RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pascainsiden kebakaran Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) di Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustikajaya, Pemerintah Kota Bekasi mulai mengkaji langkah tegas berupa relokasi fasilitas tersebut dari kawasan permukiman padat.
Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe menilai, keberadaan SPBE di tengah lingkungan warga sudah tidak lagi layak dipertahankan, mengingat risiko keselamatan yang tinggi.
“Nah ini kita coba hari ini saya akan rapat koordinasi dengan teman-teman, saya kira kalau kondisi sekarang saya sih berharap tidak mungkin lagi kita bolehkan lagi di situ, harus direlokasi karena itu pemukiman sudah padat sekali,” ujarnya, Selasa (6/4).
Selain relokasi, Pemkot Bekasi juga langsung bergerak melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh SPBE di wilayahnya. Tidak hanya yang berada di Cimuning.
“Bukan hanya SPBE yang ada di Cimuning saja, hari ini kita akan melihat, mereview SPBE yang ada di Kota Bekasi,” katanya.
BACA JUGA: DPRD Bakal Panggil OPD dan Pertamina Terkait Kebakaran SPBE Cimuning
Evaluasi tersebut akan melibatkan pemerintah pusat dan pihak terkait, termasuk Pertamina, guna memastikan seluruh operasional SPBE memenuhi standar keselamatan dan regulasi yang berlaku.
“Saya kira nanti kita akan lakukan dengan pemerintah pusat, terutama dengan Pertamina yang membawahi langsung. Kalau memang ada pelanggaran kita tertibkan, kemudian bagaimana keamanan juga harus kita maksimalkan,” jelasnya.
Harris juga menekankan pentingnya penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3), terutama kesiapan alat pemadam kebakaran di lokasi.
“Saya kira pertama tentunya K3, dimana peralatan pemadam kebakaran itu harus siap sedia. Jangan kemudian saat datang kebakaran, tapi pada awalnya itu harus ada pemadaman oleh pihak perusahaan,” tegasnya.
Ia turut menyoroti dugaan kebocoran gas yang menjadi pemicu utama ledakan. Menurutnya, kejadian tersebut menjadi alarm penting agar dilakukan pemeriksaan berkala terhadap seluruh peralatan operasional.
“Kemudian kan terjadi kemarin itu kebocoran, kebocoran kan luar biasa, ini harus kita antisipasi ke depan. Artinya harus ada pemeriksaan berkala terhadap alat-alat yang ada di situ,” ujarnya.
BACA JUGA: Belum Ada Tersangka Kebakaran SPBE di Cimuning, Kapolres: Masih Penyelidikan
Di sisi lain, Pertamina memastikan pihak pengelola SPBE akan bertanggung jawab penuh atas seluruh dampak yang ditimbulkan akibat insiden tersebut.
Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Regional Jawa Bagian Barat, Susanto August Satria, menyatakan bahwa manajemen SPBE telah berkomitmen menyelesaikan kerugian warga terdampak.
“Pertamina memastikan bahwa SPBE akan bertanggung jawab atas dampak dari insiden tersebut,” kata Susanto, Selasa (7/4).
Ia menjelaskan, proses ganti rugi akan melibatkan pemerintah daerah agar berjalan transparan dan sesuai kebutuhan warga.
“Pihak SPBE telah menyampaikan komitmennya untuk menyelesaikan rumah terdampak, seperti ganti rugi, dimana dalam prosesnya nanti akan melibatkan pemerintah setempat. Prinsipnya rumah dapat digunakan seperti sediakala,” jelasnya.
Sebagai bentuk respons cepat, Pertamina juga telah menyalurkan bantuan logistik bagi warga terdampak melalui program Pertamina Peduli.
“Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat melalui Pertamina Peduli sudah menyalurkan bantuan berupa makanan siap saji setiap hari kepada warga terdampak melalui posko gabungan,” tambahnya.
Sementara itu, data terbaru mencatat jumlah korban terdampak mencapai sekitar 22 orang. Sebagian besar mengalami luka ringan, namun dua orang dilaporkan meninggal dunia.(rez)











