RADARBEKASI.ID, BEKASI – Program penataan lingkungan RW mulai menggerakkan ekonomi sampah Kota Bekasi. Dalam tiga bulan terakhir, volume sampah yang dikelola bank sampah melonjak dua kali lipat dan nilainya kini menembus hampir Rp300 juta per bulan.
Direktur Bank Sampah Induk Patriot (BSIP) Mulyanto Diharjo mengatakan, sepanjang 2025 jumlah RW yang memiliki bank sampah meningkat tajam menjadi 1.015 lingkungan. Dari jumlah itu, bank sampah yang aktif melakukan penimbangan dan pelaporan naik dari 443 unit menjadi 602 unit.
“Dalam tiga bulan terakhir saja yang aktif bertambah 40 unit. Dari sisi volume, sebelumnya sekitar 65 ton per bulan, sekarang sudah 130 ton. Nilai ekonominya dari rata-rata Rp120 juta kini hampir Rp300 juta per bulan,” kata Mulyanto, Senin (12/1).
Lonjakan kinerja itu juga tercermin dalam data tahunan. Sepanjang 2024, total pengurangan sampah di Kota Bekasi masih di bawah 800 ton, terdiri dari 635 ton sampah anorganik dan 145 ton sampah organik. Nilai ekonominya tercatat sekitar Rp1,5 miliar.
Sementara pada akhir 2025, angka itu melonjak menjadi lebih dari 1.000 ton, dengan komposisi lebih dari 900 ton sampah anorganik dan sekitar 200 ton sampah organik. Nilai ekonomi dari pengelolaan sampah tersebut mencapai sekitar Rp2,2 miliar.
“Di 2024 belum sampai 800 ton dengan nilai Rp1,55 miliar. Di 2025 sudah lebih dari seribu ton dengan nilai sekitar Rp2,2 miliar,” ujarnya.
Meski demikian, Mulyanto mengungkapkan masih ada sekitar 400 bank sampah di tingkat RW yang belum aktif melakukan penimbangan. BSIP akan terus melakukan sosialisasi dan pendampingan agar unit-unit tersebut bisa segera beroperasi.
“Kita terus dorong lewat sosialisasi. Secara bertahap mereka akan aktif,” katanya.
Menurutnya, peluang itu terbuka karena setiap RW telah menerima anggaran Rp100 juta melalui program penataan lingkungan, sehingga memiliki sumber daya untuk memfasilitasi operasional bank sampah. Namun, percepatan masih terkendala minimnya biaya operasional bagi relawan pengelola.
“Kalau pendampingan bisa lebih masif, pertumbuhannya akan lebih cepat. Tapi saat ini kami masih terbatas di biaya operasional relawan,” pungkasnya.(sur)











