RADARBEKASI.ID, BEKASI – Industri media dan profesi jurnalistik terus menghadapi tantangan berat pasca kemunculan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intellegence (AI). Masa depan industri media dan nasib jurnalisme di tengah gempuran AI di berbagai sektor, pun banyak dipertanyakan.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri media global memasuki fase perubahan yang jauh melampaui disrupsi digital biasa. Seiring percepatan kecerdasan buatan atau AI yang dikembangkan dan dipopulerkan oleh ekosistem teknologi dunia, mulai dari lingkar bisnis Elon Musk hingga Sam Altman, jurnalisme kini menghadapi tekanan struktural yang menyentuh inti keberlanjutan ekonominya.
Pada prinsipnya, para eksekutif media tidak memandang AI sebagai kekuatan yang akan menghapus profesi jurnalis secara total. Namun demikian, yang menjadi kekhawatiran utama adalah potensi runtuhnya model bisnis media tradisional. Dengan kata lain, jurnalisme diperkirakan tetap bertahan, tetapi tanpa sokongan trafik digital dan iklan yang selama ini menopang ruang redaksi global.
BACA JUGA: Ambisi Tiongkok Soal Teknologi Kecerdasan Buatan Terhalang 2 Masalah Ini
Kekhawatiran itu menguat, sebagaimana tercermin dalam laporan yang dikutip Futurism, Selasa (20/1/2026), yang merujuk pada survei Reuters Institute for the Study of Journalism (RISJ). Survei terhadap lebih dari 280 pemimpin media dari 51 negara menunjukkan ekspektasi penurunan trafik situs berita rata-rata mencapai 43 persen dalam tiga tahun ke depan, sebuah proyeksi yang berpotensi mengguncang kelangsungan bisnis media.
Lebih jauh, laporan RISJ menegaskan bahwa penurunan trafik sejatinya telah terjadi sebelum ledakan AI. Akan tetapi, kemunculan chatbot yang berfungsi sebagai pengganti mesin pencari mempercepat tren tersebut.
Data analitik yang dikutip RISJ mencatat trafik global dari Google Search ke situs berita telah merosot 33 persen, menandai pergeseran mendasar cara publik dunia mengakses informasi.
Dalam konteks itu, peneliti senior RISJ, Nick Newman, menilai industri media tengah memasuki fase akhir dari “era trafik.” Kepada The Guardian, Newman menyatakan, “Tidak jelas apa yang akan datang berikutnya.”
Dia menambahkan, “Penerbit khawatir chatbot AI menciptakan cara baru yang lebih praktis untuk mengakses informasi, yang dapat membuat merek berita dan jurnalis tertinggal.”
Meski demikian, Newman menegaskan bahwa dominasi teknologi tidak sepenuhnya menentukan masa depan jurnalisme. “Platform teknologi tidak memegang semua kartu,” ujarnya.
Menurut Newman, “Berita yang andal, analisis ahli, dan sudut pandang tetap penting bagi masyarakat, terutama di masa penuh hoax dan ketidakpastian. Penceritaan yang kuat dan sentuhan manusia akan sulit direplikasi oleh AI.”
Sementara itu, tekanan finansial yang semakin berat mendorong sebagian perusahaan media mengadopsi AI secara agresif. Namun, langkah ini kerap dipandang berisiko. Teknologi yang masih rawan kesalahan faktual dinilai dapat menggerus prinsip dasar jurnalisme, terlebih ketika penerapannya beriringan dengan pemutusan hubungan kerja yang melemahkan kapasitas redaksi.
Sebagai gambaran, di Amerika Serikat, The New York Times telah memanfaatkan AI untuk membantu penyusunan judul. Di sisi lain, The Washington Post sempat meluncurkan podcast berbasis AI yang dipersonalisasi. Namun, inisiatif tersebut menuai kritik tajam karena mengandung kesalahan fakta dan editorialisasi, memicu kemarahan internal serta sorotan luas dari publik.
Secara keseluruhan, kondisi ini mencerminkan pesimisme yang mengakar di kalangan elite media global. Laporan RISJ mencatat hanya 38 persen pemimpin media yang optimistis terhadap masa depan jurnalisme, turun 22 persen dibandingkan empat tahun lalu. Angka tersebut menegaskan rapuhnya kepercayaan industri terhadap model bisnis yang berlaku saat ini.
Pada akhirnya, untuk bertahan, para penerbit menilai jurnalisme harus kembali menegaskan keunggulan yang tidak mudah ditiru mesin. Fokus diarahkan pada liputan investigatif, pelaporan lapangan, dan kisah riil manusia, sementara berita umum dan jurnalisme layanan diperkirakan akan semakin terkomoditisasi oleh AI. Di titik inilah, jurnalisme global dipaksa menutup satu era dan membuka babak baru yang lebih sempit secara ekonomi, tetapi lebih menentukan secara nilai. (jpc)











