Berita Bekasi Nomor Satu

Oei Al-Kaff

 

Oleh: Dahlan Iskan

Foto di museum Mukalla ini tidak asing di literatur Nusantara: Sayyid Abubakar bin Syeikh Al-Kaff. Berpeci hitam tinggi.

Anda sudah tahu siapa ia: masih keluarga orang terkaya di seluruh tanah Melayu: Syekh Salim bin Abdullah Al-Kaff. Kekayaan Syekh Salim meluas. Mulai dari Batavia (Jakarta), Singapura, Johor sampai pun ke Malaka. Ia mirip Oei Thiong Ham dari Semarang: orang terkaya di seluruh Asia Tenggara setelah zaman Al-Kaff.

Ada orang Hadramaut lain yang juga tidak kalah dengan Al-Kaff. Namanya Al-Junaid. Ia orang terkaya setelah Al-Kaff dan setelah Thiong Ham. Sisa-sisa kejayaan Al-Junaid masih terasa di Singapura, pun sampai sekarang.

Tidak dengan Al-Kaff. Kekayaannya dihabiskan untuk wakaf. Di mana-mana. Di Jakarta. Di Singapura. Di Johor. Di Malaka. Lebih banyak lagi di Hadramaut –satu provinsi di Yaman Selatan.

Anda sudah tahu: saking kayanya Al-Kaff sampai Sultan Johor kala itu mengizinkannya punya mata uang sendiri. Yakni mata uang yang khusus beredar  di kawasan perkebunan karet  yang mahaluas di sana.

Museum ini tidak terlalu tua: dibangun tahun 1931. Saat ini sedang direnovasi. Banyak bagian bangunan berlantai dua itu rusak. Maklum, istana Sultan Hadramaut ini dibangun dengan bahan tanah. Bukan semen. Begitulah umumnya bangunan di sana.

Museum ini terlalu muda untuk jadi museum. Tidak menarik bagi saya: kecuali foto Al-Kaff. Ups…ada satu lagi yang menarik: ada lift di situ. Di zaman itu sudah ada lift –untuk naik ke lantai dua. Hanya saja teknologinya manual: dikerek pakai tali oleh tenaga manusia.

Bentuknya sih mirip sekali lift di mana-mana. Cukup untuk dua atau tiga orang. Hanya saja pintu liftnya hanya seperti pagar separo badan.

Hanya itu. Tidak ada lagi yang perlu dilihat di Mukalla. Amang mengajak saya melihat benteng. Tapi cukup dari luar. Saya takut bentengnya roboh. Lihatlah foto jepretan Redmi paling murah ini: separo fondasi benteng itu sudah longsor.

Maka saya pilih makan siang. Memang terlalu awal: pukul 11.00. Tapi mau apa lagi? Saya pun di bawa ke bagian kota yang ruwetnya seperti pasar pagi Samarinda tahun 1980-an. Ada resto kambing bakar khas Mukalla di situ.

Bakarnya dua cara: pakai arang  seperti sate atau pakai bejana: adonan dimasukkan ke dalam bejana yang amat panas. Seperti bikin roti chanai. Saya minta dua-duanya. Ingin membandingkannya.

Meski di situ ada meja plastik saya pilih ikut cara orang di sana: duduk di lantai. Keramik. Berdebu. Tanpa alas. Hanya untuk tempat makanannya dihampari plastik tipis.

Anda sudah tahu selebihnya: nampan besar disajikan. Diletakkan di atas plastik itu. Isi nampan: nasi mandhi, kambing bakar dua cara dan ayam bakar satu ekor. Ludes. “Laziiiit…,” kata saya mulai mempraktikkan bahasa Arab sehari-hari. Rupanya kata lezaaat asalnya dari Hadramaut.

“Di Mukalla jangan lupa makan lobster,” ujar Kholid Bawazier dalam balasan WA-nya.

Sebelum makan saya memang tiba-tiba ingat Kholid Bawazier –pengusaha besar Surabaya. Pasti kakek-moyangnya orang dari Hadramaut. Hanya saja saya tidak tahu di mana leluhurnya di sini.

Terakhir saya bertemu Kholid di Jeddah. Tiga bulan lalu. Yakni saat saya diundang menghadiri peresmian pabrik kopi Kapal Api Wazaran di Jeddah. Itulah pabrik kopi patungan antara keluarga Soedomo Mergonoto (grup Kapal Api) dengan keluarga Bawazir (grup Wazaran).

Wazaran –artinya: kaum Bawazier– punya pabrik mie Indomie di Jeddah. Di Lebanon. Di Mesir. Di Marokko. Di Spanyol. Di banyak negara Timur Tengah. Rumah ayah Soedomo di pecinan Surabaya dekat rumah ayah Kholid di kampung Arab Ampel. Saya mengenal baik dua keluarga ini.

“Saya ingin melihat pabrik Indomie Anda yang di Mukalla. Boleh?” tanya saya lewat WA.

“Belum ada pabrik Indomie di Mukalla. Yang ada di Aden,” jawabnya. “Tapi yang di Aden sedang tutup karena perang,” tambahnya.

“Kampung halaman nenek moyang Anda di Hadramaut di mana? Tarim? Mukalla?” tanya saya lagi.

“Di kota Doan. Lengkapnya di kota Wadi Doan,” jawabnya.

Kebetulan sekali. Setelah dua hari di Mukalla saya akan diajak Amang mampir ke Wadi Doan. Yakni dalam perjalanan balik dari Mukalla ke Tarim.

“Di Wadi Doan jangan lupa. Harus makan kambing bakar mathbi,” katanya.

Tentu. Baru sekali ini saya dengar ada kambing bakar mathbi. Tidak ada di kota lain di Hadramaut. Saya pun tidak sabar  ingin tahu seperti apa itu barang.

Wadi Doan: nama baru lagi di telinga saya. Kuper. Ternyata itu nama kota yang terkenal di Yaman. Masya Allah.(Dahlan Iskan)