RADARBEKASI.ID, JAKARTA – Perbincangan mengenai “Whip Pink” mendadak ramai di media sosial setelah sejumlah warganet mengaitkannya dengan kasus meninggalnya seorang selebgram.
Banyak publik yang terkejut ketika mengetahui bahwa benda yang disebut-sebut berbahaya tersebut ternyata bukan obat terlarang, bukan pula pil diet, melainkan tabung gas yang selama ini dikenal sebagai alat dapur untuk membuat whipped cream.
Kebingungan publik juga dirasakan oleh tenaga medis. Dokter Dion Haryadi, PN1, CHC, AIFO-K, mengaku menerima banyak pesan langsung dari warganet yang menanyakan tentang produk tersebut.
“Pagi ini saya dapat banyak DM yang menanyakan soal ini. Awalnya saya kira obat diet atau semacamnya. Tapi setelah dicek, ternyata ini tabung untuk bikin whipped cream,” ujar dr. Dion dalam penjelasannya melalui Instagram, dikutip Senin (26/1/2026).
Tabung whipped cream tersebut berisi nitrous oxide (N₂O), gas yang sejatinya digunakan secara legal dan sah di dua bidang utama: kuliner dan medis. Di dapur profesional, nitrous oxide berfungsi untuk membuat krim mengembang dan menghasilkan tekstur busa yang lembut.
Sementara di dunia medis, gas ini dikenal sebagai anestesi ringan dan pereda nyeri, yang penggunaannya dilakukan dengan standar ketat.
Namun, persoalan muncul ketika nitrous oxide digunakan di luar fungsi aslinya.
“Tabung whipped cream ini sering disalahgunakan karena kandungan NO di dalamnya. Nitrous oxide punya efek sedatif ringan, bisa bikin tenang, sensasi melayang, dan sedikit euforia secara akut. Itu sebabnya sering disebut laughing gas atau gas tawa,” jelas dr. Dion.
Efek yang cepat dan berlangsung singkat inilah yang kerap menipu banyak orang. Karena gas ini digunakan untuk makanan dan bahkan dipakai di rumah sakit, muncul anggapan bahwa penggunaannya relatif aman.
Padahal, konteks pemakaiannya sangat berbeda. Menghirup nitrous oxide secara langsung, tanpa campuran oksigen, dapat membuat tubuh mengalami kekurangan oksigen dalam waktu singkat.
Baca Juga: Chat Terakhir Lula Lahfah ke Keanu Agl Ungkap Kondisi Sang Sahabat: Gue Takut Banget
“Penggunaan akut sesekali mungkin terlihat tidak terlalu bermasalah, tapi penggunaan kronis, rutin, dan jangka panjang bisa menyebabkan masalah kesehatan serius,” lanjut dr. Dion.
Dampak penyalahgunaan nitrous oxide tidak bisa dianggap sepele. Mulai dari gangguan saraf seperti kesemutan, gangguan keseimbangan, hingga kerusakan sistem persyarafan. Dalam kondisi tertentu, penggunaan gas ini juga dapat memicu gangguan mood, pingsan, serta hipoksia, kondisi berbahaya ketika tubuh kekurangan oksigen. Pada kasus ekstrem, risiko tersebut dapat berujung fatal.
Hal yang sering luput dari pemahaman publik adalah fakta bahwa di dunia medis, nitrous oxide tidak pernah digunakan secara sembarangan.
“Saat dipakai sebagai anestesi, N₂O selalu dicampur dengan oksigen, dosisnya diatur ketat, dan pasien dimonitor langsung oleh dokter,” tegas dr. Dion. T
anpa pengawasan medis dan tanpa suplai oksigen tambahan, risiko penggunaan gas ini meningkat drastis.
Di sisi lain, popularitas “Whip Pink” di media sosial turut memperkeruh persepsi. Produk nitrous oxide ini dipasarkan dengan visual mencolok, warna pink dominan, estetika playful, serta narasi yang terasa dekat dengan gaya hidup urban dan hiburan.
Dari tampilan media sosialnya, produk ini seolah diposisikan sebagai bagian dari lifestyle, bukan sekadar alat dapur.
Bahkan di situs penjualannya, produk tersebut diklasifikasikan secara spesifik berdasarkan wilayah seperti Jakarta dan Bali, dua kota yang kerap diasosiasikan dengan pusat gaya hidup, hiburan, dan pesta.
Pola pemasaran ini memunculkan pertanyaan publik, jika benar ditujukan untuk baker atau kebutuhan dapur, mengapa pendekatan visual dan segmentasinya justru terasa sangat lifestyle-oriented?
Penting untuk ditegaskan bahwa whipped cream dan busa bukanlah musuh. Nitrous oxide tetap aman dan bermanfaat jika digunakan sesuai fungsinya, yaitu di dapur oleh profesional kuliner, atau di ruang medis dengan pengawasan ketat. Masalahnya bukan terletak pada alat atau zatnya, melainkan pada cara dan tujuan penggunaannya.
Baca Juga: Ramalan Hard Gumay Ramai Dikaitkan dengan Kematian Lula Lahfah, Begini Faktanya!
Seperti yang disampaikan dr. Dion, memahami konteks dan risiko adalah kunci. Sensasi melayang yang hanya berlangsung beberapa detik tidak sebanding dengan potensi kerusakan saraf permanen, apalagi kehilangan nyawa.
Ketika tubuh kekurangan oksigen, tidak ada filter media sosial, narasi visual, atau popularitas yang bisa menyelamatkan. (ce2)











