Berita Bekasi Nomor Satu

Keuntungan Pedagang Kecil di Kabupaten Bekasi Tergerus Lonjakan Harga Bahan Baku

KEUNTUNGAN TERGERUS: Sejumlah warga memilih menu di kedai seblak Mama Aul di Desa Setiamekar, Kecamatan Tambun Selatan, Selasa (7/4). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Lonjakan harga bahan baku dalam beberapa hari terakhir menjadi pukulan bagi pedagang kecil di Kabupaten Bekasi. Biaya produksi yang melonjak belum bisa diimbangi kenaikan harga jual, sehingga keuntungan mereka tergerus.

Kondisi ini dirasakan Yada (40), pemilik kedai seblak Mama Aul di Desa Setiamekar, Kecamatan Tambun Selatan. Ia menyebut kenaikan terjadi pada sejumlah bahan, terutama bumbu.

“Dari bumbu, harga kencur naik dari Rp30 ribu sekarang Rp55 ribu,” ungkap Yada, Selasa (7/4).

Menurut Yadan, kenaikan harga secara ugal-ugalan juga terjadi pada bahan kemasan. Harganya melonjak cukup tinggi dalam waktu singkat.

“Plastik sebelumnya Rp5.500 sekarang Rp9.500 satu bungkus, styrofoam sebelumnya Rp20 ribu sekarang Rp28 ribu per pack, gelas plastik sebelumnya Rp14 ribu sekarang Rp21 ribu per pack,” terang Yada.

Padahal, pascalibur Lebaran 2026 seharusnya menjadi momentum baik bagi usaha kuliner pedas. Seblak menjadi pilihan warga yang mulai jenuh dengan makanan bersantan.

Rasa pedas dan segar dari kuah seblak dianggap mampu menyegarkan lidah setelah menyantap opor dan rendang.
Antusiasme itu sempat mendongkrak penjualan di kedai miliknya.

Saat puncak libur Lebaran, warung yang buka sejak pukul 10.00 WIB tersebut ramai pembeli, baik makan di tempat maupun dibawa pulang. Mayoritas pelanggan berasal dari kalangan remaja dan ibu rumah tangga.

“Kemarin libur Lebaran, keuntungan sempat mencapai Rp1,5 juta sehari karena banyak warga yang cari makanan yang segar-segar,” katanya.

Namun, kenaikan biaya operasional kini diakui Yada mulai menggerus keuntungan. Lonjakan harga bahan kemasan dalam sepekan terakhir dinilai cukup mengganggu stabilitas usaha.

Situasi ini membuat pedagang berada di posisi sulit. Jika harga dinaikkan, pelanggan berisiko berkurang. Jika dipertahankan, keuntungan semakin tipis. Untuk bertahan, Yada memilih menyesuaikan harga pada menu pendamping.

“Kenaikan terjadi sejak satu mingguan. Harga seblak gak kita naikin hanya minuman aja. Semuanya naik seribu. Seperti es nutrisi dari Rp3 ribu jadi Rp4 ribu. Es teler cup kecil dari Rp7 ribu jadi Rp8 ribu,” tuturnya.

Kondisi tersebut tidak hanya dialami Yada. Banyak pedagang lain yang bergantung pada kemasan plastik merasakan hal serupa.

Ia menduga kenaikan harga dipicu faktor global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak pada harga minyak dan bahan baku plastik.

Yada berharap kondisi segera membaik agar keuntungan yang sempat dirasakan saat Lebaran tidak habis untuk menutup biaya produksi yang terus meningkat.

“Dengar-dengar naiknya harga ini dampak dari konflik timur tengan perang Iran, Israel, Amerika,” tutup Yada. (ris)