RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Nama Rachel Vennya kembali jadi perbincangan hangat di media sosial. Kali ini, ia dikabarkan terlibat pertengkaran dengan mantan suaminya, Niko Al Hakim atau yang akrab disapa Okin, yang disebut-sebut hingga berujung pada dugaan kekerasan fisik.
Isu tersebut mulai ramai beredar pada 6 April 2026, lewat unggahan di platform Threads. Salah satu akun, @budepji, mengaku melihat kejadian yang cukup menghebohkan di jalan.
“Ngeri banget habis ada kejadian gebuk-gebukan di jalan. Itu si Buna,” tulis akun tersebut dalam saluran broadcast-nya.
Spekulasi semakin berkembang setelah beredar foto yang memperlihatkan Rachel Vennya menutupi sebagian wajahnya.
Matanya terlihat basah dan sedikit bengkak, yang kemudian memicu berbagai dugaan dari warganet. Banyak yang mengira kondisi tersebut merupakan tanda lebam akibat insiden yang disebutkan.
Menanggapi kabar yang semakin liar, kuasa hukum Rachel, Sangun Ragahdo, mengaku belum mendapatkan informasi langsung dari kliennya terkait dugaan tersebut.
Saat ditemui di Polda Metro Jaya, ia menyebut belum bisa memastikan kebenaran kabar yang beredar.
Baca Juga: Pratama Arhan Lulus S1 dengan Ijazah Blockchain Pertama di Indonesia, Ini Penjelasannya
“Hingga saat ini saya belum dapat info langsung dari yang bersangkutan. Sepertinya juga belum ada informasi apa-apa,” ujarnya, dalam tayangan TikTok yang beredar, dikutip Selasa (7/4).
Terkait foto yang memperlihatkan kondisi mata Rachel, Sangun juga mengaku belum sempat memantau lebih jauh. Meski begitu, ia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam jika memang terbukti ada tindakan kekerasan.
“Kalau memang benar terjadi kekerasan, tentu tidak boleh kita diamkan,” tegasnya.
Di tengah ramainya isu tersebut, Rachel Vennya akhirnya buka suara melalui Instagram Story pribadinya. Ia langsung membantah kabar yang menyebut dirinya mengalami kekerasan.
“Kepencet foto aja guys, lagi ngaca pakai eye patch. Beneran, aman aja ini mah. Aku kan jago wushu,” tulis Rachel dengan nada santai.
Penjelasan itu pun sedikit meredakan spekulasi yang beredar. Meski begitu, kejadian ini kembali jadi pengingat betapa cepatnya informasi, baik yang benar maupun belum terverifikasi, menyebar di media sosial dan memicu berbagai asumsi publik. (MNA)











