Berita Bekasi Nomor Satu

Carilah Muka

Oleh: Dahlan Iskan

Setengah jam lagi jadwalnya tiba: berangkat dari Tarim ke Mukalla, kota pantai, ibu kota provinsi Hadramaut, Yaman. Saya pun siap terguncang-guncang di jalan selama lima jam.

Tapi waktu seperti berhenti di Tarim. Satu-satunya yang tepat waktu hanyalah azan. Saya pun menunggu dan menunggu. Kendaraan yang ditunggu belum datang.

Setengah jam. Satu jam. Satu setengah jam. Saya menunggu di pinggir jalan. Di simpang empat berdebu di pojok pondok Darul Mustofa.

Untung waktu kecil saya biasa di situasi seperti itu. Waktu itu juga tidak pernah ada kejelasan jam keberangkatan kendaraan umum. Di mana-mana. Juga di stasiun Paron di Ngawi untuk jurusan Jogorogo. Kendaraannya, waktu itu, disebut oplet. Berangkatnya bukan jam berapa, tapi menunggu apakah sudah ada sejumlah penumpang yang akan dibawa.

Setelah menunggu lebih 1,5 jam, ”oplet” saya di Tarim tiba. Bagus. Toyota Noah. Mirip Innova. Di sebelah sopir sudah ada penumpang. Di kursi belakang sudah tiga orang. Masih ada tiga tempat duduk di tengah. Tapi calon penumpangnya hanya dua: saya dan Amang. Berarti masih harus menunggu satu penumpang lagi.

Ternyata tidak. Meski satu kursi di tengah masih kosong Noah berangkat dari Tarim. Debu beterbangan ke mana-mana kena putaran roda belakang Noah. Lumayan. Kursi tengah yang kosong ini membuat ruang agak longgar.

Begitu meninggalkan kota Tarim yang terlihat hanya gunung dan gunung. Bukan gunung batu. Itu gunung tanah. Permukaan gunung itu rata. Kalau di Indonesia akan disebut gunung meja. Tapi tidak ada gunung meja di Indonesia yang seluas itu.

Begitu banyak meja-meja luas di sepanjang mata memandang. Sebenarnya indah sekali. Tapi kalau keindahan berjejer dengan keindahan yang sama akhirnya tidak kelihatan mana yang indah. Apalagi jumlahnya banyak sekali.

Yang kelihatan adalah gersang. Kegersangan yang indah. Keindahan yang gersang. Sesekali timbul rasa ngeri. Di sela-sela meja itu terlihat rekahan-rekahan jurang yang dalam –seperti bumi di sini pernah hampir kiamat tapi tidak jadi.

Jalannya sendiri beraspal. Cukup untuk satu mobil dari arah sini dan satu mobil ke arah sana. Kualitas aspalnya seperti umumnya jalan non tol di Indonesia. Tidak mulus tapi juga tidak banyak berlubang.

“Apakah ini juga jalan menuju ke Oman?” tanya saya kepada Amang.

“Bukan. Ke Oman arahnya lain lagi,” jawab Amang.

Waktu saya tiba di Tarim, Amang masih di Oman. Keesokan harinya baru pulang dari Salalah, kota di Oman yang paling dekat Hadramaut. Amang jalan darat dari Salalah ke Tarim: 18 jam.

Orang Indonesia yang sekolah di Hadramaut juga biasa pulang dari Tarim lewat Salalah. Jalan darat. Dari Salalah ada penerbangan ke Doha –lanjut ke Jakarta.

Tapi ketika pergi ke Tarim tidak bisa lewat jalur yang sama. Harusnya bisa saja Jakarta-Doha-Salalah –sambung jalan darat ke Tarim. Atau Jakarta Dubai-Salalah. Jakarta-Muscat-Salalah. Tapi tidak bisa. Anda tidak bisa masuk Yaman dari Salalah. Hanya pulang dari Yaman boleh lewat Salalah.

