Berita Bekasi Nomor Satu

Naik Jabatan Wajib Jago Bahasa Inggris, ASN Senior Pemkot Bekasi Mulai Resah?

Gambar Ilustrasi AI

RADARBEKASI.ID, BEKASI  – Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi berupaya memperkuat langkahnya menjadi kota bertaraf internasional melalui kemampuan Bahasa Inggris aparaturnya. Dalam hal ini Aparatur Sipil Negara (ASN) yang telah berusia lanjut memerlukan pendekatan tersendiri, jangan sampai syarat berupa kemampuan berbahasa inggris mengganggu produktivitas.

Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi bakal menghadapi tes kemampuan bahasa Inggris sebagai bagian dari persyaratan untuk naik ke jenjang berikutnya. Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengatakan, kemampuan bahasa Inggris tersebut bukan menjadi syarat bagi seseorang untuk diterima sebagai ASN.

Namun, kemampuan tersebut nantinya berkaitan dengan jenjang karier ASN di lingkungan Pemkot Bekasi.

“Bukan syarat penerimaan ASN, tapi terkait dengan syarat untuk nanti naik ke jenjang berikutnya,” kata Tri saat ditemui usai apel di kantor Pemkot Bekasi, Kecamatan Bekasi Selatan, Senin (5/10).

Tri menjelaskan, tes bahasa Inggris akan dilakukan secara bertahap. Pada tahap pertama, tes baru mencakup ASN hingga eselon 3A.

BACA JUGA :

“Oh iya nanti tuh. Ini kan sekarang kami baru tahap 1 kan, baru sampe eselon 3A, nah nanti setelah itu kami coba tes eselon 3B nya,” jelasnya.

Sebelumnya, Tri menjelaskan kemampuan bahasa Inggris diperlukan seiring semakin terbukanya hubungan kerja sama dan investasi Pemkot Bekasi dengan pihak luar negeri.

Hal tersebut berkaitan dengan upaya Pemkot Bekasi mendorong transformasi Kota Bekasi menuju kota bertaraf internasional.

Pemkot Bekasi juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah kota di luar negeri, di antaranya Izumisano di Jepang dan Seongnam di Korea Selatan.

Selain itu, Pemkot Bekasi sebelumnya menerapkan kebijakan One Day English bagi ASN, khususnya dalam pelaksanaan rapat virtual saat Work From Home (WFH).

Kebijakan tersebut diarahkan untuk membiasakan ASN menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasi pekerjaan sekaligus meningkatkan kemampuan mereka dalam menghadapi kebutuhan kerja sama internasional.

Wacana ini mendapat sambutan positif dari akademisi dan Anggota DPRD Kota Bekasi. Kemampuan berkomunikasi dengan bahasa asing merupakan syarat penting untuk menjadi bagian dari kota global.

Anggota Komisi I DPRD Kota Bekasi, Muhammad Kamil menyampaikan bahwa kemampuan berbahasa Inggris bukan sekedar memberi nilai lebih, namun kewajiban bagi ASN. Pasalnya, saat ini baik masyarakat umum maupun ASN Kota Bekasi semakin sering bersinggungan dengan bahasa asing, utamanya bahasa inggris dalam berbagai platform digital.

“Tentunya ini menjadi kewajiban ASN untuk bisa berbahasa Inggris. Agar juga mempercepat skill pekerjaan mereka, jangan sampai karena keterbatasan pemahaman bahasa Inggris mereka tidak bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan harian mereka, misalkan pakai AI atau software-sorftware yang basisnya masih inggris tentunya itu menjadi kewajiban,” ungkapnya.

Menurutnya, seluruh ASN terlebih yang belum menguasai bahasa Inggris mesti serius memanfaatkan One Day English sebagai sarana belajar, serta membiasakan berbahasa Inggris.

Kamil menyebut dirinya setuju jika kemampuan berbahasa asing ini menjadi salah satu syarat ASN naik ke jenjang karir berikutnya.

“Saya setuju, syukur-syukur tidak hanya bahasa inggris saja. Mungkin bisa tambah Arab, China, Korea dan lainnya, itu bisa menjadi sebuah kelebihan,” tambahnya.

Penempatan kemampuan berbahasa Inggris sebagai syarat dalam jenjang karir dinilai akan membuat ASN berupaya meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa asing. Langkah ini selaras dengan upaya untuk menjadi kota bertaraf internasional.

“Karena Bekasi kan berkomitmen untuk menjadi kota internasional. Ketika menjadi kota internasional maka salah satu hal yang mendasar itu adalah perlu dikuasainya cara berkomunikasi dan berbahasa global,” kata Kepala Prodi Magister Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Indonesia, Harun Al Rasyid.

Penguasaan bahasa bahasa Inggris bagi kalangan ASN menurut Harun akan memberikan beberapa manfaat. Pertama, meningkatkan kompetensi profesional. Kedua, mendukung komunikasi internasional.

“Lucu kalau kemudian komitmen itu dijalankan sebagai bentuk keinginan untuk menjadi kota internasional tapi tidak memiliki kemampuan minimal untuk berkomunikasi,” ungkapnya.

Manfaat berikutnya meningkatkan dukungan kerjasama dan diplomasi daerah, dimana kerjasama antar daerah saat ini juga dilakukan bersama dengan pemerintah daerah di luar Indonesia. Ke empat, meningkatkan kemampuan presentasi dan negoisasi. Terakhir, memperluas akses terhadap pengetahuan global.

Memperhatikan yang disampaikan oleh Wali Kota Bekasi, Harun menilai syarat berbahasa Inggris bukan menjadi syarat utama. Syarat utama dalam jenjang karir ASN tetap terdiri dari pengalaman, kepangkatan secara administratif, dan sebagainya.

Menurutnya hal ini perlu disambut baik. Namun demikian Harun mengingatkan bahwa tidak semua ASN memiliki kemampuan belajar yang sama, terutama ASN yang telah berusia lanjut.

“Cuma memang perlu disadari bahwa leveling di ASN kan berbeda-beda, ada yang masih muda, ada yang senior. Nah itu perlu juga menjadi pendekatan tersendiri bagi pak wali kota,” ujar Harun.

Sementara bagi kelompok ASN yang masih berusia muda kata Harun, syarat ini mestinya menjadi tantangan bagi mereka untuk meningkatkan kualitas dan kemampuannya dalam berbahasa asing.

Menurutnya, Kota Bekasi harus memperkuat langkahnya sebagai kota internasional. Saat ini pun kata Harun, letak strategis Kota Bekasi berdekatan dengan DKI Jakarta sebagai kota metropolitan telah banyak berhubungan dengan investasi luar negeri. (rez/sur)