Oleh: Dahlan Iskan
Medan. Saya hanya punya waktu me time dua jam di Medan Rabu sore lalu. Yakni setelah tampil di depan 500 lebih nasabah Bank Permata di sana. Pilihan untuk memanfaatkannya hanya dua: ke Ucok atau ke Si Bolang –dua-duanya restoran khusus durian.
Sebenarnya saya ingin kuliner yang lain. Begitu banyak makanan khas Medan. Tapi saya sudah makan siang dan masih akan makan malam bersama.
Durian Ucok kini sudah bukan warung pinggir jalan lagi. Ucok sudah ditata seperti umumnya resto kelas menengah atas: bersih, rapi, terhormat.
Yang membuat saya tidak bahagia: duriannya habis.
Kok bisa.
“Lagi tidak musim,” kata petugasnya.
“Kok tetap buka?” tanya saya.
“Siapa tahu ada yang mau makan durian frozen,” jawabnya.
Sebetulnya saya mau juga. Durian beku tidak turun rasa duriannya. Hanya saja belum bisa dimakan saat itu juga. Harus ditunggu setidaknya 15 menit. Itu pun masih seperti es. Harus tunggu empat jam baru mendapat tekstur yang ideal.
Durian beku umumnya sudah dalam bentuk kupasan. Kalau untuk menghilangkan bekunya pakai pemanas, rasa dan teksturnya tidak normal.
Saya pernah. Sekali. Makan durian beku. Masih utuh. Durian itu dibekukan masih lengkap dengan kulit dan duri-durinya. Membekukannya pakai nitrogen. Tetap saja sangat sulit membuka kulitnya.
Maka saya pilh meninggalkan Ucok. Masih ada satu lagi: Si Bolang. Tidak kalah penampilannya. Bersih, tertata, rapi. Lantainya dibuat dari rumput sintetis yang terawat hijau.
Letak Si Bolang hanya 10 menit bermobil dari Ucok. Tapi sejak turun dari mobil sudah terlihat mengkhawatirkan: tidak ada pajangan durian yang berjajar-jajar. Semua raknya kosong. Meski sudah pesimistis tetap saja turun sampai ke tujuan: ups… masih ada lima butir.
“Tinggal black thorn,” ujar pelayannya. Maksudnya: tinggal yang harganya mahal.
Apa boleh buat. Ambil satu. Dibuka. Benar-benar black thorn. Local black thorn. Saya memakannya dengan cara black thorn: diisap lembut, dirasakan di mulut, dibiarkan beberapa detik di lidah –seperti makan es krim di Taman Alice. Lama-lama habis.
Sebenarnya mau ambil lagi. Tapi tidak tega: yang antre di dekat sisa yang empat itu lebih dari lima orang.
Masih punya sisa waktu me time satu jam lagi. Mendung Medan menggelayut hitam. Di sana hujan sudah datang mendahului Riau, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Dedaunan pohon sudah tampak hijau sampai pun rumput di bawahnya. Setelah dari Sulawesi yang kerontang mata terasa sejuk dengan hijaunya Medan.
Dari pada kehujanan lebih baik balik hotel. Saya minta dilewatkan Lapangan Merdeka. Memutarinya. Sudah bagus. Penataan lapangan Merdeka saya anggap berhasil.
Saya putuskan balik ke hotel: saya masih punya utang: hari itu belum olahraga.
Itu gara-gara paginya harus ke bandara sebelum matahari terbit. Maka kini saatnya bayar utang.
Saya pun menuju gym-nya: di lantai 17. Ramai. Saya cari ruang yang biasa untuk yoga. Di situ enak untuk senam dansa. Ruangnya tidak terlalu besar –musik dari HP pun cukup terdengar keras oleh kaki saya.
Tapi .. ups… ruang yoga itu ramai sekali. Riuh. Saling teriak. Mereka tidak yoga. Mereka main pingpong di ruang itu. Satu meja pingpong dipakai bergantian. Ketika buka pintu saya ditawari untuk pingpong melawan mereka. Saya lirik kualitas permainan mereka: kelas Arwana Jaya semua. Saya minder. Dan lagi niat saya ke situ memang untuk senam dansa.
Di ujung ruangan terlihat ada panggung. Mungkin biasa dipakai guru yoga untuk mengajar. Di situlah saya memutar lagu untuk senam. Kaki saya mendengarkan lagunya dengan susah payah: kalah nyaring dengan teriakan-teriakan pemain pingpong yang puas bisa mengecohkan bola ke lawannya.
Sore itu saya senam sendirian –tapi rasanya seperti senam dengan seribu orang.
Komunitas pingpong di Medan ternyata fanatik. Mereka membeli sendiri meja pingpong itu. Sesi pingpong mereka berakhir sebelum saya menyudahi semi aerobik. Meja pingpong itu dilipat. Ditaruh rapi di sudut ruangan –untuk besok lagi.
Malam itu acaranya berat: prospek ekonomi ke depan. Pembicaranya ahli keuangan dari Verdhana: Heriyanto Irawan dan fund manager dari Trimegah Jakarta. Heriyanto belum lama pulang dari Beijing. Ia mendampingi Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut B. Panjaitan menemui Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi. Saya mencermati pembicaraan mereka: keadaan ekonomi ke depan tidak mudah bagi pengusaha.
Siangnya ada juga pertanyaan mengenai ekonomi ke depan bagi pengusaha di Medan. “Pengusaha itu keadaan sulit harus dibuat mudah. Keadaan mudah harus dibuat sulit,” kata saya. “Pengusaha itu tetap berusaha dalam keadaan seperti apa pun,” tambah saya.
Malam itu, pengusaha Medan yang terkenal se Indonesia duduk di sebelah saya: Jonathan Junus. Masih muda. Ia juga nasabah lama Bank Permata. Ayahnya menyekolahkan Jonathan ke Amerika. Lulus dari North Carolina ia mencoba jadi pengusaha di sana. Kesimpulannya: masih lebih mudah jadi pengusaha di Indonesia.
Jonathan pun pulang ke Medan. Ayahnya punya pabrik yang bisa membuat pabrik. Semua pengusaha sawit tahu perusahaan itu: mampu membuat PKS –pabrik kelapa sawit. Terutama boilernya.
Saya menganggap keluarga Jonathan adalah pahlawan Medan –bahkan Indonesia. Pabrik apa pun di Indonesia biasanya buatan luar negeri. Tapi khusus PKS yang terbanyak adalah buatan Medan. Mulai dari Aceh sampai Papua –sudah ada satu PKS di Papua.
Ada lebih 1000 pabrik kelapa sawit di seluruh Indonesia. Lebih dari separonya buatan Medan. Buatan Jonathan. Buatan Tiongkok pun kalah. Apalagi buatan Malaysia. Baru di PKS kita bisa jadi tuan rumah di negara sendiri.
Kini Jonathan sudah dipercaya sepenuhnya mengendalikan perusahaan. Ayahnya masih rajin ke kantor tapi hanya sebagai penasihat.
Perusahaan itu sendiri didirikan oleh kakeknya. Lalu dikembangkan oleh ayahnya.”Kakek saya orang hebat. Juga bapak saya. Kakek tidak sekolah tapi menguasai permesinan,” ujar Jonathan. Sang kakek juga berwawasan jauh. Anak-anaknya, termasuk ayah Jonathan, disekolahkan di Amerika. Perusahaan itu pun kokoh sampai generasi cucu seperti Jonathan.
Di Medan ternyata saya tidak hanya menemukan durian. Di Medan saya juga menemukan pahlawan ekonomi Indonesia. (Dahlan Iskan)











