Berita Bekasi Nomor Satu

Pascarentetan Teror, Keamanan Bumi Sani Tambun Diperketat

SEPI: Warga berada di Tempat Kejadian Perkara (TKP) penyiraman air keras di Perumahan Bumi Sani Permai, Tambun Selatan, Selasa (31/3). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Keamanan Perumahan Bumi Sani Permai, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, bakal diperketat dengan sistem satu pintu. Langkah ini dilakukan warga pascarentetan teror yang terjadi di kawasan tersebut.

Berdasarkan keterangan warga, teror berupa penyiraman air keras telah terjadi tiga kali sejak 2025. Peristiwa pertama menyasar sebuah kendaraan Toyota Fortuner pada Oktober 2025 di RT 01 RW 014. Kejadian kedua terjadi pada November 2025, kembali menyasar mobil serupa di RT 03 RW 014. Teror ketiga menimpa seorang warga lanjut usia berinisial TW (54), warga RT 03 RW 014.

Ketua RT 03 Perumahan Bumi Sani Permai, Mastuki, mengatakan pengurus RT 01, 02, dan 03 berencana merombak sistem pengamanan lingkungan setelah insiden penyiraman air keras yang menimpa TW. Warga sepakat akan menerapkan one gate system atau sistem satu pintu.

BACA JUGA: Warga Ungkap Ciri Pelaku Penyiraman Air Keras di Bumi Sani Tambun

“Ke depannya pintu masuk akan diperketat. Kami akan memberlakukan satu pintu masuk saja,” ujar Mastuki, Selasa (31/3).

Selain itu, jam operasional portal juga akan dievaluasi. Jika sebelumnya portal dibuka pukul 05.00 WIB, pengurus berencana mengundurkan waktu pembukaan menjadi pukul 05.30 atau 06.00 WIB untuk meningkatkan keamanan warga yang beraktivitas saat subuh.

Insiden yang menimpa TW terjadi saat korban hendak menuju musala untuk menunaikan salat subuh dalam suasana lingkungan yang masih sepi. Korban yang dikenal sebagai jemaah aktif musala kini menjalani perawatan intensif di ruang ICU akibat luka serius.

“Sangat menyedihkan, ini korbannya manusia. Kami sebagai sesama jemaah merasa sangat terenyuh. Perasaan keluarga pasti sangat hancur melihat kondisi korban di ICU,” katanya.

BACA JUGA: Warga Ungkap Ciri Pelaku Penyiraman Air Keras di Bumi Sani Tambun

Warga berharap kepolisian segera mengusut tuntas rangkaian teror yang dinilai telah mengganggu ketenangan lingkungan.

Sementara, seorang warga, Rahmat (46), mengaku sempat berpapasan dengan dua orang terduga pelaku sesaat sebelum kejadian.

“Pelaku berboncengan, menggunakan helm fullface hitam, kaca tertutup, pakai jaket warna hitam, motornya yang saya lihat menggunakan matic, warna putih gading,” ujar Rahmat.

Pertemuan terjadi di salahsatu persimpangan jalan kompleks. Saat itu Rahmat hendak menuju tempat ibadah dan melihat kedua pria tersebut masuk ke area perumahan dengan atribut yang tertutup rapat.

Menurutnya, penampilan kedua orang tersebut tidak lazim bagi tamu maupun warga, terlebih saat waktu menjelang salat subuh.

BACA JUGA: Warga Bumi Sani Tambun Disiram Air Keras Saat Menuju Musala

“Saya sebenarnya udah curiga, kenapa masuk komplek perumahan kok pakai helm tertutup. Tapi karena azan sudah mau waktu masuk salat, sudah mau dekat komat, saya nggak mikir panjang lagi tentang keberadaan si pelaku ini,” tambahnya.

Sesaat setelah berpapasan, kedua orang tersebut memacu kendaraannya ke arah berlawanan sehingga identitasnya sulit dipantau.

“Nah, kebetulan waktu itu saya arah ke kanan, dia (pelaku) sebelah kiri. Dia belok ke kiri, saya belok ke kanan. Setelah itu saya nggak tahu,” terang Rahmat.

Tak lama setelah saksi melintas, aksi penyiraman terjadi. Di mata warga, korban dikenal sebagai sosok baik, tidak memiliki masalah dengan orang lain, dan sedang dalam kondisi kurang sehat.

“Nggak ada (musuh). Korban ini orang baik. Nggak banyak cerita, nggak banyak ngomong. Karena dia punya riwayat sakit. Jadi dia banyak diam. Itu aja yang saya tahu,” kata Rahmat.

Keesokan harinya, kata Rahmat, sisa zat kimia di lokasi kejadian masih menunjukkan reaksi berbahaya. Lantai di tempat kejadian perkara dilaporkan masih mengeluarkan buih dan bau menyengat.

“Lantainya masih terasa panas saat diinjak, masih berbuih dan baunya sangat asam. Itu luar biasa,” tuturnya.

Sementara, Kapolsek Tambun Selatan, Kompol Wuryanti, mengatakan korban mengalami luka bakar sekitar 30 persen di sejumlah bagian tubuh.

“Luka bakar sekitar 30 persen di area wajah, telinga, leher, dada, perut, dan bahu,” ucap Wuryanti.

Usai kejadian, korban sempat mendapat pertolongan awal dari tetangga dan keluarga dengan air mengalir sebelum dibawa ke rumah sakit.

Polisi kini masih mengumpulkan bukti dan memeriksa saksi untuk mengungkap identitas pelaku. Polsek Tambun Polres Metro Bekasi juga berkoordinasi dengan Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri untuk mengidentifikasi jenis zat yang digunakan.

“Polisi sudah melakukan olah TKP, memeriksa para saksi, dan mencari letunjuk di sekitar TKP. Untuk jenis air kerasnya masih dalam penyelidikan, dan menjadi ranahnya Puslabfor untuk menyampaikan jenisnya,” pungkasnya. (ris)