RADARBEKASI.ID, BEKASI – Anggota DPRD Kabupaten Bekasi, Ombi Hari Wibowo, menilai banjir merupakan bencana hidrometeorologi yang akrab dengan kehidupan masyarakat Kabupaten Bekasi.
Setiap musim hujan, genangan air di jalan raya dan pemukiman hingga lumpuhnya aktivitas ekonomi menjadi peristiwa berulang.
Ombi menekankan, banjir Bekasi bukan hanya persoalan teknis drainase, melainkan juga terkait tata ruang, urbanisasi, budaya masyarakat, dan perubahan iklim. Penyebabnya kombinasi faktor hidrometeorologi, geologi, dan antropogenik.
Faktor hidrometeorologi, kata dia, curah hujan ekstrem menjadi pemicu utama, diperparah luapan air dari wilayah hulu, khususnya Bogor. Bekasi dialiri sedikitnya 16 sungai dan kali, termasuk Sungai Citarum, Cibeet, Cileungsi, Kali Bekasi, Ciherang, Cikarang, Kali Sadang, Kali Cilemahabang, Sungai Cijambe, Kali Rasmi, Kali Ulu, dan Kali Pisang Batu.
Faktor geologi dan geografis, lanjut dia, Bekasi merupakan wilayah dataran rendah dan pesisir. Sedangkan faktor antropogenik, urbanisasi pesat sejak 1990-an mengubah lahan rawa, sawah, dan daerah resapan menjadi pemukiman, jalan raya, dan kawasan industri.
Selain itu, Ombi menilai kebijakan penanggulangan banjir masih cenderung reaktif dan berfokus pada infrastruktur fisik, tanpa menyentuh akar persoalan tata ruang dan perilaku masyarakat.
“Penanggulangan banjir Bekasi memerlukan perubahan paradigma,” ujarnya.
Pertama, dibutuhkan visi jangka panjang lintas generasi, tidak sebatas proyek lima tahunan. Kedua, integrasi antara solusi teknis dengan pendekatan sosial dan ekologi. Ketiga, revitalisasi kearifan lokal dan penataan kawasan sungai, termasuk penertiban pemanfaatan daerah sempadan sungai (DSS) secara humanis dan berkeadilan. Keempat, peningkatan literasi bencana dan partisipasi publik.
Di sisi lain, politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menjelaskan, sejarah mencatat banjir sudah terjadi di Bekasi sejak masa Kerajaan Tarumanegara abad ke-5 Masehi, sebagaimana tertulis dalam Prasasti Tugu. Pada masa kolonial, banjir hampir selalu melanda Bekasi setiap musim penghujan, dan kondisi ini terus berlanjut hingga sekarang.
“Tanpa komitmen kuat dari seluruh pihak pemerintah dan masyarakat, jalan menuju resiliensi hanya akan menjadi wacana. Namun dengan refleksi sejarah, inspirasi global, dan adaptasi lokal, Bekasi masih memiliki peluang untuk membangun ketangguhan menghadapi banjir, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi mendatang,” sambung Wakil Rakyat dari arena tarung Dapil II ini. (pra)











