Berita Bekasi Nomor Satu

Xi Jinping Singkirkan Jenderal Kepercayaan, Pakar Ungkap Ada Perebutan Kekuasan

Xi Jinping dan para pemimpin militer menghadiri sebuah upacara pada Desember lalu. Dari kiri ke kanan di barisan depan terlihat Zhang Shengmin, Xi Jinping, Zhang Youxia, dan Liu Zhenli. Foto: The Guardian.

RADARBEKASI.ID, BEIJING – Presiden Tiongkok Xi Jinping ‘menyingkirkan’ orang kepercayaannya sekaligus perwira militer senior tertinggi kedua di Tiongkok, Zhang Youxia. Sejumlah kalangan menilai,  langkah Xi Jinping ini dinilai bukan sekedar ada dugaan korupsi di level elite Tiongkok. Lebih dari itu, situasi ini menandai babak baru konsolidasi kekuasaan di jantung Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Langkah Beijing menempatkan Zhang di bawah penyelidikan resmi dinilai para pakar bukan sekadar bagian dari kampanye antikorupsi, melainkan refleksi pertarungan kekuasaan di pucuk elite militer.

Sebagai Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (Central Military Commission/CMC), Zhang menempati posisi strategis tepat di bawah Xi Jinping yang juga menjabat panglima tertinggi. Kedekatan fisik dan politik Zhang dengan Xi kerap terlihat dalam upacara-upacara militer negara, termasuk pada akhir Desember lalu, hanya beberapa pekan sebelum penyelidikan diumumkan.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (27/1/2026), Kementerian Pertahanan Tiongkok menyatakan Zhang Youxia dan Jenderal Liu Zhenli, anggota CMC lainnya tengah diselidiki atas dugaan “pelanggaran serius terhadap disiplin dan hukum,” istilah resmi Partai Komunis Tiongkok yang lazim digunakan untuk kasus korupsi tingkat tinggi. Namun, editorial harian resmi militer, PLA Daily, menekankan bahwa keduanya “secara serius mengkhianati kepercayaan dan harapan” partai serta CMC.

BACA JUGA: Xi Jinping Bersih-bersih Orang Dekatnya dan Elite Militer, Jenderal Zhang Youxia Dituduh Jadi Spionase AS

Editorial tersebut juga menyebut Zhang dan Liu “menimbulkan persoalan politik dan korupsi yang merusak kepemimpinan mutlak partai atas militer.” Penekanan pada aspek politik ini memperkuat dugaan bahwa penyelidikan tidak berdiri semata pada praktik korupsi finansial, melainkan menyentuh isu loyalitas dan keseimbangan kekuasaan internal.

Neil Thomas, peneliti politik Tiongkok di Asia Society, menilai langkah ini sebagai peristiwa luar biasa. “Sulit melebih-lebihkan betapa jarangnya kasus ini. Ini adalah pembersihan militer paling signifikan sejak era Mao Zedong,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Menjatuhkan tangan kanan Xi di militer menunjukkan adanya pengkhianatan serius terhadap kepercayaan Xi.”

Pandangan serupa disampaikan Alfred Wu, dosen National University of Singapore. Menurutnya, fakta bahwa Zhang kembali diangkat ke CMC pada Kongres Partai ke-20 tahun 2022 meski telah melewati usia pensiun menunjukkan bahwa ia masih dipercaya hingga relatif baru-baru ini.

“Korupsi tidak terjadi dalam semalam,” kata Wu, menegaskan bahwa faktor politik kemungkinan besar berperan.

Selain itu, Zhang merupakan figur senior dalam rangkaian pembersihan pejabat tinggi PLA beberapa tahun terakhir. Ia disebut-sebut terkait dengan promosi Li Shangfu, mantan menteri pertahanan yang didepak dari CMC pada 2023 dan dipecat dari Partai Komunis setahun kemudian. Keterkaitan ini ikut menyeret Zhang ke pusaran penyelidikan.

Dennis Wilder, peneliti senior di Georgetown University dan mantan analis Badan Intelijen Pusat AS (CIA), secara tegas menyebut perebutan kekuasaan sebagai faktor utama.

“Ini bukan soal korupsi dan bukan pula soal kebocoran rahasia. Ini tentang seorang jenderal yang menjadi terlalu kuat,” ujarnya.

Bagi Xi Jinping, pengendalian mutlak atas militer merupakan pilar utama kekuasaannya. Zhang, yang berasal dari kelompok elite keturunan tokoh revolusi Partai Komunis Tiongkok, selama ini dianggap memiliki perlindungan politik yang kuat.

Ia juga termasuk sedikit jenderal Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang memiliki pengalaman tempur langsung, yakni dalam konflik Tiongkok–Vietnam pada 1978. Namun, latar belakang tersebut tampaknya tidak lagi memberi jaminan politik.

“Bagi Xi, tidak ada yang lebih penting daripada memperkuat disiplin partai dan memastikan militer tidak menyimpang seperti Partai Komunis Soviet. Tidak ada individu yang kebal, karena Xi menempatkan partai di atas segalanya,” kata Thomas.

Dampak pembersihan ini meluas hingga ke luar Tiongkok. Analis Barat mempertanyakan implikasinya terhadap modernisasi militer Tiongkok dan kesiapan menghadapi kemungkinan konflik, terutama terkait Taiwan. Intelijen Amerika Serikat meyakini Xi telah memerintahkan PLA siap menghadapi skenario konflik pada 2027.

Sebagian pakar berpendapat pembersihan elite justru melemahkan kapasitas pengambilan keputusan jangka pendek. Namun, pihak lain mengingatkan bahwa posisi Zhang bisa segera diisi oleh perwira yang lebih muda, lebih agresif, dan lebih patuh pada garis Xi.

Lyle Goldstein, Direktur Program Asia di lembaga kajian Defense Priorities, memperingatkan agar dunia tidak keliru membaca dampak perombakan elite militer di Beijing.

“Akan menjadi kesalahan besar jika menganggap militer Tiongkok kekurangan perwira senior yang cakap atau menjadi kurang berbahaya akibat pembersihan ini,” ujarnya. Ia menilai, pameran senjata terbaru Beijing justru menunjukkan kapasitas militer Tiongkok tetap kuat.

 

Satu hal yang relatif disepakati para pengamat: penyelidikan ini tidak akan berhenti pada Zhang dan Liu. Korupsi dan patronase dipandang sebagai bagian struktural dari sistem politik Tiongkok.

 

“Penangkapan lanjutan sangat mungkin terjadi,” kata Wu, menandakan bahwa pembersihan militer di era Xi Jinping masih jauh dari selesai. (rbs/jpc)