depan negara-negara Barat –saya belum menghitung berapa tahun di depan kita.

Karena lokasinya dekat Shandong maka ekspornya lewat pelabuhan-pelabuhan Shandong: Lian Yun Gang atau Qingdao. Saya sudah sering ke Qingdao. Termasuk ke pelabuhannya: besar.

Saya belum pernah ke Lian Yun Gang. Kotanya lebih kecil tapi pelabuhannya lebih besar. Juga lebih hebat. Di depan pelabuhan itu ada pulau memanjang. Bisa berfungsi sebagai water breaker alami. Mirip pelabuhan Bitung di Manado dengan skala puluhan kali lipat.

Ternyata selama lima hari di Tiongkok saya mengunjungi delapan pabrik. Semuanya serba raksasa: galangan kapal di Jiangyin –tepi bengawan Chang Jiang. Lalu ke pabrik teknologi masa depan –dengan taman, danau, dan ratusan pohon bonsai. Semua dinding gedungnya berlayar LED. Pun sampai lantai atas dan atasnya. Juga ke pabrik peralatan lab. Ke pabrik solar sel. Pabrik alat berat. Dua lagi tidak saya sebut. Lalu ke pabrik listrik: pembangkit listrik tenaga garam.

Di yang terakhir itu saya agak lama: baru kali ini menyaksikan apa yang sejak dulu sering saya baca di teori. Rongga yang terbentuk setelah garamnya ditambang bisa untuk menyimpan udara. Yakni udara yang dipadatkan.

Rongga itu letaknya di perut bumi: di kedalaman 1.500 meter. Besarnya rongga lebih dari 1 km2. Anda sudah tahu teorinya: rongga yang terbentuk di dalam tambang garam itu kedap udara. Dinding-dinding rongga itu masih berupa garam. Pun langit-langitnya. Udara tidak bisa bocor.

Mulut tambang pun dimasuki pipa raksasa. Udara dimasukkan ke rongga tambang. Dipadatkan.

Bagaimana cara memasukkan udara ke rongga tambang yang begitu besar? Tentu bukan dengan cara gotong-royong 1,4 miliar penduduk Tiongkok ramai-ramai meniupkan udara ke dalamnya. Ini pakai blower besar. Lalu pakai kompresor raksasa.

Untuk itu diperlukan tenaga listrik. Kelebihan listrik di siang hari dipakai untuk meniupkan udara dan memadatkannya.

Petang hari –sampai sebelum tengah malam– penutup rongga itu dibuka: udara pun lari keluar dengan kencangnya. Kecepatan udara itulah yang ditangkap turbin. Turbin berputar –memutar generator. Jadilah listrik.

Yang saya lihat itu turbinnya satu: 600 MW. Besar sekali. Di kota Huai An banyak sekali rongga tambang garam. Peninggalan masa nan lalu. Kini tiba-tiba bisa jadi durian runtuh.

Saya belum mau banyak bertanya. Ini masih baru. Belum genap dua bulan. Tahun depan saya ingin ke Huai An lagi.

Lima hari ke Tiongkok saya seperti menelusuri lorong waktu yang panjang: dari monumen penulis buku di abad ke empat belas, ke zaman Zhou En Lai, sampai ke zaman Tiongkok masa kini. Bahkan ke masa depan mobil dan robotnya.

Lima hari; delapan pabrik; empat kota; empat zaman. Nikmat apa lagi yang masih engkau dustakan.(Dahlan Iskan)