Berita Bekasi Nomor Satu

Pemkab Bekasi Kaji Pengembangan Wisata Konsep MICE

BAHAS KAJIAN: Balitbang Kabupaten Bekasi menggelar rapat membahas kajian pengembangan wisata berbasis konsep MICE. FOTO: ISTIMEWA

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pemerintah Kabupaten Bekasi mendorong pengembangan sektor pariwisata berbasis industri dengan konsep Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE).

Demikian disampaikan Kepala Bidang Sosial dan Pemerintahan (Sospem) Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kabupaten Bekasi, Wiwin Yuniarti, Rabu (25/3).

Wiwin menjelaskan, setiap daerah dituntut memiliki identitas atau branding pariwisata yang khas. Jika daerah lain dikenal dengan wisata alam atau kuliner, Kabupaten Bekasi diarahkan untuk mengembangkan wisata industri sebagai keunggulan utamanya.

“Setiap daerah itu punya ciri khas. Kabupaten Bekasi saat ini sedang digencarkan menjadi wisata industri, karena potensi industrinya memang besar,” ujar Wiwin.

Menurutnya, pengembangan wisata industri tidak hanya berfokus pada kawasan pabrik, tetapi juga harus terintegrasi dengan fasilitas pendukung, seperti kuliner, perhotelan, ruang pertemuan, hingga destinasi hiburan. Integrasi ini diharapkan meningkatkan daya tarik sekaligus mendongkrak perekonomian daerah.

“Kalau industri digabung dengan kondisi wilayah sekitarnya, seperti ada tempat kuliner, meeting, dan wisata, itu akan jadi menarik dan berdampak pada peningkatan infrastruktur serta ekonomi,” katanya.

Selain itu, konsep MICE ini diharapkan mampu mempromosikan Kabupaten Bekasi hingga ke tingkat internasional, seiring meningkatnya aktivitas industri dan bisnis di wilayah tersebut. Balitbangda berperan menyiapkan kajian strategis sebagai dasar kebijakan. Wiwin menyebut pihaknya tengah menganalisis potensi, peluang, dan kendala dalam pengembangan wisata MICE.

“Kami mengkaji apa saja potensi yang dimiliki, peluangnya seperti apa, serta kendala yang dihadapi. Hasilnya nanti akan menjadi rekomendasi kebijakan,” jelasnya.

Ia menambahkan, hasil kajian tersebut tidak hanya berupa rekomendasi, tetapi juga mencakup roadmap dan langkah-langkah strategis yang dapat diadopsi oleh Dinas Pariwisata dalam implementasinya. Proses kajian melibatkan berbagai perangkat daerah, seperti Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan UMKM, serta instansi terkait lainnya. Saat ini, kajian masih dalam tahap awal atau rapat pendahuluan.

“Ini masih tahap awal, jadi belum final. Tapi ke depan hasilnya akan menjadi acuan kebijakan yang dilaksanakan Dinas Pariwisata,” ungkapnya.

Wiwin juga mencontohkan potensi kawasan seperti Grand Wisata yang berdekatan dengan kawasan industri MM2100 sebagai model pengembangan MICE terintegrasi. Kawasan tersebut dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pusat kegiatan seperti pameran, rapat, hingga akomodasi.

“Harapannya ada percontohan, misalnya di kawasan yang dekat industri, tersedia hotel, tempat meeting, dan venue expo dalam satu area,” katanya.

Ia menyoroti fenomena perusahaan di Kabupaten Bekasi yang justru menggelar kegiatan di luar daerah, seperti di Tangerang atau Kemayoran. Kondisi ini dinilai sebagai peluang yang harus dimanfaatkan agar kegiatan bisnis dapat terserap di dalam wilayah sendiri.

“Jangan sampai perusahaan di Bekasi malah mengadakan kegiatan di luar daerah. Ini yang ingin kita tarik agar dampaknya kembali ke Bekasi,” tegasnya.

Namun demikian, Wiwin mengakui pengembangan wisata MICE masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan sumber daya manusia serta belum adanya fasilitas representatif berskala besar.

“Saat ini masih skala kecil. Perlu dorongan SDM, regulasi, serta dukungan investor agar bisa berkembang,” ujarnya.

Ia menegaskan, peran investor sangat penting dalam mewujudkan konsep tersebut, terutama dalam penyediaan infrastruktur dan fasilitas pendukung yang memadai.

“Kalau didukung regulasi, perizinan, dan insentif, tentu akan menarik investor. Ini akan saling menguntungkan,” terangnya.(and/*)