Berita Bekasi Nomor Satu

Imbas TPA Burangkeng Longsor, Pelayanan Pembuangan Sampah Tersendat

ANTRE: Antrean truk di TPA Burangkeng, Setu. FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Pelayanan pembuangan sampah di TPA Burangkeng, Setu, Kabupaten Bekasi, tersendat. Pasalnya dari dua zona pembuangan, kini hanya satu yang aktif.

Satu zona tidak aktif akibat longsor yang terjadi pada Jumat (26/12). Selain itu, akses truk pengangkut sampah ke lokasi terganggu karena alat berat digunakan untuk menata tumpukan sampah pasca longsor.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) TPA Burangkeng, Samsuro, mengakui volume sampah meningkat pasca libur Natal. Berdasarkan catatannya, volume sampah yang biasanya 950 ton per hari naik menjadi 1.050 ton per hari.

“Pasca libur Natal ini sampah meningkat sangat luar biasa. Sampah yang tadinya 950 ton, sekarang sudah sampai 1.050 ton per hari,” ucap Samsuro, Selasa (30/12).

Akibat longsor di salahsatu zona pembuangan, kini hanya satu zona yang bisa digunakan. Samsuro menyebut curah hujan tinggi beberapa waktu terakhir juga menjadi salahsatu penyebab longsor.

“Hujan yang sangat tinggi beberapa minggu yang lalu, bahkan sampai kemarin sore masih terjadi hujan lebat. Kemudian di beberapa titik zona pembuangan, pelayanan kita mengalami pergeseran sampah yang sangat luar biasa,” katanya.

Samsuro mengungkapkan, TPA Burangkeng yang sudah overload sejak 2014 hanya memiliki dua zona pembuangan. Selama penanganan longsor, pembuangan sampah sempat ditutup selama tiga hari.

“Pelayanan sudah dilakukan di shelter selatan,” tuturnya.

Untuk mencegah longsor susulan, pihak TPA membuat undakan atau menata sampah dengan sistem terasering. Mengingat curah hujan tinggi diperkirakan akan terjadi hingga Januari 2026, Samsuro meminta maaf kepada masyarakat Kabupaten Bekasi jika beberapa hari ke depan terjadi keterlambatan pengambilan sampah karena hanya satu zona yang aktif.

“Langkah kami sudah membuatkan terasering sudah kita bentuk, artinya untuk mengurangi beban longsoran sampah. Karena ini faktor cuaca yang sangat tidak bisa kita berprediksi,” tandas Samsuro. (ris)