Berita Bekasi Nomor Satu

Warga Terdampak Banjir di Pantai Harapan Jaya Muaragembong Butuh Bantuan Logistik dan Obat-obatan

BANJIR: Kondisi banjir luapan sungai Ciherang di Kampung Penombo, Desa Pantai Harapan Jaya, Muaragembong, Kamis (22/1). FOTO: ARIESANT/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Sudah lebih dari sepekan banjir melanda Desa Pantai Harapan Jaya, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi. Hingga saat ini, banjir belum surut. Warga sangat membutuhkan bantuan logistik serta obat-obatan karena mulai terserang penyakit.

Berdasarkan data Desa Pantai Harapan Jaya, sebanyak 4.933 jiwa atau 1.522 kepala keluarga terdampak banjir. Ribuan warga tersebut tersebar di 10 kampung, antara lain Kampung Penombo, Pengarengan, Bulak, Padat Karya, Utan Gendong, Sungai Kramat, Bagedor, Penombo Barat, Sungai Labuh, dan Pondok Dua.

Dari pantauan Radar Bekasi, banjir yang paling signifikan masih terjadi di Kampung Penombo, Pengarengan, dan Bagedor. Luapan Sungai Ciherang bahkan memutus akses jalan warga, membuat pengendara sepeda motor mogok, sementara air dari area persawahan merangsek masuk ke jalan dan permukiman. Meski begitu, sebagian anak-anak justru memanfaatkan banjir sebagai tempat bermain.

Ketinggian air di 21 Rukun Tetangga (RT) bervariasi antara 10 hingga 60 centimeter. Dari pendataan pihak desa, banjir berdampak pada 1.172 rumah, termasuk 369 balita dan 211 lansia.

Kepala Dusun 3 Desa Pantai Harapan Jaya, Kari Nuryanto, menyebut banjir ini sebagai yang pertama terjadi di 2026. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, banjir kali ini menjadi yang terlama.

“Ini banjir akibat luapan Sungai Ciherang dan sudah terjadi sekitar 10 hari,” ucap Kari, Kamis (22/1).

Ia menambahkan, meski Pemerintah Desa telah menyiapkan lokasi pengungsian, sebagian besar warga tetap memilih bertahan di rumah karena khawatir dengan barang-barang mereka. Menurutnya, warga sangat mengharapkan bantuan.

“Warga sangat mengharapkan bantuan logistik dan obat-obatan, karena banjir yang sudah lebih dari sepekan mulai berdampak ke masalah kesehatan,” katanya.

Sementara itu, Babinsa Desa Pantai Harapan Jaya, Sersan Mayor Zaenal Frendi, mengungkapkan berbagai masalah kesehatan mulai muncul di tengah warga, seperti penyakit kulit gatal-gatal dan meriang. Kondisi ini dipicu oleh genangan air di rumah warga serta jalan akses yang tak kunjung surut.

“Hampir merata di setiap rumah warga mengalami sakit gatal-gatal. Dari 27 RT, sebanyak 21 RT sudah terdampak banjir,” terang Zaenal.

Zaenal menambahkan, bantuan logistik dan obat-obatan bagi warga terdampak sampai saat ini masih terbatas dan tidak semua warga mendapatkannya. Ia berharap pemerintah daerah maupun pihak swasta dapat memberikan bantuan untuk meringankan beban masyarakat serta mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas.

“Sekitar 10 hari (banjir). Sebagian besar warga memilih bertahan di rumah masing-masing. Adapun kebutuhan mendesak berupa bantuan kesehatan dan obat-obatan sangat dibutuhkan,” tuturnya.

Tak hanya berdampak pada pemukiman, banjir yang sudah terjadi 10 hari ini juga membuat SDN Pantai Harapan Jaya 03 menghentikan kegiatan belajar mengajar. Akses menuju sekolah terendam, sementara halaman dan ruang kelas tergenang air setinggi 40 centimeter.

Salahsatu orangtua murid, Feri (41), mengatakan setiap banjir kegiatan belajar selalu diliburkan demi keselamatan siswa. Ia mengaku belum mengetahui kepastian kapan sekolah akan kembali dibuka.

“Sudah sekitar dua mingguan sekolah diliburkan. Aktivitas belajar sementara di rumah masing-masing dan sampai sekarang belum ada pemberitahuan kapan masuk lagi,” tandasnya. (ris)