RADARBEKASI.ID, BEKASI – Di tengah modernisasi, kearifan lokal Kabupaten Bekasi menemukan napasnya melalui perhelatan Lebaran Bekasi. Acara berbalut budaya ini tak boleh hilang sehingga mesti terus dijaga dan dilestarikan.
Perhelatan Lebaran Bekasi ke-9 digelar di Saung Bang Yusuf, Tambun Utara, Sabtu (4/4). Kemeriahan diawali dengan palang pintu dan pencak silat. Disusul parade budaya dari 23 kecamatan.Tradisi nyorog atau berbagi hantaran makanan menjadi sorotan utama.
Nyorog melambangkan eratnya kohesi sosial di tengah arus modernisasi. Seorang anak atau kerabat membawa buah tangan untuk orangtua sebagai bentuk penghormatan.
Ketua Panitia Lebaran Bekasi, Damin Sada, mengatakan kegiatan yang telah berlangsung selama delapan tahun itu lahir dari kekhawatiran memudarnya jati diri masyarakat Bekasi.
“Ini berawal dari keprihatinan agar adat dan budaya Bekasi tidak hilang. Lebaran Bekasi menjadi ajang silaturahmi, baik antar keluarga, tetangga, maupun masyarakat luas,” ungkap Damin, Sabtu (4/5).
Damin menyebut, di era digital saat ini, pertemuan fisik melalui silaturahmi memiliki esensi yang tak tergantikan.
“Kalau budaya sampai hilang, lalu apa identitas kita sebagai orang Bekasi? Karena itu harus terus kita gaungkan agar tetap hidup,” tambahnya.
Ia menyambut positif rencana Pemerintah Kabupaten Bekasi yang akan mengalokasikan anggaran rutin untuk kegiatan tersebut. Damin berharap dukungan itu dapat membuat penyelenggaraan Lebaran Bekasi semakin baik ke depan.
“Kalau dari dulu memang harapan kami ada dukungan anggaran. Yang penting kegiatan ini terus berjalan dan semakin baik ke depan,” terang Damin.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, mengatakan Lebaran Bekasi menjadi langkah penting untuk menjaga harmoni di daerah yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk ekspatriat dari 48 negara.
“Bekasi ini multikultur, ada pendatang dari sekitar 48 negara dengan jumlah penduduk 3,4 juta jiwa. Tapi budaya kita tidak boleh hilang. Lebaran Bekasi ini adalah kultur yang harus dijaga dan dilestarikan,” ujar Asep.
Ia menegaskan, nilai-nilai tradisional seperti menghormati orang tua harus tetap terjaga di tengah perubahan zaman. Pemerintah daerah pun berkomitmen menjadikan Lebaran Bekasi sebagai agenda rutin yang didukung anggaran daerah.
“Perpaduan antara masyarakat asli dan pendatang dari berbagai daerah telah membentuk karakter budaya Bekasi yang khas. Ini adalah kekuatan yang harus kita jaga bersama. Ke depan akan kita anggarkan secara rutin, karena ini bagian dari kebudayaan yang harus kita pertahankan agar tidak hilang,” pungkasnya. (ris)











