Berita Bekasi Nomor Satu

Macron Respons Trump Soal Greenland dan Bocornya Pesan Pribadi, Sebut Imperialisme Baru

Emmanuel Macron menyindir “imperialisme baru” di Davos usai Trump bocorkan pesan pribadi soal Greenland, menegaskan Eropa menolak perundungan. Foto: Tangkapan layar Instagram @emmanuelmacron.

RADARBEKASI.ID, DAVOS – Presiden Prancis Emmanuel Macron angkat suara secara terbuka setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membocorkan pesan pribadi mereka ke media sosial.

Meski tak menyebut nama Trump secara langsung, pidato Macron di Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos pada Selasa (20/1/2026) sarat dengan sindiran keras terhadap arah kebijakan Washington, termasuk ambisi AS merebut Greenland dari Denmark.

Pidato Macron di Davos berlangsung di tengah memanasnya ketegangan diplomatik lintas Atlantik. Sebelumnya, Trump mengunggah tangkapan layar pesan pribadi Macron di Truth Social, yang menunjukkan kebingungan Presiden Prancis atas sikap AS terkait Greenland serta usulannya untuk menggelar pertemuan G7 di Paris dengan melibatkan Rusia di sela agenda resmi.

Dalam pidatonya di hadapan para pemimpin dunia dan pelaku ekonomi global, Macron menegaskan bahwa Eropa tidak boleh ragu menggunakan seluruh instrumen yang dimilikinya untuk melindungi kepentingan sendiri.

“Eropa tidak seharusnya ragu untuk mengerahkan semua alat yang dimilikinya demi menjaga kepentingannya,” ujar Macron, di tengah dampak diplomatik dari bocornya pesan pribadi tersebut dan ancaman tarif dagang yang terus dilontarkan Trump.

BACA JUGA: Soal Greenland, Trump Bocorkan Pesan Macron ke Medsos

Sindiran Terbuka soal Dominasi AS

Dengan mengenakan kacamata aviator khasnya, Macron berbicara tegas mengenai persaingan global yang menurutnya mulai mengarah pada upaya subordinasi Eropa.
Ia mengkritik pola kompetisi Amerika Serikat yang dinilai ingin menempatkan Eropa dalam posisi lemah.

“Persaingan yang kita hadapi hari ini bertujuan untuk mensubordinasikan Eropa,” kata Macron, sembari menekankan bahwa benua itu harus segera membenahi persoalan internalnya.

Macron mendorong Eropa untuk mempercepat inovasi dan meningkatkan investasi swasta di sektor-sektor strategis, sebagai cara mengurangi ketergantungan pada kekuatan global lain, termasuk Amerika Serikat.

Meski berfokus pada isu ekonomi, Macron beberapa kali menyelipkan pernyataan bernuansa politik dan geopolitik. Ia membuka pidato dengan kalimat yang disambut tawa audiens.

“Ini seharusnya menjadi masa damai, stabil, dan penuh kepastian,” ucap Macron, sebelum menambahkan bahwa dunia justru bergerak ke arah sebaliknya, instabilitas dan ketidakseimbangan yang makin nyata.

Ia menilai konflik kini telah menjadi sesuatu yang ‘dinormalisasi’ di tingkat global. Dalam sindiran tidak langsung yang diyakini ditujukan kepada Trump, Macron menyebut bahwa meski 2025 diwarnai puluhan konflik bersenjata, ada pihak yang mengklaim sebagian konflik itu telah ‘diselesaikan’. Pernyataan paling tajam datang di bagian akhir pidatonya.

“Ini bukan waktunya imperialisme baru atau kolonialisme baru. Ini adalah waktunya kerja sama untuk menyelesaikan tantangan global bagi warga kita,” tegas Macron.

Ia menutup dengan kalimat yang kembali dibaca sebagai kritik langsung terhadap gaya kepemimpinan Trump.

“Kami lebih memilih rasa hormat daripada perundungan. Kami lebih memilih supremasi hukum daripada kekerasan,” tandas Macron. (jpc)