Masuk ke Yaman berarti masuk ke ketidakpastian. Oman tidak mengijinkannya. Tapi keluar dari Yaman adalah meninggalkan ketidakpastian: boleh.

Saya pernah ke Salalah –zaman masih muda. Bahkan kali pertama saya ke luar negeri adalah ke Oman –ke Muscat dan Salalah. Itu kalau Tawao tidak bisa dikatakan luar negeri.

Saya ke Oman lagi tahun lalu. Sudah seperti bumi dan sidratul muntaha. Oman sudah menjadi negara modern yang kaya –dengan mata uang terkuat kedua di dunia, setelah Kuwait.

Hadramaut sebenarnya beruntung punya tetangga kaya semua: Oman di Timur dan Saudi di Utara. Tapi nasib memang tidak ditentukan oleh tetangga.

Itu beda dengan Indonesia Timur: tetangganya miskin semua. Di utara ada Mindanau yang miskin. Di Timur ada Papua Nugini yang lebih miskin. Di selatan sebenarnya ada Australia yang kaya, tapi yang terdekat dengan Indonesia adalah bagian Australia yang paling miskin: Darwin. Lalu punya tetangga baru, sayangnya juga miskin: Timor Leste.

Sebaiknya memang jangan menggantungkan nasib kepada siapa pun  –apalagi ke tetangga yang lebih miskin.

Untuk menghilangkan kebosanan saya menjawil penumpang di kursi depan. Saya tahu ia orang Indonesia. Dari wajahnya. Saya duga ia mahasiswa yang sedang kuliah di Tarim.

“Anda Indonesia kan? Dari daerah mana?”

“Saya dari Kartasura, Solo,” katanya.

“Sudah berapa lama di Tarim?”

“Satu tahun setengah”.

“Ke Mukalla untuk liburan?”

“Tidak. Saya akan operasi mata”.

“Hah? Operasi mata di Mukalla? Kenapa?”

“Mata saya minus. Cepat lelah kalau membaca kitab. Lampu di kamar saya kan tidak terang. Sering mati pula,” katanya.

“Operasi apa?”

“Lasik”.

“Berarti setelah operasi nanti tidak perlu lagi pakai kacamata?”

“Begitulah. Lebih enak”.

“Kapan operasinya?”

“Besok pagi”.

“Sudah janji lewat online”?

“Lewat telepon”.

“Berapa hari di Mukalla?”

“Besok operasi. Satu minggu lagi kontrol. Lalu kembali ke Tarim”.

“Tinggal di mana selama di Mukalla?”

“Di tempat teman dari Indonesia”.

Noah pun berhenti. Di tengah padang gunung yang gersang. Ada masjid kecil di pinggir jalan itu. Masjid yang seperti dikitari debu.

Kami semua turun dari mobil. Ke toilet yang berdebu. Lalu masuk masjid. Tidak ada karpet di lantainya. Hanya ada keramik. Debunya terlihat tebal di atas keramik itu.

Awalnya saya agak ragu salat di lantai berdebu seperti itu. Ada rasa jijik. Masak dahi ini harus menempel ke debu itu. Sudah terlalu lama biasa salat di masjid ber-AC  dan berkarpet tebal di Indonesia. Jijiknya  bukan main. Apalagi kaki yang basah oleh air wudu harus menginjak debu di lantai masjid. Muncul jejak-jejak telapak di lantai.

Setelah termangu sejenak saya ingat: inti salat adalah merendahkan hati serendah-rendahnya. Itulah mengapa harus rela menaruh muka yang sering dipakai cari muka ini ke tempat terendah di atas bumi: lantai. Tanah. Debu adalah tanah. Ke lantai berdebu itulah wajah basah ini kusujudkan. “Rasakan,” kata saya dalam hati kepada diri sendiri: “carilah muka di situ,” kata saya lagi. “Tidak ada lagi tempat mendongakkan kesombongan di situ.”

Di situ, di lantai berdebu itu, sujud justru perlu lebih berlama-lama.(Dahlan Iskan)