RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Sejak kemunculannya pada tahun 2019, Shin Yuna telah mengukuhkan posisinya sebagai salah satu ikon visual paling menonjol di generasi keempat K-pop.
Dengan proporsi tubuh yang sempurna dan pesona yang selalu mencuri perhatian, ekspektasi terhadap debut solonya pun membubung tinggi di kalangan penggemar dan kritikus musik.
Namun, rilisnya mini album perdana bertajuk “Ice Cream” pada 23 Maret lalu membawa hasil yang cukup mengejutkan bagi industri.
Meskipun mendapat sorotan besar dari media, performa komersial “Ice Cream” dianggap tidak sesuai harapan.
Pada minggu pertama perilisannya, album ini hanya mencatat penjualan sekitar 101 ribu kopi. Angka tersebut dinilai rendah untuk standar artis di bawah naungan agensi raksasa JYP Entertainment.
Capaian ini bahkan berada di bawah performa solo rekan satu grupnya, Yeji, yang sebelumnya mencetak hasil lebih impresif di perusahaan yang sama.
Tak hanya dari sisi fisik, performa digital lagu utama “Ice Cream” juga menunjukkan tren penurunan yang cepat. Meski sempat mencatat debut yang menjanjikan di tangga lagu Bugs, minat publik tampak mereda dalam waktu singkat:
Minggu ke-1: Debut menjanjikan di beberapa chart.
Minggu ke-2: Turun drastis hingga keluar dari semua tangga lagu utama Korea Selatan.
Baca Juga: JNJM Is Coming! Jeno dan Jaemin NCT Bakal Sambangi Jakarta lewat Fan Meeting Tour ‘DUALITY’
Pengamat musik menilai bahwa meskipun lagu ini terdengar ringan dan easy listening, “Ice Cream” dianggap kurang memiliki hook yang kuat atau momen ikonik yang bisa menjadi viral.
Hal ini menyulitkan lagu tersebut untuk bersaing di platform video pendek seperti TikTok atau Reels yang kini menjadi kunci utama kesuksesan lagu pop.
Faktor lain yang membuat debut solo Yuna terasa kurang maksimal adalah momentum yang kurang menguntungkan.
Waktu promosi Yuna bertepatan dengan kembalinya grup fenomena dunia, BTS, yang mendominasi seluruh lini tangga lagu dan acara musik.
Akibat dominasi tersebut, Yuna gagal meraih kemenangan di acara musik mingguan dan harus menutup masa promosi solonya tanpa membawa pulang satu trofi pun.
Meski performa musiknya mendapat kritik, pesona visual Yuna tetap tidak tergoyahkan. Ia membuktikan bahwa reputasinya sebagai “Visual Queen” tetap kuat dengan kembali masuk dalam nominasi 100 Most Beautiful Faces of 2026.
Kini, perhatian para pengamat industri beralih ke aktivitas grup ITZY. Banyak yang menantikan apakah kembalinya grup ini secara utuh di masa mendatang mampu mengembalikan kejayaan mereka dan membuktikan dominasi ITZY di industri musik Korea Selatan yang semakin kompetitif. (MNA)











