Berita Bekasi Nomor Satu

Pekerja Migran Indonesia Diminta Tak Berleha-leha

TINJAU TEMPAT PELATIHAN: Wakil Menteri P2MI, Dzulfikar Ahmad Tawalla, meninjau tempat pelatihan kerja calon PMI di Welding Center PT Wihe Yeon Gyo Indonesia, Serangbaru, Kabupaten Bekasi, Kamis (9/4). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, mengingatkan para Pekerja Migran Indonesia (PMI) agar tidak menyia-nyiakan kesempatan selama bekerja di luar negeri.

Mereka diminta memanfaatkan waktu untuk meningkatkan keterampilan dan etos kerja, bukan berleha-leha. Dengan bekal itu, pengalaman kerja di luar negeri diharapkan bisa dikembangkan saat kembali ke tanah air.

“Paling tidak teman-teman yang bekerja di luar negeri itu tidak berleha-leha, tapi mereka pulang ke dalam negeri mentransformasikan pengalaman bekerjanya, skill-nya ke generasi-generasi muda yang lain di Indonesia,” terang Dzulfikar.

Hal itu dikatakan Dzulfikar saat meninjau kesiapan calon PMI di Welding Center PT Wihe Yeon Gyo Indonesia, Serangbaru, Kabupaten Bekasi, Kamis (9/4). Dzulfikar menilai pola pelatihan di lembaga tersebut cukup komprehensif. Selain membekali peserta dengan keterampilan teknis, pelatihan juga menekankan penguasaan bahasa serta pembentukan sikap kerja.

“Pelatihan bahasanya ada, kemudian juga dilatih attitude, skill basic. Alhamdulillah semua yang masuk di lembaga pelatihan ini itu bisa dinyatakan 100 persennya terserap,” ucap Dzulfikar.

Ia menyebut, sebanyak 35 calon PMI yang tengah menjalani pelatihan merupakan lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dari Bekasi dan sekitarnya. Mereka mengikuti program peningkatan keterampilan selama tiga hingga empat bulan sebelum diberangkatkan ke sektor formal di luar negeri.

Menurutnya, selama tiga tahun terakhir penempatan PMI masih didominasi ke Taiwan dan Hong Kong, terutama di sektor domestik.

“Karena memang secara penyiapan pekerja di dalam negeri lebih banyak yang siap terserep ke sana ketimbang yang sektor-sektor yang lain di negara-negara lain,” katanya.

Ia menekankan pentingnya pemanfaatan pengalaman kerja selama di luar negeri. Menurut Dzulfikar, umumnya

pekerja yang dikontrak satu tahun dan dapat diperpanjang hingga lima tahun.

Di sisi lain, lanjut Dzulfikar, pemerintah tengah berupaya menggeser komposisi pekerja migran dari sektor berkeahlian rendah ke sektor terampil. Berdasarkan data 2025, sekitar 70 persen PMI masih berada di sektor rendah keterampilan.

“Presiden berharap supaya ini kalau bisa dibalik. Paling tidak yang skill itu 60 persen dan yang low skill itu tersisa kurang lebih sekitar 40 persen. Nah target kita kurang lebih seperti itu,” pungkasnya. (ris)