Berita Bekasi Nomor Satu

Perumahan Jatibening Permai Pondok Gede Enam Kali Kebanjiran Sejak Awal 2026

EVAKUASI: Warga dievakuasi menggunakan perahu karet saat banjir merendam permukiman di Jatibening Permai, Pondok Gede, Kota Bekasi, Kamis (22/1). FOTO: RAIZA SEPTIANTO/RADAR BEKASI

RADARBEKASI.ID, BEKASI – Banjir kembali merendam Perumahan Jatibening Permai, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, Kamis (22/1). Warga mencatat, banjir yang terjadi akibat hujan deras dan luapan kali tersebut sudah terjadi enam kali sejak awal tahun ini.

Seorang warga Jatibening Permai, Bintang (32), mengatakan banjir terbaru mulai menggenangi kawasan permukiman sekitar pukul 10.00 WIB setelah hujan deras turun sejak pagi hari.

“Banjir dari tadi kurang lebih pukul 10.00 siang. Hujan sebenarnya sempat berhenti beberapa kali, tapi turun lagi dengan intensitas deras. Akhirnya air dari kali meluap ke jalan,” ujar Bintang.

Menurutnya, ketinggian air di sejumlah titik mencapai hampir selutut orang dewasa, bahkan semakin ke dalam kawasan permukiman, genangan air semakin tinggi.

“Kalau di dalam kompleks bisa lebih dalam lagi. Perkiraannya ada yang sampai 110–120 sentimeter, karena kontur jalan menurun,” katanya.

Bintang menyebut, banjir bukan kali ini saja melanda kawasan tersebut. Sejak awal 2026, warga telah mengalami banjir sekitar lima hingga enam kali.

“Kalau dihitung dari awal tahun ini, mungkin sudah lima sampai enam kali banjir. Setiap hujan deras, air cepat sekali naik,” ucapnya.

Ia menjelaskan, banjir dipicu oleh curah hujan tinggi, luapan kali, serta kondisi saluran air yang tersumbat endapan lumpur dan sampah, sehingga aliran air tidak berjalan maksimal.

“Hujan 30 sampai 45 menit saja air sudah langsung naik. Beberapa saluran mampet karena lumpur mengendap,” jelas Bintang.

Selain itu, banjir di Jatibening Permai juga disebut sebagai banjir kiriman, mengingat posisi kawasan tersebut berada di hilir dari sejumlah perumahan lain.

“Air dari atas semua ke sini. Walaupun kedalaman kali sekitar dua meter, tapi volumenya besar, jadi akhirnya tumpah,” katanya.

Banjir juga berdampak pada aktivitas warga. Banyak warga terpaksa menitipkan kendaraan di luar kompleks, bahkan tidak sedikit yang harus menunda aktivitas kerja karena akses keluar permukiman terendam.

“Karena terjadi di hari kerja, banyak warga yang akhirnya enggak bisa keluar, ada yang ambil cuti juga,” ujar Bintang.

Diketahui, Perumahan Jatibening Permai dihuni sekitar 350 kepala keluarga (KK). Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera turun tangan menangani persoalan banjir yang telah berlangsung bertahun-tahun.

“Kami berharap ada tindak lanjut dari Pemkot dan pihak terkait, termasuk yang mengelola saluran air. Mungkin bisa dilakukan pelebaran saluran atau pembersihan endapan lumpur dan sampah,” pungkasnya. (rez)