Berita Bekasi Nomor Satu

Patahkan Stigma Individualistis, Kehidupan Sosial Apartemen di Kota Bekasi Tetap Hangat

INTERAKSI RUANG HUNIAN : Anak-anak bermain air di area fasilitas kolam apartemen Centerpoint, sementara warga lain beraktivitas di sekitarnya, Bekasi, Minggu (12/4). Fasilitas komunal di kawasan apartemen menjadi ruang interaksi sosial bagi penghuni di tengah keterbatasan lahan hunian vertikal. RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Di tengah ritme hidup serba cepat, penghuni apartemen kerap dicap individualistis. Namun hal tersebut tak sepenuhnya benar.

Pantauan Radar Bekasi di Apartemen Grand Center Point Bekasi, stigma itu dipatahkan. Dari meja tenis hingga kegiatan keagamaan, ruang-ruang interaksi sengaja dibangun untuk merajut kebersamaan di hunian vertikal.

Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (P3SRS) setempat mendorong berbagai aktivitas kolektif. Salah satunya melalui olahraga tenis meja yang kini menjadi titik temu warga lintas lantai.

“Kita ciptakan ruang lewat hobi. Dari situ orang jadi akrab,” ujar Pengawas P3SRS, Agus Supriyono.

Tak hanya olahraga, aktivitas keagamaan di masjid apartemen juga menjadi simpul interaksi. Agus mengakui, mengelola hunian vertikal bukan perkara mudah. Minimnya pertemuan tatap muka membuat komunikasi antarwarga menjadi tantangan utama.

“Penghuni itu sibuk, jarang bertemu, komunikasi sering hanya lewat grup. Karena itu, komunikasi jadi kunci,” katanya.

Pantauan di lokasi, apartemen 18 lantai yang dihuni lebih dari 400 kepala keluarga itu dilengkapi fasilitas kolam renang, food court, hingga taman. Area komunal ini ramai dimanfaatkan, terutama saat akhir pekan.

Di sisi lain, pengurus P3SRS juga berupaya menembus sekat dengan warga sekitar. Hubungan dengan lingkungan RT/RW setempat dibangun untuk mempermudah urusan administratif sekaligus menghapus kesan eksklusif apartemen.

“Dulu terkesan terpisah, sekarang kita membaur. Warga sekitar sudah menganggap kita bagian dari mereka,” ungkap Agus.

Kolaborasi itu juga terlihat saat momen sosial, seperti pendistribusian zakat fitrah melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) yang menjangkau warga sekitar hingga lebih luas.

Salah satu penghuni, Mufti (74), merasakan langsung dampak kedekatan tersebut. Meski hidup di tengah kesibukan, solidaritas antarwarga tetap terjaga.

“Pernah ada tetangga sakit, saya langsung tutup toko untuk bantu. Di sini tetap ada rasa tolong-menolong,” tuturnya.

Mufti yang tinggal bersama keluarga di lantai 5 bahkan rutin berbagi makanan saat Lebaran, termasuk kepada penghuni nonmuslim. Baginya, interaksi sosial di apartemen tak kalah hangat dibanding perumahan tapak.

Sementara itu, Koordinator Wilayah Forum Komunikasi P3SRS Jawa Barat, Aji Ali Sabana, menilai kualitas kehidupan sosial di hunian vertikal sangat ditentukan oleh pengelolanya. Ia mendorong percepatan pembentukan P3SRS serta regulasi daerah untuk memperkuat tata kelola apartemen di Kota Bekasi.

“Ini amanat undang-undang dan penting untuk kepentingan warga. Harus dipercepat, termasuk sinkronisasi dengan pemerintah pusat,” tegasnya.

Ia juga menilai, apartemen dengan ratusan kepala keluarga perlu memiliki struktur pengurus lingkungan setingkat RT guna mempermudah layanan administrasi warga. (sur)