RADARBEKASI.ID, BEKASI – Keberadaan polder penampungan air di Perumahan Bumi Fajar Indah RW 20, Kelurahan Jakasampurna, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi, rupanya belum mampu mengatasi persoalan banjir.
Polder air yang dibangun sejak 2019 dan dilanjutkan pada 2020 sempat menjadi harapan warga dalam menyelesaikan persoalan banjir musiman. Namun realitanya, banjir masih rutin merendam kawasan permukiman setiap kali hujan deras turun. Seperti yang terjadi sepanjang akhir pekan kemarin.
Salah satu warga, Yongki (54), mengatakan secara konsep polder sebenarnya memiliki fungsi yang baik, yakni menampung kelebihan air dari jalan dan mengalirkannya ke sungai.
Namun menurutnya, penempatan polder di kawasan Bumi Fajar Indah dinilai kurang tepat karena lokasi perumahan berada di area cekungan.
“Harusnya polder ini ada di ujung, mungkin ke arah Kranji. Karena air itu semua mengalir ke sana. Sekarang bisa dilihat, ketinggian air di polder hampir sama dengan air di jalan,” ujar Yongki Minggu (18/1).
Yongki juga menyoroti kondisi sungai di sekitar perumahan yang mengalami pendangkalan. Akibatnya, air dari sungai kerap meluap ke jalan dan permukiman meski sudah terdapat polder penampungan.
“Kalau sungainya dangkal, air dari kali melimpah ke jalan. Polder jadi tidak maksimal fungsinya. Buktinya, ada polder tapi kita tetap banjir,” katanya.
Polder tersebut berada di area fasilitas sosial dan fasilitas umum RW 20 dengan luas sekitar 4.500 meter persegi, dari total lahan fasos-fasum sekitar 7.000 meter persegi.
Di kawasan itu juga terdapat kantor RW, bank sampah, dan taman warga. Yongki berharap pemanfaatan dan fungsi polder dapat dikaji ulang, termasuk penanganan di wilayah hulu sungai.
Sementara itu, Satrio, Ketua RW 20 Bumi Fajar Indah, menjelaskan banjir dipicu oleh luapan sungai akibat hujan deras yang mengguyur sejak sore hingga dini hari.
“Biasanya hujan satu jam saja sungai sudah meluap dan turun ke jalan. Ini hujan dari sore sampai sekitar jam tiga dini hari, jadi banjir tidak terhindarkan,” jelas Satrio.
Menurut Satrio, ketinggian air banjir di wilayah tersebut bervariasi antara 40 hingga 60 sentimeter dan berdampak pada lima RT atau sekitar 200 kepala keluarga. Meski demikian, tidak ada warga yang harus dievakuasi.
“Alhamdulillah tidak ada evakuasi. Banjir yang paling parah itu terjadi tahun 2020 dan 2025,” tambahnya.
Warga berharap pemerintah dan pemangku kepentingan terkait dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap fungsi polder, normalisasi sungai, serta penanganan wilayah hulu agar banjir tidak terus berulang di kawasan Bumi Fajar Indah. (rez)











