RADARBEKASI.ID, BEKASI – Persoalan pengerjaan proyek sekolah muncul di sejumlah titik di Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Dalam sidak ke tiga sekolah, anggota DPRD Kabupaten Bekasi Jiovanno Nahampun menemukan persoalan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), bangunan lama yang belum dibongkar, hingga pekerjaan yang dinilai tidak sesuai dengan rencana anggaran.
Tiga sekolah yang ditinjau yakni SMPN 1 Tambun Selatan, SD Jatimulya 11, dan SMPN 14 Tambun Selatan. Ketiganya tengah menjalankan proyek berbeda, dari rehabilitasi ruang kelas hingga pembangunan gedung baru.
Di SMPN 1 Tambun Selatan, misalnya, Jiovanno menemukan peralatan bangunan ditempatkan di ruang kelas yang masih digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Kondisi tersebut, menurut dia, menunjukkan persoalan K3 dalam pelaksanaan proyek.
“Kita masih menemukan K3-nya bermasalah. Yang seharusnya alat-alat bangunannya disiapkan di tempat berbeda, ini malah ditaruh di dalam ruang kelas. Ini harus menjadi perhatian khusus kepada Dinas Cipta Karya dan Pemerintah Daerah,” ucap Jio, Senin (5/10/2026).
Temuan berbeda dijumpai di SD Jatimulya 11. Di sekolah itu, bangunan lama disebut belum dirobohkan. Jiovanno juga menyoroti penggunaan pondasi suntik yang dinilainya tidak sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Sementara di SMPN 14 Tambun Selatan, proyek pembangunan delapan ruang kelas baru (RKB) dua lantai baru memasuki tahap pondasi. Proyek di sekolah ini menjadi bagian penting bagi upaya penambahan daya tampung siswa.
“Berarti dua bulan ke depan nanti kita akan tinjau lagi lapangan pengawasannya seperti apa,” katanya.
Di SMPN 1 Tambun Selatan, kebutuhan rehabilitasi muncul dari kondisi bangunan yang sebelumnya mengalami kerusakan. Proyek kini menyasar 14 ruang kelas dari total 33 rombongan belajar yang menampung sekitar 1.423 siswa.
Sementara, Staf Sarana dan Prasarana SMPN 1 Tambun Selatan, Edi Purwanto, mengatakan tiga ruang kelas dengan kerusakan paling parah harus dikosongkan. Kegiatan belajar sementara dipindahkan ke gedung kosong karena plafon dan atap ruang kelas dinilai membahayakan.
“Plafonnya sudah pada jebol, gentengnya juga sudah pada bocor, takutnya pas di musim hujan itu airnya masuk ke dalam, terus ada banjir juga ke dalam. Yang tiga kelas yang parah, kita alihkan ke gedung yang kosong dulu sementara karena takut ambruk,” kata Edi.
Karena itu, ia berharap rehabilitasi tidak hanya menyelesaikan persoalan bangunan, tetapi juga meningkatkan fasilitas penunjang kegiatan belajar mengajar.
“Harapannya kita butuh mebeler, toilet yang bagus, jadi anak-anak juga enggak naik turun, tidak mengganggu belajar mengajar,” sambungnya.
Sementara itu, Kepala SMPN 14 Tambun Selatan Sariyanto Kusumo mengatakan pembangunan delapan ruang kelas baru (RKB) dua lantai di sekolahnya diharapkan dapat mengakhiri sistem pembelajaran dua sif yang selama ini dinilai kurang efektif bagi kondisi fisik dan konsentrasi siswa. Gedung baru tersebut diproyeksikan dapat menampung hingga 280 siswa.
“Saya jujur menyambut baik. Karena di 2028-2029 di Kabupaten Bekasi sudah tidak boleh dua sif, makanya dengan adanya pembangunan gedung baru ini saya sangat diuntungkan karena nanti bisa jadi satu sif. Kalau yang siang kan kasihan, udah pada ngantuk. Dengan adanya gedung ini insya Allah nanti ada satu sif biar efektif semuanya,” ujar Sariyanto.
Ia menekankan pentingnya faktor keamanan dan ketepatan waktu agar bangunan dapat langsung dimanfaatkan pada semester baru.
“Ya inginnya kita mah semuanya safety. Dari segi keamanannya, keindahannya, semuanya konstruksinya kuat. Biar semuanya aman buat guru dan anak-anak,” pungkasnya. (ris)











