RADARBEKASI.ID, BEKASI – Migrain umum dikenal dengan istilah sakit kepala sebelah. Walaupun sama-sama “sakit kepala”, sering kali gejala penyertanya berbeda, pun penyebabnya. Memahami pemicu serta gejala akan membantu Anda dalam mengatasi kondisi ini.
Menurut Spesialis Saraf Eka Hospital Bekasi, dr. Novrialdi Kesuma Putra, Sp.N, migrain adalah jenis sakit kepala yang terasa berdenyut dan umumnya terjadi di salahsatu sisi kepala saja.
Ia menjelaskan, umumnya orang yang mengalami migrain cenderung lebih sensitif terhadap cahaya dan suara. Dibandingkan sakit kepala biasa, migrain cenderung lebih melemahkan.
“Migrain biasanya dapat hilang dalam waktu 4 jam, meski dalam beberapa kasus bisa bertahan berhari-hari,” jelasnya saat temu media, Kamis (29/1).
Perbedaan Migrain dan Sakit Kepala Biasa
Menurutnya, sakit kepala adalah kondisi ketika kepala terasa berat, tertekan, dan nyeri. Sementara migrain adalah salah satu bentuk sakit kepala, tetapi dipisahkan karena intensitas nyerinya yang cenderung lebih hebat. Ada beberapa perbedaan mendasar antara migrain dan sakit kepala biasa.
Pertama, lokasi nyeri. Sakit kepala biasa sering terasa di seluruh kepala, dengan fokus di dahi, pelipis, atau leher bagian belakang. Migrain biasanya hanya terjadi di salah satu sisi kepala. Kedua, tipe nyeri. Sakit kepala biasa memberikan sensasi seperti ditekan atau berat, sementara migrain terasa berdenyut. Ketiga, intensitas nyeri.
Sakit kepala biasa bisa ringan hingga berat, sedangkan nyeri migrain cenderung sedang hingga berat. Keempat, durasi nyeri. Sakit kepala biasa biasanya berlangsung 5 menit hingga 4 jam, sedangkan migrain bisa berlangsung 4 jam hingga berhari-hari, bahkan kadang hingga hitungan bulan.
“Walau mirip, pemicu sakit kepala biasa dan migrain memiliki sedikit perbedaan. Sakit kepala biasa umumnya dipicu oleh stres, kecemasan, mata lelah, hingga otot yang tegang,” jelasnya.
Sementara, migrain dapat dipicu oleh kecemasan, kurang tidur, melewatkan waktu makan, perubahan hormon, perubahan ketinggian, perubahan tekanan udara, konsumsi kafein atau alkohol berlebihan, serta penggunaan alat kontrasepsi hormonal.
Jenis-Jenis Migrain
Terdapat dua jenis migrain yang umum, yaitu migrain dengan aura dan migrain tanpa aura. Aura adalah sensasi yang muncul 10–30 menit sebelum serangan migrain, misalnya kesulitan fokus, melihat kilatan cahaya atau garis tidak biasa, kesemutan atau mati rasa di wajah atau tangan, serta perubahan sensasi pada penciuman, pengecap, dan sentuhan.
Gejala Migrain
Dikatakannya, migrain biasanya terdiri atas empat fase, dengan gejala yang berbeda di tiap fase. Pada fase aura, gangguan visual atau sensasi aneh di tubuh dapat muncul beberapa menit hingga satu jam sebelum serangan migrain. Gejala meliputi gangguan penglihatan, kehilangan penglihatan sementara, kesemutan di lengan atau kaki, kelemahan atau mati rasa di wajah atau salah satu sisi tubuh, dan gangguan bicara.
Fase serangan migrain dapat berlangsung 3 jam hingga 2–3 hari, atau lebih jika tidak ditangani. Gejala yang muncul termasuk sakit kepala sebelah, nyeri berdenyut, sensitif terhadap cahaya, suara, bau, atau sentuhan, serta mual dan muntah.
Penyebab Migrain
Hingga kini, ungkap dia, penyebab pasti migrain belum diketahui. Faktor genetik dan lingkungan diduga berperan utama. Kondisi yang meningkatkan risiko migrain antara lain perubahan hormon, konsumsi alkohol atau kafein berlebihan, stres, rangsangan sensorik berlebihan (suara bising, lampu kilat, bau kuat), perubahan pola tidur, aktivitas fisik berlebihan, perubahan cuaca, obat-obatan tertentu, makanan tinggi garam atau olahan, dan bahan tambahan makanan seperti MSG atau pemanis aspartam.
“Apabila telah melakukan berbagai sakitnya tetap terasa, cobalah untuk berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan membantu Anda memahami penyebab migrain yang Anda alami dan memberikan pengobatan yang tepat,” pungkasnya. (oke)











