Oleh: Dahlan Iskan
Perkembangan terbaru: minyak goreng canola membunuh zaitun.
Akhirnya ada pejabat Amerika yang blak-blakan: “globalisasi telah merugikan Amerika”. Yang mengatakan itu Howard Lutnick. Ia menteri perdagangan. Ia pengikut garis keras: anti globalisasi.
Lutnick mengatakan itu di forum sangat penting dunia: Davos. Yang kemarin berlangsung di Davos, Swiss.
Ya sudah.
Berarti jelas.
Amerika tidak setuju dengan globalisasi. Bukan saja tidak setuju. Sudah melakukan langkah tarik diri dari globalisasi.
Maka berakhirlah sudah globalisasi.
Berarti kita memasuki dunia baru tanpa globalisasi. Semua negara diminta memikirkan diri masing-masing.
Dalam hati, saya mengakui itu: Amerika kalah di era globalisasi. Sejak terjadi globalisasi banyak negara miskin naik kelas. Utamanya Tiongkok. Bukan saja naik kelas tapi loncat galah. Bukan naik tangga tapi naik lift.
Dulu jarak kemakmuran antara Amerika dan Asia ibarat langit dan sumur. Lama-lama jarak itu menyempit. Amerika masih terus maju tapi negara seperti Tiongkok majunya pesat. Jarak kian dekat. Bahkan Anda pun meramalkan Tiongkok akan mengalahkan Amerika.
Dengan berakhirnya globalisasi orang harus berhitung lagi: apakah Amerika bisa membuat jarak itu melebar lagi. Apakah Asia akan miskin lagi.
Tiongkok sendiri pada awalnya juga tidak mau globalisasi. Bahkan untuk masuk lembaga perdagangan dunia seperti WTO-pun tidak mau. Justru negara maju yang terus memaksa Tiongkok masuk WTO.
Negara yang paling marah oleh sikap baru Amerika itu ternyata bukan Tiongkok. Ia adalah Kanada. Tetangga terdekat Amerika sendiri.
Awalnya Kanada tidak percaya Amerika bisa berubah sikap pada Kanada. Dua negara itu sudah ibarat pinang terbelah dua yang sudah dilem lagi. Di antara dua negara itu orang dan barang saling wirawiri hampir tanpa batas.
Kanada pun masih tidak langsung percaya Amerika benar-benar berubah sikap. Kanada tidak mau terlalu bereaksi atas sikap baru Amerika. Ia tunggu kebenaran sejatinya. Delapan bulan lamanya Kanada menunggu: jangan-jangan Amerika masih bisa diajak berunding.
Ternyata yang ditunggu tidak datang. Amerika terus melancarkan “humor” ingin menjadikan Kanada sekadar negara bagiannya yang ke-51.
Sedikit saja Kanada merespons negatif ada saja “hukuman” tambahan yang dijatuhkan Amerika ke Kanada.
Salah satu hukuman tambahan itu menggunakan alasan yang sangat sepele. Soal iklan di televisi: salah satu gubernur di Kanada pasang iklan di TV Amerika. Isinya: ucapan Presiden Amerika masa lalu, Ronald Reagan, bahwa proteksi itu antikemajuan. Kanada dianggap menggunakan mantan Presiden Amerika untuk menyerang kebijakan Presiden Amerika yang sekarang.
Setelah menanti delapan bulan akhirnya Kanada ambil kesimpulan: Amerika tidak bisa lagi diandalkan sebagai sahabat. Persahabatan lama sudah berakhir. Bahkan Kanada merasa sedang benar-benar dimusuhi Amerika.
Maka Kanada ambil jalan baru: datang ke musuh awal Amerika. Anda sudah tahu siapa dia: Tiongkok.
Jalan barunya itu sampai melupakan misi mulianya di bidang demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Dia tidak peduli lagi Tiongkok itu komunis. Dia seperti begitu saja melupakan hubungannya yang tegang dengan Tiongkok. Termasuk melupakan dua warganya yang ditangkap di sana.
Tiongkok sendiri juga demikian. Seperti melupakan peristiwa menyakitkan hatinya: yakni ketika Meng Wanzhou, putri pemilik Huawei ditangkap ketika transit di bandara Vancouver, Kanada.
