RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Insanul Fahmi akhirnya memenuhi syarat yang dimintakan oleh Wardatina Mawa, istri sahnya, sebagai bentuk upaya perdamaian atas konflik rumah tangga yang tengah mereka hadapi.
Salah satu syarat utama tersebut adalah kesediaan Insanul Fahmi untuk secara terbuka mengakui kesalahan dan menyampaikan permohonan maaf atas tindakannya menikah siri dengan Inara Rusli tanpa seizin sang istri.
Permintaan maaf itu disampaikan Insanul Fahmi di tengah proses hukum yang masih berjalan. Diketahui, Wardatina Mawa sebelumnya melaporkan Insanul Fahmi dan Inara Rusli ke Polda Metro Jaya terkait dugaan kasus perzinaan pada 22 November 2025. Laporan tersebut kini masih dalam tahap penanganan pihak kepolisian.
Dalam pernyataan tertulisnya, Insanul Fahmi menyampaikan permohonan maaf dengan penuh penyesalan dan kesadaran diri. Ia mengaku sebagai manusia yang tidak luput dari dosa dan kekhilafan.
“Saya Insanul Fahmi, melalui pernyataan ini, dengan segala kerendahan hati dan kesadaran penuh sebagai manusia yang tidak luput dari dosa, saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya kepada istri saya, Wardatina Mawa, beserta ibu dan ayah, juga keluarga besar tentunya yang sangat saya hormati,” ujar Insanul Fahmi.
Ia secara terbuka mengakui bahwa perbuatannya telah memberikan dampak yang sangat besar bagi Wardatina Mawa. Pernikahan yang telah mereka bina selama tujuh tahun, menurutnya, tercoreng oleh keputusannya yang keliru.
Insanul Fahmi menyadari bahwa tindakannya menikah siri telah melukai perasaan sang istri dan menghancurkan kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Dhena Devanka Klarifikasi soal Dituding Jadi Selingkuhan Anton Subowo: Hey Buzzer Bayaran!
“Saya sadar, saya telah menghancurkan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun, serta menimbulkan kegaduhan yang membebani istri dan keluarga besar. Dari lubuk hati terdalam, saya mengakui penyesalan saya,” katanya.
Lebih lanjut, Insanul Fahmi juga mengakui kegagalannya dalam menjaga amanah dan kehormatan rumah tangga. Ia menyebut bahwa keputusannya dilandasi oleh ego pribadi, tanpa mempertimbangkan dampak emosional yang harus ditanggung oleh Wardatina Mawa dan keluarga besar.
“Saya menyesal telah membiarkan ego saya melukai banyak pihak. Saya paham, berjuta kata maaf mungkin tidak cukup untuk menghapus air mata dan rasa sakit yang telah timbul,” ungkapnya.
Permohonan maaf ini disebut Insanul Fahmi sebagai bentuk tanggung jawab dan keberaniannya sebagai seorang laki-laki dalam mengakui kesalahan, tanpa berusaha membela diri atau menyalahkan pihak lain.
“Saya tegaskan di sini, tidak ada pihak lain yang patut disalahkan selain diri saya sendiri. Segala kekacauan ini adalah murni tanggung jawab saya sebagai laki-laki,” tegas Insanul Fahmi.
Pernyataan tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi proses perdamaian antara dirinya dan Wardatina Mawa, meski proses hukum yang berjalan masih menjadi bagian dari konsekuensi atas perbuatannya. (ce2)











