RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sampah kiriman dari Jakarta dan Kota Bekasi kerap tersangkut di wilayah Kabupaten Bekasi, tepatnya di Kali Jambe yang melintasi Tol Jakarta–Cikampek Km 19, Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan. Fenomena ini hampir selalu terjadi setiap musim hujan.
Sebagian besar sampah berupa limbah rumah tangga yang berasal dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dan Sumur Batu, Kota Bekasi. Sampah tersebut hanyut terbawa arus hingga menumpuk dan menyumbat aliran Kali Jambe.
Masalahnya, sampah kiriman ini tidak dapat dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng karena bukan berasal dari wilayah Kabupaten Bekasi. Akibatnya, tumpukan sampah diletakkan di bahu Jalan Tol Jakarta–Cikampek, memicu bau tak sedap yang dikeluhkan pengendara dan warga sekitar. Berdasarkan perhitungan Pemerintah Kabupaten Bekasi, volume sampah yang menumpuk mencapai 157 ton.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi, Donny Sirait, menjelaskan bahwa tingginya curah hujan menyebabkan sampah dari luar daerah terbawa arus dan tersangkut di crossing Tol Japek Km 19. Untuk mengantisipasi kejadian berulang, DLH memasang kubus apung sebagai penahan sampah.
“Namun jika curah hujan sampah yang bukan dari Kabupaten itu lolos tak kuat menahan arus sehingga menyumbat gorong gorong di km 19,” ucap Donny, Minggu (11/1).
Gunungan sampah yang menimbulkan bau menyengat tersebut juga mendapat perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Pada Kamis (8/1), Dedi meninjau lokasi dan memerintahkan DLH Kabupaten Bekasi berkolaborasi dengan DLH Kota Bekasi untuk memindahkan sampah ke TPST Sumur Batu.
Saat ini, proses pengangkutan masih berlangsung dengan mengerahkan dua alat berat dan 10 armada truk milik DLH Kabupaten Bekasi.
“UPTD DLH wilayah II mengirimkan sepuluh armada dan saya akan kawal sampai clear. Karena jika sampah sampai longsor, timbunan sampah ini akan memutus jalur nasional tol Jakarta Cikampek,” tambah Kepala UPTD II DLH Kabupaten Bekasi, Adi Suryana.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi, Endin Samsudin, mengakui bahwa sumber utama sampah tersebut berada di TPST Sumur Batu. Ia menyebutkan, penanganan Kali Jambe sebelumnya telah dibahas bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan PT Indocement, namun rencana kerja sama tersebut belum dapat direalisasikan karena keterbatasan anggaran.
“Sinergitas kita untuk kerja samanya harus selalu berjalan dan harapan ke depannya tidak ada lagi sampah di Kabupaten Bekasi itu jadi masalah. Kita tidak boleh saling menyalahkan, tetapi kita harus saling menyadari bahwa ini adalah menjadi kewajiban
pemerintah, baik pemerintah kabupaten maupun pemerintah Kota Bekasi,” tutup Endin. (ris)