Pekan kemarin Mark Carney, perdana menteri Kanada, datang ke Beijing. Mesra sekali. Keduanya lagi saling cari teman. Keputusan besar pun diambil. Kanada mengijinkan mobil listrik Tiongkok masuk ke sana. Jumlahnya sampai 49.000. Sebaliknya Tiongkok bersedia mengimpor canola dari Kanada. Jumlahnya fantastis.
“Tiongkok adalah partner yang bisa dipercaya dan diandalkan,” ujar Carney. Artinya: Amerika tidak bisa dipercaya dan diandalkan. Lem di pinang itu pun meleleh.
Kanada memang produsen canola terbesar di dunia: sekitar 30 juta ton per tahun. Banyak petani gandum Kanada beralih ke canola. Dengan hektare yang sama nilai jual canola bisa 20 persen lebih tinggi dari menanam gandum.
Kanada memang negara pertama yang memproduksi canola. Bahkan canola sendiri singkatan dari Canada oil low acit.
Awalnya canola tanaman kuno: bernama rapeseed. Memang, sejak zaman dulu, bijinya yang sekecil kacang hijau itu bisa dibuat minyak goreng. Tapi berbahaya: acit-nya tinggi.
Seorang ahli di Kanada, Baldur R. Stefansson, lantas berhasil merekayasanya: kadar acit-nya dibuang. Rapeseed pun jadi canola.
Minyak goreng canola pun laris. Sangat bagus untuk kesehatan. Omega3-nya tinggi. Susunan kimiawinya tidak rusak biar pun dipanaskan.
Ini berbeda dengan olive oil (minyak zaitun). Harganya mahal. Kalau dipakai menggoreng, khasiat zaitunnya rusak. Apalagi kalau sampai suhu tinggi. Minyaknya sampai mendidih. Khasiatnya merosot.
Maka di Amerika canola mendapat gelar sebagai “pembunuh” zaitun. Terutama di saat harga-harga kebutuhan pokok naik seperti sekarang ini. Zaitun dianggap sudah terlalu mahal. Harus hanya dipakai untuk dijadikan olesan segar: terutama untuk salad.
Kanada tidak lagi bisa jualan canola ke Amerika. Bisa. Tapi dengan tarif Trump jatuhnya menjadi mahal.
Carney jadi bintang paling cemerlang di Forum Davos. Ups…ada bintang lainnya: Ursula von der Leyen. Dia Presiden Uni Eropa. Pidatonya juga sangat tegas: Eropa harus independen dari Amerika. Termasuk di bidang pertahanan. Mendengarkan pidato von der Leyen hati saya tergetar: tatanan lama dunia sudah bubar. Padahal tatanan baru belum mewujud.
Presiden Donald Trump kehilangan pamor di Forum Davos kali ini. Para pemimpin bisnis dunia antre ingin bertemu Carney. Trump diabaikan.
Memang akhirnya terbukti: Amerika kalah dalam globalisasi. Tapi tanpa globalisasi belum tentu juga Amerika lebih baik dari sekarang.
Kejayaan itu bertahan sejak Amerika meninggalkan emas. Amerika menggantikan emas dengan dolarnya. Dunia pun terjebak ke dalam dolar Amerika.
Dari Forum Davos Anda bisa ambil kesimpulan: kini dunia terbelah menjadi tiga blok –Amerika, Tiongkok-Rusia, dan Uni Eropa.
Amerika Latin jadi rebutan tiga-tiganya. Venezuela dan Argentina kelihatannya ikut Amerika. Brasil, Peru, ikut Tiongkok. Kanada ikut Eropa.
Indonesia disebut sekali dalam pidato Ursula von der Leyen –sudah menandatangani perdagangan bebas dengan Eropa. Pun beberapa negara Amerika Latin. Juga Thailand dan Malaysia. “Minggu depan dengan India,” katanyi.
“Eropa perlu negara-negara itu. Negara-negara itu juga perlu Eropa,” ujar Leyen.
Di mana posisi Singapura? Selama ini di blok Amerika. Di peta dunia yang baru Singapura bisa terkucil dari lingkungannya.
Tidak menyangka dunia berubah secepat ini. Biarlah. Tidak apa-apa. Apa boleh buat. Kita harus mulai siap dengan hidup baru. Yang penting jangan perang. (Dahlan Iskan)











